Ulama Pakistan Desak Pembebasan Tahanan di Swat

Standard

Mingora, Pakistan, 2/3 – Seorang ulama garis keras yang bertindak sebagai tokoh perdamaian di Lembah Swat, Pakistan, hari Minggu mengancam akan melakukan protes, kecuali jika pemerintah dan Taliban membebaskan tahanan-tahanan mereka.

Gerilyawan Taliban mengumumkan gencatan senjata dan pasukan Pakistan menghentikan operasi militer mereka di Swat bulan lalu setelah ulama Maulana Sufi Mohammad mencapai sebuah perjanjian dengan pemerintah Provinsi Perbatasan Baratlaut untuk memberlakukan hukum Islam di kawasan tersebut.

Para pengecam di negara-negara Barat dan Pakistan khawatir bahwa dengan disetujuinya pemberlakuan hukum Islam di Swat, pemerintah berisiko mendorong militan muslim mengambil kebijakan penenteraman.

Mohammad menetapkan batas waktu 10 Maret bagi pemerintah dan Taliban untuk membebaskan tahanan masing-masing, namun ia juga menuntut pemerintah memegang komitmen mereka untuk melaksanakan hukum Islam jika perdamaian dipulihkan.

“Kami juga meminta pemerintah melaksanakan Nifaz-e-Adl (sebuah sistem keadilan Islam) sebelum 15 Maret, dan setelah batas waktu itu kami akan melakukan protes,” kata Mohammad pada jumpa pers di Mingora, sebuah kota utama di Lembah Swat.

Mohammad bulan lalu mendesak pasukan keamanan dan militan membebaskan tahanan dan membongkar rintangan jalan, dan menuntut agar pasukan yang ditempatkan di sekolah, rumah, masjid dan rumah sakit dipindahkan ke “tempat yang lebih aman”.

Namun, ia mengungkapkan kekecewaan atas apa yang disebutnya kelambananan sikap pemerintah dan penundaan pemberlakuan hukum sharia di Swat, daerah yang dulu tujuan wisata yang terletak hanya 130 kiometer sebelah utara Islamabad, ibukota Pakistan.

Sabtu, menantu Mohammad, Fazlullah, yang memimpin Taliban di Swat, mengatakan di radio FM ilegal, keengganan pemerntah membebaskan gerilyawan yang ditahan akan merugikan bagi upaya-upaya perdamaian. Militan membebaskan tujuh orang setelah perjanjian tersebut ditandatangani.

Mohammad, yang menghabiskan waktu enam tahun di penjara karena memimpin ribuan gerilyawan ke Afghanistan dalam upaya yang gagal untuk membantu Taliban mengusir pasukan pimpinan AS pada 2001, dibebaskan tahun lalu dengan harapan ia akan mampu membujuk Fazlullah menghentikan kekerasan.

Antara 250.000 dan 500.000 orang melarikan diri dari Swat sejak Fazlullah meluncurkan kekerasan pada akhir 2007. Sedikitnya 1.200 warga sipil tewas.

Swat, yang dulu tempat tujuan wisata bagi warga Pakistan dan turis asing, dilanda kekacauan dalam beberapa bulan ini dengan bentrokan-bentrokan antara pasukan keamanan dan kelompok militan yang setia pada ulama garis keras Maulana Fazlullah, yang ingin memberlakukan hukum Islam yang ketat di daerah tersebut. Ulama itu disebut-sebut memiliki hubungan dengan Taliban Pakistan.

Kawasan suku Pakistan, terutama Bajaur, dilanda kekerasan sejak ratusan Taliban dan gerilyawan Al-Qaeda melarikan diri ke wilayah itu setelah invasi pimpinan AS pada akhir 2001 menggulingkan pemerintah Taliban di Afghanistan.

Pemimpin Al-Qaeda di Pakistan dan deputinya tewas pada 1 Januari dalam serangan udara yang diduga dilakukan pesawat tak berawak AS di Waziristan Selatan, menurut sejumlah pejabat keamanan setempat.

Para pejabat yakin bahwa Usama al-Kini, yang disebut-sebut sebagai pemimpin operasi Al-Qaeda di Pakistan, mendalangi serangan bom truk terhadap Hotel Marriott di Islamabad pada September lalu, dan memiliki hubungan dengan serangan-serangan bom pada 1998 terhadap Kedutaan Besar AS di Afrika.

Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan Pakistan digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

Pakistan mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas pemberontak terhadap pasukan internasional di Afghanistan.

Pakistan menempatkan sekitar 120.000 prajurit di sepanjang perbatasan itu dan menekankan bahwa tanggung jawab menghentikan penyusupan juga bergantung pada pasukan keamanan yang berada di Afghanistan.

Menurut militer Pakistan, lebih dari 1.500 militan tewas sejak mereka melancarkan ofensif di Bajaur pada awal Agustus, termasuk komandan operasional Al-Qaeda di kawasan itu, Abu Saeed Al-Masri yang berkebangsaan Mesir.

Daerah itu juga dihantam serangan rudal yang hampir mengenai Ayman al-Zawahiri, orang kedua Osama bin Laden, pada Januari 2006.

Terdapat sekitar 70.000 pengungsi Afghanistan di Bajaur, yang tinggal di sana sejak akhir 1970-an setelah mereka melarikan diri dari invasi Uni Sovyet ke Afghanistan.

(sumber ANTARA/Reuters)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s