Menteri Urusan Perempuan Irak Mundur

Standard

Lihat versi English

Baghdad, 6/2 – Menteri urusan perempuan Irak hari Kamis mundur sebagai protes terhadap kurangnya sumber untuk mengatasi “laskar janda, wanita pengangguran, perempuan yang tertindas dan ditahan” setelah bertahun-tahun perang sektarian.

Nawal as-Samarai mengatakan statusnya sebagai menteri negara dan bukan menteri penuh mencerminkan rendahnya perhatian yang diberikan oleh pemerintah pada keadaan buruk wanita di Irak, yang pernah menjadi salah satu negara paling progresif di Timur Tengah untuk urusan hak-hak wanita.

“Kementerian ini dengan haknya sekarang ini tidak dapat mengatasi kebutuhan wanita Irak,” kata Samarai, yang ditunjuk Juli.

“Kami memiliki banyak masalah berkaitan dengan wanita Irak. Kami memiliki lasykar janda, wanita tunakarya, tertindas dan wanita tahanan. Saya merasa seperti saya duduk di kursi kementerian yang menikmati hak-hak istimewa dari seorang menteri tapi saya tidak dapat berbuat sebagai seorang menteri,” ia mengatakan.


Bertahun-tahun pembunuhan sektarian antara mayoritas Muslim Syiah dan Arab Sunni Irak, yang mendominasi negara itu sebelum pasukan AS menggulingkan Saddam Hussein pada 2003, telah menimbulkan tekanan besar pada keluarga.

Hak-hak wanita menderita di sejumlah daerah tempat gerilyawan Islam Sunni memegang kekuasaan pada puncak aksi perlawanan, dan di sejumlah daerah lain ketika partai keagamaan mendominasi Irak setelah jatuhnya Saddam.

Partai-partai agama sebegian besar kalah dalam pemilihan provinsi pada 31 Januari, tapi terlalu dini untuk mengatakan berapa banyak wanita akan berhenti dengan kursi di dewan regional atau apa kemungkinan pengaruh politik mereka.

Kelompok-kelompok wanita telah mengeluhkan sistem baru yang digunakan dalam pemilihan tahun ini yang berarti wanita akan memperoleh kusri lebih sedikit ketimbang pada pemilihan daerah terakhir pada 2005.

As-Samarai mengatakan departemennya hanya diberi satu kantor di Zona Hijau, yang dijaga sangat ketat di Baghdad, tempat banyak kantor pemerintah dan kedutaan besar asing berada. Ia tidak memiliki kantor di provinsi tempat kebutuhan wanita paling besar.

“Karena tidak ada satu kantor pun di provinsi, bagaimana dapat wanita Irak mencapai saya atau mengirimkan pada saya keluhannya,” ia mengatakan.
(sumber ANTARA/Reuters)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s