Lautan Ilmu dari Soviet

Standard

Tahukah kita, apa yang dilakukan Imam Bukhori sebelum menuliskan sebaris hadits kedalam kitab “Shahih” beliau?

Beliau memperbanyak ibadah, meningkatkan kualitas ibadah berlipat ganda dari yang biasanya. Memperbanyak istighfar, memohon ampunan kepada Allah.

Beliau sungguh takut jikalau keliru dalam menulis hadits kedalam karya agung beliau. Jikalau terdapat sedikit saja keraguan akan hadits yang hendak beliau tulis, maka beliau menunda dan melakukan riset yang lebih mendalam lagi untuk menguji kualitas hadits tersebut.

Dan beliau akan semakin meningkatkan kualitas ibadah dan istighfarnya, hingga benar-benar Haqqul Yaqin barulah beliau menuliskan hadits tersebut.

Itulah ulama terdahulu kita, ibarat ilmu Padi. “Semakin tinggi ilmu yang diperoleh, semakin merasa rendah di hadapan Allah”. Mereka adalah sebenar-benar ulama.

Wahai engkau Imam Bukhori, sungguh limpahan rasa syukur kepada Allah tiada henti, rasa terima kasih kami kepadamu yang demikian mendalam. Atas karya agungmu yang memudahkan kami belajar Islam. Belajar mengenal Allah. Mencintai Kekasih-Nya.

Mempelajari karya agungmu, kami serasa tenggelam dalam lautan ilmu yang luas. Bahkan kami seakan tidak dapat mengendalikan diri lantaran merasa kegirangan. Karya agungmu membuat kami tidak perlu lagi ‘jungkir balik’ dalam belajar Islam, sudah cukup kiranya engkau yang ‘jungkir balik’ menulis kitab ini.

Wahai engkau Imam Bukhori, engkau adalah mutiara, permata, karunia dari Surga-Nya yang diperuntukkan pada kami. Sungguh tak dapat apapun yang kami perbuat untuk berterima kasih padamu. Hanya lantunan al-Fatihah saja dari kami. Yakin betul kami bahwa engkau telah mendapat tempat terbaik di sisi Allah kini. Justru kami yang belum tahu dimana tempat kami kelak.

Mempelajari karya agungmu sungguh mendekatkan kami kepada Rasulullah (Solawat atas beliau). Seakan kami mendengar langsung petuah Beliau. Seakan kami melihat langsung perilaku agung Beliau. Bahkan isyarat Taqrirnya seolah-olah di depan mata.

Yang terakhir mungkin sedikit kutipan dari ustadz Hafiz Yazid, “Mereka itu sebenar-benar Ulama. Saya ini apalah. Cuman ustdaz ecek-ecek, dipanggil ustadzpun tak pantas. Badan saya saja besar, tapi ilmunya kecil”. Jama’ah ketawa, “Ha ha ha”. Jama’ah kan tahunya ketawa saja, belajar malah ngantuk. Aku sich ngantuk juga, tapi ku rekam ceramah beliau. “Berhenti ngerokok! Beli Kitab!”, kata-kata pamungkas ustadz Hafiz.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s