Cinta Tanpa Syarat

Standard
Cinta Tanpa Syarat

Cinta Tanpa Syarat

Jum’at 16 Desember 20011  ada tayangan Kick Andy di Metro TV yang kala itu bertajuk “Cinta Tanpa Syarat“. Menampilkan sosok-sosok Guru Bangsa yang benar-benar guru, yakni yang digugu dan ditiru.

Pak Juanda dan sang istri Siti Aisyah hanya pemulung yang hidup apa adanya bahkan cenderung kekurangan. Namun keterbatasan itu tidak menghalangan kejernihan hati nurani mereka untuk mengasuh seorang anak bernama Olga. Olga bukanlah anak kandung mereka, melainkan anak jalanan yang kerap mereka temui saat memulung.

Olga memiliki sedikit kekurangan dari segi fisik, yakni kaki yang agak pincang. Orangtua yang mengasuhnya telah berupaya mengobatinya namun belum berhasil karena terkendala biaya. Profesi sebagai pemulung tentu tidak dapat mengatasi masalah biaya. Bahkan untuk makan sehari-hari saja mereka masih kekurangan.

Namun keluarga ini tidak pernah mengeluh sedikitpun. Tetap tegar menghadapi kerasnya tempaan hidup. Saat melihat tayangan ini sebenarnya saya tidak sanggup karena sungguh menyentuh hati dan tidak sedikitpun kata-kata saya bisa terucap. Hanya ungkapan syukur yang tiada henti kepada Allah yang mampu terbersit di hati ini. Saya masih sangat beruntung bisa hidup berkecukupan hingga detik ini.

Lantas apa harapan keluarga ini terhadapa masa depan Olga? Siti Aisyah berkata bahwa ia hanya ingin Olga kelak menjadi orang pintar, tidak seperti mereka berdua yang bodoh.

Mendengar ungkapan tersebut ingin sekali saya katakan kepada Ibu Siti Aisyah seperti ini,
Ibunda Guru, ibu bukanlah orang yang bodoh. Justru sebaliknya. Ibu adalah orang yang paling cerdas sejagad raya saat ini. Ibu sungguh cerdas secara hakiki. Ibu memiliki kecerdasan hati nurani. Sangat berbeda dengan kami. Justru kami ini yang bodoh. Kami hanya bisa berteori ini itu untuk mengentaskan kemiskinan. Sedangkan Ibu sudah melakukan tindakan nyata. Tanpa pamrih. Tanpa fikir panjang.

Kami hanya mahasiswa tolol, bodoh dan goblok yang gak ketulungan. Kami hanya mampu berteriak-teriak tanpa ada usaha nyata untuk perbaikan masa depan. Ibunda Guru, engkau sungguh lebih mulia di hadapan Allah dan Rasul-Nya.

Dan seorang teman saya yang bijaksana memberi komentar dengan bijak, “Lingkungan bersih dan wangi tidak menjamin hati yang bersih, di lingkungan kumuh pun bunga di taman hati yang indah dan segar pun selalu bisa tumbuh lebih merekah.”

Selain menampilkan Pak Juanda dan istrinya, ada juga Pak Rudiawan Saleh beserta istri. Kisah mereka juga tak kalah mengharukan seputar mengadopsi anak. Selain itu juga kisah tentang Ahmad Badawi dan Endang Yuli Purwati yang mempunyai banyak anak adopsi. Mereka memberikan kasih sayang yang sama kepada semua anak, baik kandung maupun yang adopsi.

Sekian dulu. Semoga setiap kisah yang kita dengar dan kita ketahui dapat menjadi pelajaran untuk perbaikan hidup kita kedepannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s