Monthly Archives: June 2011

Tentang Indonesia

Standard

Menulis ataupun bicara tentang Indonesia tidak akan mungkin ada habisnya. Tentang sebuah negeri yang kaya raya. Mereka sering menyebut negara ini dengan “untaian zamrud di Khatulistiwa”. Persis sekali. Jikalau dilihat dari angkasa, negeri ini terlihat indah. Hamparan hutan, sawah dan ladangnya berwarna hijau laksana batu mulia zamrud. Terhampar dari Sabang sampai Merauke.

Namun itu jikalau dilihat dari angkasa. Bagaimana jikalau dilihat dari daratan? Akan tampak kenyataan lain. Baik terduga maupun tidak.

Di negeri yang kita cintai ini masih banyak potret kemiskinan yang semestinya bisa diperkecil jumlahnya. Saya kerap kali melihat hal-hal yang membuat hati sedih dan kadang kala hanya bisa berdoa dalam hati. Ketika melihat saudara-saudara kita yang tidak punya rumah, yang tidur apa adanya di pinggiran jalan. Yang punya rumah namun tidak layak huni.

Kalaupun ada rejeki lebih paling tidak saya bisa memberikan sebagian untuk mereka. Dalam hal beri-memberi kepada pengemis di jalanan ini banyak terjadi kontroversi. Kontroversi yang saya maksud begini. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa dengan kita memberikan uang kepada para pengemis maka sama saja kita mengajarkan kepada mereka untuk tetap memiliki mental pengemis. Dan saya sangat setuju dengan statemen ini. Namun hati kecil saya tidak sampai hati apalagi jikalau yang mengemis itu adalah anak-anak kecil. Yang mestinya dengan umur mereka masih diisi dengan dunia bermain, dunia belajar serta dunia kreatifitas. Bukan dunia jalanan yang keras dan cenderung kejam.

Banyak yang berpendapat jikalau kita memberi yang lebih tepat adalah modal untuk mereka usaha seperti pepatah “Jangan memberi ikan, melainkan kail”. Hal ini juga benar, namun sedikit kurang tepat. Lantaran keadaan mereka sudah demikian terjepit dan kelaparan. Mereka butuh materi secepatnya untuk mengganjal sejengkal perut mereka. Ataupun ada istilah agar periuk di dapur tetap mengepul.

Dan untuk memberi mereka modal untuk usaha bukanlah hal yang mudah. Barangkali mereka yang berucap demikian hanya bisa berucap saja tanpa perbuatan.

Juga tidak sedikit dari kita yang berfikir, itu urusan kehidupan mereka, bukan urusan saya, dasar mereka saja yang pemalas tidak mau bekerja keras, bisanya hanya meminta-minta.

Dan tidak sedikit pula yang hanya sekedar menyalahkan pemerintah dengan adanya fenomena kemiskinan ini. Memang benar bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar itu adalah menjadi tanggung jawab pemerintah. Ada pasalnya tentang itu dalam UUD 1945 kita. Namun saya lupa ataupun cenderung tidak tahu dalam pasal berapa ataupun ayat berapa lantaran saya bukan ahli hukum atau undang-undang, saya hanya mengerti hal-hal sederhana yang biasa-biasa saja, yang lebih aplikatif.

Dari hati kecil saya sedikit banyaknya berkata bahwa hanya mengandalkan pemerintah, hanya menyalahkan pemerintah tidaklah menjadi solusi atas kemiskinan ini. Memang kita sadari betul dan tidak dapat dipungkiri bahwa kinerja pemerintah beserta aparaturnya baik di pusat maupun daerah sangatlah belum optimal. Tidak ada tindakan-tindakan nyata yang mengarah kepada pengentasan kemiskinan. Tentu kita semua tahu bahwa tidaklah mungkin untuk mengentaskan kemisikinan secara total. Dan bahaya juga kalo tidak ada orang miskin, siapa yang hendak menerima zakat?

Namun harus tetap ada upaya agar masyarakat Indonesia ini lebih sejahtera, tidak harus seluruhnya kaya raya. Minimal tidak ada lagi orang-orang yang dengan terpaksa menggelandang di jalanan dan mengemis demi sesuap nasi.

Lalu bagaimana jalan tengah atas permasalahan ini?

Mohon maaf para sahabat, saya tidak bermaksud menggurui, lantaran saya bukan guru. Saya tidak bermaksud mengajari, lantaran saya bukan pengajar. Pun saya tidak bermaksud untuk menasehati, lantaran saya bukan penasehat. Saya hanya mencoba untuk berbagi. Menurut saya jalan tengah dari masalah ini ada dengan zakat. Zakat merupakan solusi yang ditawarkan Islam untuk mengatasi kemiskinan.

Apalah arti sedikit uang kita yang kita zakatkan untuk orang-orang miskin? Tentu tidak berarti apa-apa. Namun jikalau kita semua bersatu, kompak untuk mengelolah uang zakat, tentu akan berdampak besar terutama bagi mereka yang membutuhkan. Untuk itulah Islam juga menghadirkan yang namanya ‘amil’, yakni orang atau kelompok yang diberi amanah untuk mengelolah dana umat ini. Di Indonesia sendiri ada banyak badan atau lembaga amil zakat, baik yang berskala nasional maupun daerah, ataupun yang dikelola oleh tiap-tiap korporasi.

Ada Rumah Zakat Indonesia, PKPU dan lain-lain yang berskala nasional. Yang dikelola tiap daerah ada LAZ al-Hijrah maupun Ulil Albab dan lai-lain. Serta lembaga amil zakat di perusahaan-perusahaan tertentu seperti LAZ yang dikelola Harian Waspada, PT. PLN dan lain-lain. Dan yang dikelola pemerintah juga ada Badan Amil Zakat Daerah.

Tidak masalah kepada lembaga mana kita mempercayakan zakat kita. Insya Allah akan dikelola dengan baik dan disalurkan dengan tepat kepada yang berhak.

Kita semua tentu berharap Indonesia kedepannya bisa lebih baik. Seperti kisah-kisah yang kerap ditutur oleh Pak Raden bahwa Indonesia ini dulunya ‘ijo royo-royo, gemah ripah loh jinawi yang rakyatnya toto tenrem kerto raharjo’. Semoga penuturan Pak Raden ini bisa terulang kembali dan bisa kita wariskan ke anak cucu kita kelak.

Kita membahas tentang Indonesia, untuk itu saya ingin mengucapkan terima kasih kepada James Richardson Logan yang dengan hasil penelitian ilmiahnya melahirnya nama ‘Indonesia’ dan Prof. Adolf Bastian yang banyak mempopulerkan kata ini. Mungkin ketika James Logan menggunakan kata Indonesia pertama kali tidaklah menyangka bahwa nama ini di kemudian hari menjadi salah satu negara besar dengan segudang prestasi. Baik prestasi negatif dan positif.

Artikel lebih lanjut tentang asal usul kata ‘Indonesia’ bisa dibaca di http://klipingartikel.blogspot.com/2007/12/tentang-indonesia.html

Diakhir kata, saya yakin betul bahwa Indonesia masih punya harapan untuk masa depan yang cerah gemilang. Read the rest of this entry