Yang Terlupakan

Standard

Tahukah Sahabat! Ada hal yang telah terlupakan oleh masyarakat kita di bumi ibu pertiwi ini. Semoga saja tidak oleh seluruh bangsa ini. Amin. Saya juga lupa sich tentang hal ini. Atawa lebih tepatnya baru mendengar. He..he..

Ini dia. Sebagai informasi ya, Sahabat! Bahwasanya pada tanggal 02 Pebruari tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Lahan Basah Sedunia. Tingkat Internasional loeh. Tapi mari kita cermat sejenak. Nggak usahlah dibincangkang tingkat apa peringatan ini. Bahwasanya seberapakah pentingnya keberadaan lahan basah di bumi ini. Serta juga sampai dimana kepedulian kita terhadap lingkungan, secara umum saja.

Merenung sejenak yuk!

Mari kita terlusuri lebih dalam tentang ekosistem lahan basah. Lahan basah atawa dalam bahasa kerennya sering disebut wetland merupakan suatu wilayah dimana banyak genangan air baik terjadi secara alami maupun buatan, tetap maupun sementara, mengalir maupun tergenang, tawar atawa asin maupun payau, termasuk wilayah laut yang kedalamannya kurang dari enam meter pada saat air surut paling rendah. Agak panjang pengertiannya ya. Kalau Sahabat ingin informasi yang sangat lengkap dan super akurat tentang lahan basah, silakan kunjungi situs http://www.wetlands.or.id/, info dari situs ini sangat lengkap dan pastinya berguna.

Adapun lahan basah yang sering dijumpai dalam kehidupan kita sehari-hari dan banyak menjadi sorotan biasanya berbentuk lahan gambut, rawa, hutan bakau, lahan basah pertanian dan persawahan, danau serta situ. Tahu nggak, apa itu ‘situ’. Telaga. Jangan bingung dunk’ Sahabat. Situ berasal dari Bahasa Sunda yang artinya telaga.

Coba perhatikan deh, wilayah yang disebutkan diatas sekarang ini udah sangat jarang ditemui. Jikalaupun ada keadaannya udah sangat memprihatinkan dan terbengkalai. Padahal, tahu nggak Sahabat, manfaat dan kegunaan dari ekosistem lahan basah ini sangat besar loeh. Antara lain mencegah banjir; mencegah abrasi pantai seperti manfaat pada hutan bakau; mencegah intrusi air laut; menghasilkan material yang dapat bernilai ekonomis seperti kayu pada hutan bakau juga; menyediakan kebutuhan manusia akan air, irigasi, MCK seperti kegunaan akan danau; sebagai sarana transportasi seperti kegunaan sungai pada rawa; sebagai lokasi pendidikan dan penelitian. Sungguh jelas sekali manfaat dari wilayah lahan basah ini, kan.

Lahan basah di Indonesia sendiri sebenarnya merupakan yang terluas di Asia, yakni sekitar 38.000.000 ha. Itu pun kian hari kian terkikis keberadaannya. Paling banyak terdapat di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Namun meskipun menjadi yang teeluas di Asia, ekosistem lahan basah ini sangat memprihatinkan keadaannya. Antara lain akibat dari kepentingan ekonomi yang tidak diolah dengan arif dan bijaksana. Yakni telah terjadi pengurangan sejumlah lebih kurang sepuluh juta hektar lahan basah dari sebelumnya 40,5 juta hektar. Ini terjadi semenjak sepuluh tahu terakhir semenjak tahun 1994.

Jadi Sahabat, sungguh prihatin kan dengan pengurangan jumlah ini. Istilahnya untuk deficit lingkungan ini biasa disebut dengan deforestasi. Lau bagaimana penanganannya? Hmm.. Kalo ini yang sulit dari dulu. Karena nggak bisa dilakukan dengan main-main atawa setengah-setengah apa lagi angat-angat tahi ayam. Pemerintah perlu membuat pengawasan yang ketat terkait setiap alih fungsi lahan. Lahan apa pun itu dan baik pemerintah pusat mapun daerah.

Para kontraktor yang ingin mengalihfungsikan lahan menjadi perumahan misalnya, haruslah arif dan bijak dalam mengelola AMDAL-nya. Ini kan demi kelangsungan hidup bersama. Janganlah hanya mau menang sendiri demi kekayaan sendiri saja. Kalaupun perumahan yang dibangunnya bagus namun lingkungan disekitarnya tidak asri, pelanggan pun akan enggan untuk membelinya. Ya kan?

Jadi masalah lingkungan adalah masalah bersama yang harus ditangani bersama. Sebenarnya pemerintah daerahlah yang harusnya menjadi ujung tombak dalam penyelamatan lingkungan. Lingkungan apa pun itu. Karena sekarang ini segala bentuk perizinan berada pada pemerintah daerah tanggung jawabnya

Satu hal lagi yang dikritisi, bahwa masalah lingkungan tidak pernah memandang batas wilayah. Dia tidak pandang batas territorial. Jadi perlu adanya kerjasama masing-masing pemerintah daerah jikalau masalah lingkungannya berada di perbatasan wilayah. Janganlah sampai terjadi suatu daerah punya komitmen yang tinggi dalam penanggulangn lingkungan sedangkan daerah tetangganya tidak peduli sama sekali dan lantas penangannya malah jadi terhambat.

Sebenarnya sich masalah seperti diatas kerap terjadi. Tapi semoga tidak berkepanjangan dan tidak terulang lagi. Amin.

Nah, sekarang Sahabat semua harus sadar akan lingkungan ya. Begitu juga dengan saya sendiri sich. Dan saya juga nggak mau lalai lagi akan keadaan lingkungan. Maka sebagai informasi dan untuk mengingatkan aja nich, bahwa pada 20 Maret nanti akan diperingati sebagai Hari Kehutanan Sedunia. Jangan lupa ya. Kita doakan aja supaya masyarakat semakin sadar akan lingkungan dan pemerintah pun berupaya semaksimal mungkin untuk perbaikan lingkungan.

Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s