Kekuatan Shubuh

Standard

Alangkah berat menjalani hidup ini. Kian hari kian waktu yang dijalani terkadang semakin penuh misteri. Aku yakin Rasulullah sang pujaan hati juga pernah bersedih hati. Tentu Allah Sang Khaliq Kekasihnya akan menghiburnya. Hiburan dari Allah untuk Rasulullah adalah hadiah terbesar dalam sejarah peradaban umat manusia. Sholat.

Bicara tentang sholat tentu tidak terlepas dari masjid. Refleksi sejenak. Bangunan yang katanya Bait Allah-Rumah Allah itu siapa kini para penghuninya? Siapa kini para pengisi shaf terdepannya? Berapa shaf yang bisa dihasilkan dikala Shubuh?

Silakan direnungkan sendiri.

Mungkin jawaban dari masing-masing kita berbeda. Hanya saja yang saya ketahui para pengisi masjid saat ini jamaknya adalah para orangtua, berumur diatas lima puluhan. Jompo. Mereka-mereka yang tidak lama lagi bakalan masuk liang lahat. Sangat wajar dan mahfum jikalau mereka bertaubat.

Menjadi tanda tanya besar, dimana para pemuda? Dimana para remaja Islam itu? Dimana para orang-orang yang dibebankan di pundaknya masa depan Bangsa ini?

Kembali ke masalah mendasar tentang sholat. Berapa banyak dari kita yang menganggap sholat sebagai beban? Berapa banyak dari kita yang mengaku Islam namun menganggap sholat hanya sebagai kewajiban yang tentu memberatkan. Berapa banyak dari kita yang tertulis ‘Islam’ di KTP-nya, yang ditandatangani Kadis Kependudukan, namun kerap melalaikan sholat?

Subhanallah. Bahkan sholat sebenarnya adalah hadiah spesial dari Allah untuk Rasul-Nya. Sholat dan perintah-perintah lainnya dalam agama sebenarnya bukanlah beban. Melainkan kebutuhan. Baik bagi jasmani maupun ruhani kita.

Saya ingin sedikit merenungi tentang sholat shubuh dan tentang pemuda.

Sebuah buku bagus bertajuk ‘Misteri Sholat Shubuh’ karya Dr. Raghib as-Sirjani, banyak mengulas secara gamblang dan memikat tentang sholat shubuh.

Bahwasanya shubuh itu ada kekuatan. Memang tidak mudah untuk menegakkan sholat shubuh. Namun beberapa hal yang pasti bahwasanya hal ini dapat mencerminkan jiwa sesungguhnya dari seseorang. Seberapa kuatkah jasmani dan ruhaninya selama ini?

Dalam hadits disebutkan bahwa ciri-ciri orang munafik salah satunya ‘Isya dan Shubuhnya tidak berjama’ah di masjid. Subhanallah. Bahkan orang yang solat saja digolongkan munafik jikalau tidak dilaksanakan di masjid. Bagaimana lagi dengan yang tidak sholat?

Bukankah Yahudi akan sangat benci jikalau umat Islam Shubuh berjama’ah di masjid? Apalagi jikalau shaf-nya melampaui shaf sholat Jumaat. Dan yang tidak kalah penting yang semestinya mengisi, meramaikan, memakmurkan masjid serta menjadi shaf terdepan adalah para pemuda. Karena dipundaknya dibebankan masa depan Bangsa ini. Pada buah fikirnya ada harapan untuk kebaikan Bangsa ini kedepannya. Para pemuda butuh kekuatan baik jasmani maupun ruhani. Kekuatan ini salah satunya tersembunyi pada sholat shubuh.

Ada riwayat hadits yang kira-kira mengisyaratkan seperti ini, barang siapa yang mengetahui keutamaan shubuh berjama’ah di masjid maka dia tidak akan meninggalkannya satu waktu pun, bahkan ia akan meraihnya walau dengan merangkak. Dan barang siapa yang mengetahui keutamaan shaf terdepan, maka ia berlomba-lomba memenuhi shaf terdepan, bahkan jikalau harus diundi, bahkan jikalau harus membayar demi mendapat shaf terdepan.

Subhanallah. Sungguh, segala tentang sholat, tentang shubuh, tentang shaf terdepan, merupakan suatu kekuatan. Bagi mereka yang sadar dan mengetahui.

Satu pesan dari bunda saya yang tidak akan pernah saya lupakan hingga tarikan nafas terakhir dalam hidup ini, bahwa negara ini direbut dan dipertahankan kemerdekaannya adalah dengan kristalisasi keringat dan darah para pejuang kita. Mereka, Pangeran Diponegoro dan Jenderal Sudirman adalah orang-orang yang tidak pernah meninggalkan shubuh berjama’ah. Mereka selalu rindu dengan hal itu bersama-sama dengan prajurit mereka. Mereka adalaha para panglima perang yang berhati baja yang hanya bertuhankan Allah.

Kesimpulan akhir, “Jangan loe ngaku sebagai pemoeda kalo shubuh loe kagak di masjid!!”, so kalo besok shubuh loe masih di pembaringan, buat tulisan besar-besar di jidat loe “Gua Jompo”

Bagi pengguna facebook, silakan like and share page ini http://www.facebook.com/pages/Ayo-Ke-Masjid/166354186771104 Saya sendiri kurang ngerti facebook. Maklum, hanya blogger biasa.

Wassalam.

fn:
Bagi muslim laki-laki wajib berjama’ah di masjid. Bagi muslim perempuan lebih utama sholat di rumah, namun jikalau hendak di masjid tidak menjadi masalah.
Saya bukanlah ahli hadits, jadi mohon maaf jikalau dalam jikalau dalam menyampaikan hadits sangat berserak dalam matan-nya. Maklum, saya hanya kaum marjinal yang baru mengenal dan belajar Islam.
Mohon dikoreksi dan perbaikan.

-Quod Erat Demonstrandum-

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s