PKS Dan PDI-P Indikasikan Penggelembungan Suara di Batam

Standard

Batam, 10/4 – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengindikasikan penggelembungan suara pada perhitungan suara Pemilu Legislatif 2009 di Batam.

“Saksi kami tidak ada yang mendapat salinan form C1. Ini indikasi penggelembungan suara, seperti yang terjadi dalam Pemilu 2004,” kata anggota Badan Pemenangan Pemilu Dewan Pengurus Daerah PKS Batam Prijanto Rabbani di Batam, Jumat.

Prijanto mengatakan seluruh saksi PKS yang tersebar di semua tempat Pemungutan Suara (TPS) di Batam tidak diberikan salinan formulir C1, yang berisi rekapitulasi hasil penghitungan suara calon legislator tiap partai, oleh kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS).

Menurut dia, manipulasi suara bisa terjadi pada saat rekapitulasi suara, karena formulir C1 tidak dibagikan.

“Akan mudah bagi pihak tertentu untuk memanipulasi, Seperti yang terjadi pada Pemilu 2004,” kata dia melanjutkan.

PKS juga menyayangkan sikap KPU Batam yang melegalkan penundaan penyerahan formulir C2. Bahkan KPU Batam memberikan surat edaran yang membolehkan penundaan penerahan formulir c1.

“Kami sudah mencoba menghubungi KPU, api mereka seakan menghindar. Ketuanya, tiba-tiba juga tidak dapat dihubungi,” kata dia melanjutkan.

PKS, melaporkan kejadian itu ke KPU Provinsi kepulauan Riau, dan menurut Prijanto, KPU Kepri menyalahkan kebijakan yang diambil KPU Batam.

Selain itu, dalam pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009, PKS menemukan pihak-pihak yang memaksa ikut Pemilu, meski tidak ada dalam Daftar pemilih Tetap, dengan memalsukan surat undangan.

“Saksi kita banyak mencurigai orang tertentu. Ada yang surat undangan tidak sama dengan identitas pribadinya, ada jua yang ternyata bukan penduduk sekitar TPS itu,” kata dia.

Senada dengan Prijanto, Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDIP Ruslan Kasbulatov mengatakan menduga ada upaya penggelembungan suara.

“Ada indikasi ke arah sana. pemilu kali ini yang terburuk di seluruh dunia,” kata dia.

Saksi PDIP, kata dia, juga menemukan beberapa orang yang dimobilisasi pihak tertentu untuk memilih di sebuah TPS, meski namanya tidak terdapat dalam DPT.

Ia menduga ada permainan suara dalam partisipasi masyarakat.

PDIP juga mensinyalir” serangan fajar”, dengan memberikan uang menjelang pemilihan berlangsung di beberapa daerah.

“Ada yang mengaku sama kita diberi Rp50.000-Rp100.000, tapi ia tidak mau dijadikan saksi, takut,” kata dia.

(sumber ANTARA)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s