Konser Sarah Brightman Membuai Penonton

Standard

Musik simfoni lembut dan syahdu mengiringi suara sopran penyanyi asal Inggris Sarah Brightman mampu membuai angan penonton hingga terbawa dalam suasana yang sangat tenang, nyaman, dan akhirnya tak terasa dua jam kebersamaan itupun berakhir dengan manis.

Sarah yang menggelar konser di Ballroom Hotel Grand Melia, Jakata, Selasa malam (10/3), benar-benar memanjakan penonton sejak awal penampilannya memasuki panggung. Dengan gaun warna merah menyala dan iringan musik dari band dan harmoni musik orkestra menjadi awal yang sangat baik untuk mencuri perhatian penonton.

Di awal konser, secara berturut-turut Sarah menghadirkan lagu “Gothica”, “Fleurs du Mal”, dan “Let it Rain”. Ia juga membawakan sejumlah lagu lainnya dengan aransemen yang sangat berbeda dari komposisi aslinya sehingga membuat penonton tak bosan.

Lagu-lagu tersebut di antaranya “Hijo de la Luna” yang terdengar manis walaupun menceritakan kisah tragis “anak” sang bulan, “La Luna” (Sang Bulan), “Sarabande”, “Nella Fantasia”, dan “Canto Della Terra”.

Suasana semakin hangat dengan lantunan merdu suaranya yang membawakan lagu dari salah satu komposisi dalam “Panthom of The Opera” yang berjudul “The Music of The Night”.

“Terima kasih kedatangannya malam ini. Saya sangat senang di Jakarta,” kata Sarah dalam bahasa Inggris mengawali dialognya dengan penonton.

Tepuk tangan terus membahana setiap kali Sarah selesai membawakan lagu-lagunya yang bercorak persilangan klasik dan pop. Mata dan telinga penonton tampaknya sungguh terbius kepiawaian Sarah yang dapat mengambil nada-nada tinggi dengan sempurna di setiap lagu lalu pada satu saat menjadi lemah lembut dan mendayu-dayu.

Kepada penonton yang telah membayar cukup mahal untuk tiket konser, Sarah juga menyanyikan lagu-lagu yang sangat akrab di indra dengar. Misalnya lagu “Wonderful World” yang pernah dipopulerkan Louis Amstrong, “Dust in The Wind” milik grup band legendari Kansas yang diaransemen ulang menjadi sedikit bernuansa musik country, serta lagu berbahasa Italia “Sarai Qui” yang dinyanyikan bersama rekannya, Alessandro Safina.

Lagu “Sarai Qui” adalah versi Bahasa Italia dari lagu “There You’ll Be” yang dipopulerkan penyanyi Faith Hill sebagai lagu tema film “Pearl Harbour”.

Meski tak semua penonton bisa menyanyikan lagu “Sarai Qui”, dari hamparan penonton yang mencapai ratusan malam itu sayup-sayup terdengar mereka melantunkannya dalam Bahasa Inggris atau versi Faith Hill.

“Puas banget bisa nonton Sarah, ini impianku sejak dulu, dia penyanyi yang sangat hebat, cantik, dan memiliki kemampuan untuk memberikan hiburan terbaik,” kata Tanti (26), warga Jakarta Timur, usai menonton konser.

Insiden Kecil

Di saat penonton menikmati konser, puluhan wartawan cetak, radio, televisi, masih disibukkan dengan persoalan boleh atau tidaknya masuk ke dalam ruangan konser. Awalnya Promotor Buena Production memang memberikan ijin bagi wartawan untuk meliput, memotret, dan mengambil gambar.

Namun sekitar 30 menit sebelum acara dimulai, tiba-tiba pihak manajemen sang artis meminta peliputan dibatasi hanya 30 media massa saja. Kontan hal ini membuat kaget dan panik para wartawan, apalagi manajemen Sarah melarang sama sekali para wartawan televisi dan radio untuk meliput.

Para wartawan foto dan wartawan tulis akhirnya diijinkan untuk masuk setelah sebelumnya harus menandatangani surat perjanjian yang dibuat oleh manajemen Sarah.

“Isi peraturannya dalam Bahasa Inggris, panjang banget aturannya, tapi intinya kita hanya boleh memotret satu lagu dan dilarang keras mengedarkan atau memerjualbelikan foto Sarah,” ujar Fanny, pewarta Biro Foto ANTARA.

Beberapa media yang tidak termasuk dalam daftar 30 media peliput itu akhirnya kecewa dan meninggalkan lokasi. Beruntung pihak Buena Production melalui para staf humasnya sangat kooperatif dan membantu para wartawan untuk masuk dan meliput dengan beberapa kesepakatan.

Di dalam ruangan konser, setelah satu lagu berlalu tampak beberapa orang “bodyguard” Sarah berkeliling menghalau wartawan foto yang masih memotret.

“Just one song, not more,” begitu ujar salah satu “bodyguard” kepada kerumunan wartawan foto sambil menggiring mereka keluar ruangan konser.

Di luar insiden kecil itu, konser Sarah Brightman memuaskan penonton yang malam itu harus merogoh kocek antara Rp3 juta hingga Rp7,5 juta. Sarah memberikan suguhan pertunjukan musik yang memukau dari sisi suara yang indah, musik yang syahdu, penampilan panggung dan kostum yang cantik, serta ketepatannya dalam memilih lagu-lagu yang disukai penonton.

Sarah mengakhiri konsernya dengan lagu “Time to Say Goodbye” dan disusul encore lagu “Deliver Me”.

Karir Sarah Brightman

Sarah Brightman lahir pada 14 Agustus 1960 di kota Berkhamsted, Hertfordshire, Inggris. Perjalanan karirnya dimulai sebagai penari. Ia sejak kecil belajar tari balet di Elmhurst School yang kemudian membuka jalan ke industri hiburan dengan mendirikan grup tari Hot Gossip.

Grup yang merupakan grup tari campuran dan juga sempat meluncurkan hit single disko berjudul “I Lost My Heart to A Starship Trooper” di tahun 1978, yang dilanjutkan dengan single “The Adventures of the Love Crusader” enam bulan berikutnya, namun tidak sesukses single pertamanya.

Setelah memiliki pengalaman, Sarah Brightman kemudian bersolo karir dengan menelurkan lebih banyak single disko di bawah perusahaan rekaman Whisper Records, termasuk single “Not Having That!”.

Era 1981 hingga 1989 merupakan karir Sarah Brightman dalam industri panggung opera. Pada 1981, Sarah meramaikan opera musik berjudul “Cats”, dan ia berperan sebagai Jemima. Di sinilah awal ia kemudian bertemu dengan Andrew Lloyd Webber, pria yang menikahinya tahun 1984.

Setelah menikah, Sarah banyak tampil pada opera yang ditangani oleh sang suami. Ia sempat tampil pada opera yang ditangani oleh suaminya “The Phantom of the Opera”.

Kedahsyatan suara Sarah Brightman merupakan hasil latihan vokal sejak dini, yaitu dengan Elizabeth Hawes, kepala Trinity Music College di London. Sarah juga berguru ke beberapa pelatih vokal, di antaranya Ellen Faull of Juilliard. Dan baru-baru ini belajar pada guru vokal internasional David Romano.

Berkat latihan vokal dari berbagai guru tersebut, Sarah Brightman memiliki range suara tiga oktaf, yang menurutnya bisa mencapai nada F6. Adapun nada tertinggi yang pernah dinyanyikannya di muka umum dan di studio adalah E6 pada lagu penutup “The Phantom of the Opera”.

“Wow, rasanya masih kurang lama menonton penampilan Sarah Brightman, suaranya dan musiknya benar-benar membuat saya terhanyut dalam suasana,” demikian ujar Tanti.

Oleh Desy Saputra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s