Sudahkah kita merasakan Pancasila Sila Ke – 5 ?

Standard

Indonesia merdeka sudah 63 tahun, reformasi sudah berjalan selama lebih 10 tahun tapi mengapa kemerdekaan itu belum bisa terrealisasikan dengan baik. Terbukti masih banyak bangsa Indonesia yang merasa belum merdeka. Bukan merdeka dalam artian perang atau perselisihan yang berujung darah tetapi merdeka dari kemiskinan, dari kebodohan dan dari hak-hak yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh negara. Indonesia adalah negara hukum yang menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara. Semua sila dalam Pancasila adalah merupakan tujuan dan identitas negara. Namun mengapa dari semua sila dalam Pancasila belum dapat direalisasikan? Terutama sila ke-5 yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sama sekali belum kita rasakan sepenuhnya.

Tadinya saya kaget mendengar kalimat-kalimat diatas pada perkuliahan saya. Tapi setelah saya renungkan dengan melihat realita yang ada, saya sependapat dengan kalimat-kalimat tersebut. Bagaimana tidak, contoh gampangnya saja, pada Pasal 33 UUD 1945, tentang kesejahteraan sosial, dimana di ayat 3 disebutkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Berarti seharusnya rakyat Indonesia dapat menggunakan air secara gratis dan merata tapi ternyata sudah rakyat harus bayar dan tidak merata terbukti banyak terjadi kekeringan dan kekurangan air didaerah-daerah terpencil contoh NTB. Mereka harus membuat sumber air sendiri hingga hal tersebut dijadikan sebagai iklan salah satu perusahaan air minum. Kemudian kelangkaan minyak dan bahan baker (bensin) padahal Indonesia kaya akan segala macam kekayaan alam. Tetapi realitanya bangsa Indonesia harus antri dan membayar mahal untuk mendapatkan kebutuhan tersebut.

Pada Pasal 31 UUD 1945 tentang Pendidikan, juga belum terlaksana dengan baik. Biaya sekolah setiap tahun semakin meningkat, beasiswa juga disalurkan tidak merata kadang malah salah orang, dan pendidikan pun mengenal kata diskriminasi karena penduduk kota saja yang dapat merasakan pendidikan dengan baik sedangkan daerah – daerah tertentu yang sulit dijangkau oleh manusia apalagi teknologi tidak dapat, merasakan pendidikan itu dengan baik. Mental pengajarnya pun kini tidak lagi bermoral, terbukti banyaknya kasus pencabulan dan kekerasan dalam proses belajar mengajar. Bagaimana bangsa Indonesia mau maju apabila dalam proses awal untuk mencapai keberhasilan dan kepandaian itu banyak halangannya? Padahal sudah jelas tertulis dalam UUD 1945 bahwa warga negara berhak mendapat pengajaran. Mengapa masih banyak anak-anak yang terlantar yang belum pernah sama sekali merasakan bangku sekolah?

Selain itu, yang lebih terasa kelihatan sekali adalah tentang peradilan sebuah kasus. Banyak koruptor yang korupsi milyaran rupiah bahkan triliyunan rupiah masih saja menghirup udara bebas atau sudah mendapat hukuman tetapi tidak sebanding dengan perbuatan yang dilakukannya. Mendapat potongan masa tahanan dan mendapat fasilitas yang layaknya hotel di penjara. Meskipun pemerintah sudah membentuk lembaga independen untuk memberantas korupsi di negera ini namun korupsi masih saja merajalela. Banyak kasus korupsi yang ketika hendak diadili mereka menyodorkan berlembar-lembar uang rupiah agar proses peradilannya dipercepat dan ringan. Bahkan terpidana kasus korupsi dapat menikmati komunikasi didalam penjara dan proses tawar menawar hukuman. Sedangkan seorang pencuri ayam saja hukumannya hampir satu tahun. Mereka harus merasakan bogem mentah dari masyarakat dan aparat atas perbuatannya itu, tak jarang mereka masuk ke penjara dengan kondisi babak belur dan mereka harus mendekam di penjara yang kotor, diperlambat proses peradilannya dan tidak dapat berbuat apa-apa terhadap fonis hakim.

Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa sila ke-5 Pancasila belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik. Hal-hal yang saya paparkan diatas merupakan sebagian realita yang terjadi di negara kita. Apakah anak-anak jalanan dan rakyat miskin tidak dapat mendapatkan pendidikan yang layak? Apakah uang dapat membeli sebuah peradilan? Sampai kapan kesenjangan sosial ini akan terus terjadi?

Created by Andini Harsono on Friday, January 23, 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s