Monthly Archives: January 2012

gaulislam_221

Standard

gaulislam edisi 221/tahun ke-5 (22 Shafar 1433 H/ 16 Januari 2012)

Waduh, tema pacaran lagi dah. Hehehe.. nggak apa-apa lah. Kan banyak juga yang belum tahu. Bagi kamu yang udah tahu jangan bosen. Saya aja nulisnya ampir bosan. Cuma gimana lagi, dakwah memang begitu. Kita seringkali menyangka bahwa apa yang sudah kita sampaikan secara sering akan mudah dipahami orang. Ternyata nggak. Ada yang memang belum pernah baca, ada yang baru tahu dan belum paham. Banyak alasan. Tetapi yang pasti, pembaca gaulislam setiap pekannya bertambah dan banyak yang baru tahu. Selain itu, karena tak semua bisa mengakses website maka edisi cetak ini jadi andalan mereka untuk mendapatkan informasi. Tak mengapa, yang penting ada beda rasanya dalam setiap edisi yang membahas tema sejenis. Tul nggak?

Oya, mungkin kamu kaget ya dikatain bahwa pacaran itu nafsu, bukan cinta. Padahal, kalo makan saja nggak nafsu kan jadinya nggak enak makan. Hehehe… beda persoalan, Bro en Sis. Ini soal cinta dan nafsu jelas berbeda. Nafsu umumnya cenderung membuat orang ingin melakukan sesukanya, sementara cinta masih berpikir apakah yang dilakukannya benar atau salah menurut aturan yang berlaku, khususnya ajaran agama kita, Islam. Nah, edisi kita kita bakal bahas seputar cinta, nafsu, dan juga pacaran. Yuk ah, tancap gas!

Saat jatuh cinta

Ada sebuah puisi yang pernah diposting seorang anggota milis, jaman saya mengelola milis Majalah Pertama antara tahun 2001 hingga 2004. Ini ada penggalan puisinya yang dikirim Astari Sekar Ayu:

Rabbi…/ Aku punya pinta/ Bila suatu saat aku jatuh cinta/ Penuhilah hatiku dengan bilangan cintaMu/ yang tak terbatas/ Biar rasaku padaMu tetap utuh

Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Pasti senang dong ya. Enak aja bawaannya. Hidup berasa nikmat banget. Rasanya nggak mantep kalo nggak cerita kepada teman-teman kalo kita sedang jatuh cinta. Biar teman-teman juga merasakan apa yang sedang kita rasakan. Bila perlu, kita cerita kepada siapa saja tentang orang yang sedang kita cintai meski orang yang kita cintai itu tak tahu bahwa dia sedang kita cintai. Kita begitu percaya diri dan mulai mencari cara untuk mendekatinya.

Cinta emang selalu menyita perhatian kita. Ada di antara kita yang kemudian bahagia dengan cinta, tapi nggak sedikit yang merana karena cinta. Itu sebabnya, wajar juga kalo novelis Mira W pernah menyampaikan: “Kita boleh hidup dengan cinta, tapi jangan mati karena cinta”. Hmm.. boljug neh pernyataannya. Soalnya banyak juga manusia yang terbius cinta (khususnya cinta kepada lawan jenis, harta, dan juga jabatan) hingga lupa segalanya. Sebab, yang ada dalam benaknya hanyalah cinta, cinta, dan cinta.

Hati-hati dengan cinta buta

Cinta buta adalah cinta yang tak mengikuti aturan Islam. Ia bebas berbuat apa saja. Termasuk saat orang yang model begitu tuh jatuh cinta, maka ia akan buta dan gelap mata. Berbuat sesukanya dan mencampakkan norma agama.

Ada beberapa kerusakan akibat cinta buta ini (Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi (edisi terj.) hlm, 242-244: Pertama, lupa mengingat Allah. Lebih sibuk mengingat makhlukNya, yakni orang yang dicintainya, misalnya. Jika dia lebih kuat mengingat Allah, insya Allah mengingat makhlukNya jadi terkendali. Tapi jika lebih kuat mengingat makhlukNya, maka mengingat Allah akan dikalahkan.

Kedua, menyiksa hati. Cinta buta, meski adakalanya dinikmati oleh pelakunya, namun sebenarnya ia merasakan ketersiksaan hati yang paling berat.

Ketiga, hatinya tertawan dan terhina. Ya, hatinya akan tertawan dengan orang yang dicintainya. Namun, karena ia mabuk cinta, maka ia tidak merasakan musibah yang menimpa. So, ati-ati deh kalo jatuh cinta. Jangan sampe hati kita tertawan dengannya, hingga lupa segalanya.

Keempat, melupakan agama. Tak ada orang yang paling menyia-nyiakan agama dan dunia melebihi orang yang sedang dirundung cinta buta. Ia menyia-nyiakan maslahat agamanya karena hatinya lalai untuk beribadah kepada Allah. Kalo ada teman kita ketika jatuh cinta tuh sampe nggak sholat, nggak sekolah, dan nggak belajar, karena cuma mikirin dia, maka itu udah dibilang cinta buta. Jadi, kita kudu ingatkan supaya jangan keterusan.

Kelima, mengundang bahaya. Bahaya-bahaya dunia dan akhirat lebih cepat menimpa kepada orang yang dirundung cinta buta melebihi kecepatan api membakar kayu kering. Ketika hati berdekatan dengan orang yang dicintainya secara buta itu, ia akan menjauh dari Allah. Jika hati jauh dari Allah, semua jenis marabahaya akan mengancamnya dari segala sisi karena setan menguasainya. Jika setan telah menguasainya, maka mana ada musuh yang senang lawannya senang? Semua musuh ingin musuhnya dalam bahaya. Duh, jangan sampe kejadian. Cukup fakta-fakta soal perzinahan dan penularan penyakit seksual itu menjadi perhatian bagi kita untuk nggak melakukan hal yang sama. Naudzubillahi min dzalik.

Keenam, setan akan menguasai. Jika kekuatan setan menguasai seseorang, ia akan merusak akalnya dan memberikan rasa waswas. Bahkan, mungkin tak ada bedanya dengan orgil alias orang gila. Mereka nggak menggunakan akalnya secara layak. Padahal yang paling berharga bagi manusia adalah akalnya yang membedakan ia dengan binatang. So, nggak heran dong kalo banyak yang kejerumus berbuat maksiat karena mikirnya instan banget. Cuma kepikiran enak aja menurut hawa nafsunya. Nggak mikir jauh ke depan: soal dosa dan akibat dosa tersebut.

Ketujuh, mengurangi kepekaan. Cinta buta akan merusak indera atau mengurangi kepekaannya, baik indera suriya (konkret) maupun indera maknawi (abstrak). Kerusakan indera maknawi mengikuti rusaknya hati, sebab jika hati telah rusak, maka organ pengindera lain, seperti mata, lisan, telinga, juga turut rusak. Artinya, ia akan melihat yang buruk pada diri orang yang dicintainya secara buta itu sebagai sebuah kebaikan dan juga sebaliknya.

Tetap iffah selama jatuh cinta

Menurut Hamka, “Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan penghargaan, menguatkan hati dalam perjuangan, menempuh onak dan duri penghidupan.”

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ada persoalan besar yang harus diperhatikan oleh orang yang cerdas, yaitu bahwa puncak kesempurnaan, kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang ada dalam hati dan ruh tergantung pada dua hal. Pertama, karena kesempurnaan dan keindahan sesuatu yang dicintai, dalam hal ini hanya ada Allah, karenanya hanya Allah yang paling utama dicintai. Kedua, puncak kesempurnaan cinta itu sendiri, artinya derajat cinta itu yang mencapai puncak kesempurnaan dan kesungguhan (al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi (edisi terj.) hlm, 255)

Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan, “Semua orang yang berakal sehat menyadari bahwa kenikmatan dan kelezatan yang diperoleh dari sesuatu yang dicintai, bergantung kepada kekuatan dorongan cintanya. Jika dorongan cintanya sangat kuat, kenikmatan yang diperoleh ketika mendapatkan yang dicintainya tersebut lebih sempurna.”

So, meski kita merasa hidup lebih indah ketika jatuh cinta tapi bukan berarti bebas melakukan apa saja atas nama cinta. Insya Allah saya cukup mengerti dengan kondisi temen-temen remaja. Di usia yang pubertas ini, apalagi ditambah dengan bombardir informasi di media massa yang ternyata lebih banyak menyesatkan ini, akhirnya nggak sedikit yang awalnya berkomitmen untuk tidak mengekspresikan cinta lewat pacaran, tapi ternyata rontok digerus arus informasi dan kehidupan yang rusak. Sebab pernah ada juga teman kita yang berkirim e-mail ke saya bahwa ia awalnya termasuk kuat, bahkan dari kalangan keluarga yang taat beragama, dan punya prinsip nggak akan pacaran sebelum nikah.

But, apa daya, prinsip tersebut akhirnya hilang disapu gemuruh hawa nafsu. Meski tidak sampe kepada perzinahan (setidaknya menurut pengakuannya di e-mail tersebut), tapi dia merasa harus taubat. Alhamdulillah, sikap kawan kita ini patut diteladani. Ngaku salah dan mau memperbaiki diri. Itu sebabnya nih, buat anak cewek, jangan tergoda rayuan cowok. Cuma anehnya meski banyak diwanti-wanti, tetep aja cewek banyak yang tertipu dengan kelihaian rayuan anak cowok. Walah, itu sih cowoknya emang buaya, dan ceweknya ternyata penyayang binatang. Waaah… jadi klop dong?

Jadi, tetep jaga diri, jaga pikiran, dan jaga perasaan ketika jatuh cinta. Jangan nekat mengekspresikannya di jalur yang salah seperti pacaran dan seks bebas. Tetep iffah (jaga kesucian diri) ya. So, kudu ati-ati banget.

Yuk, kita mulai lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak. Jangan terus main-main dalam masalah seserius ini. Kalo pun kita belum mampu untuk menikah, jangan nekat menikah. Karena pernikahan bukan urusan main-main. Oya, kita pun harus rela untuk membuang jauh-jauh pikiran murah dan murahan tentang “pacaran”. Karena pacaran sebatas penyaluran nafsu belaka, bukan cinta. Bener lho. Soalnya kalo emang cinta nggak bakal memilih pacaran. Pacaran itu maksiat. Jadi, jaga diri hingga saatnya siap untuk menikah.

Bro en Sis, ada baiknya sosialisasi tentang kesucian pernikahan kepada para remaja muslim rasa-rasanya perlu digiatkan terus. Jangan sampe kalah dengan sosialisasi pacaran yang sudah berani melanggar batasan norma masyarakat, dan juga ajaran agama.

Ya, tugas kita adalah belajar Islam dengan benar, memahaminya, dan mengamalkannya dengan berdakwah kepada teman yang lain. Sehingga rahmat Islam tersebar makin luas. Insya Allah. [solihin | Twitter: @osolihin]

myIdol

Standard

Kau yang mengaku cinta kepada Nabimu

Kau yang mengaku merindukan Nabimu

Jika kau benar-benar cinta dan rindu kepada Muhammad Nabimu

Buktikan.

Taati perintah-Nya, tinggalkan larangan-Nya

Teladani akhlaknya.

Niscaya kelak kau akan berjumpa dengan Rasullallah

Niscaya kelak kau akan berkumpul dengan Rasullallah

Kau ajarkan hidup ini untuk saling mengasihi

Ku tanamkan dalam hati kuamalkan sejak dini

Engkaulah Nabi pembawa cinta

Kau bimbing kami menuju surga

Special Thanks for Haddad Alwi and Friends untuk lagu yang bertajuk Rindu Muhammad.

Izinkan kiranya saya berbagi kisah. Kisah yang sungguh tidak penting bagi Temans and Sedulurs. Jikalau tidak berkenan membacanya, sudilah kiranya memaafkan kesalahan-kesalahan saya. Walau sebenarnya tidak pantas untuk dimaafkan.

Saya ingin berbagi tentang teman saya. Seorang pemain basket professional yang kedigdayaannya sudah tidak diragukan lagi. Si Teman ini mengidolakan beberapa orang yang hebat dan sukses di dunia. Namun tidak satu pun yang pemain basket. Bob Marley dan Malcolm X.

Siapa yang tidak kenal Bob Marley? Nama kesohor di Jagad Reagge. Lagu-lagunya menginspirasi miliyaran pasang mata di dunia. Bob Marley merupakan Pemusik yang sangat cinta damai. Bahkan pernah mendamaian kemelut politik yang terjadi di Jamaika. Negaranya Bob. Bob mempertemukan dua kubu yang berseteru, yakni Edward Seaga dan Michael Manley, keatas satu panggung. Berdamai.

Bagi teman saya si Pebasket ini, Bob adalah sosok yang hampir tanpa celah. Namun anggapan ini berubah drastis ketika membaca memoar Bob Marley yang ditulis oleh Rita Marley, istri Bob. Dalam memoar tersebut justru diutarakan sisi-sisi lain Bob yang mengecewakan.

Siapa pula dari kita yang tidak mengenal Malcolm X? Pejuang Islam berkulit hitam dari Negeri Paman Sam. Saya yakin hingga detik ini semua dari kita tidak ada yang kecewa dengan Malcolm X. Beliau sosok pejuang Islam yang mengagumkan. Seperti kita, manusia pada umumnya, Malcolm juga mempunyai idola. Tokoh yang dipanuti. Tidak lain dan tidak bukan adalah Elijah Muhammad, yakni orang yang membimbing Malcolm untuk memeluk Islam.

Elijah begitu dipuja oleh Malcolm lantaran banyak memberi pencerahan dan kedamaian dalam hidup. Perlu diketahui bahwa Elijah Muhammad merupakan Ketua Perkumpulan Nation of Islam yang menaungi Umat Islam berkulit hitam di Negeri Paman Sam. Elijah, menurut beberapa penuturan ahli, mengaku sebagai nabi penerus Nabi Muhammad. Elijah juga mengajarkan kebencian kepada ras berkulit putih. Malcolm pun mengamini segala ajaran Elijah.

Hingga suatu ketika Malcolm mendapat Hidayah Allah dan mengerti Islam yang sesungguhnya bawah tidak ada Nabi setelah Kanjeng Nabi Muhammad (sholawat keatas beliau). Malcolm pun kecewa kepada Elijah. Terlebih setelah mengetahui ternyata Elijah mempunyai anak diluar nikah. Bagi Malcolm hal tersebut merupakan aib yang tidak dapat ditawar-tawar. Begitupun dalam Agama ini.

Teman saya si Pebasket tertegun dengan fakta-fakta yang ada pada kedua idolanya ini. Dan saya pribadi menarik kesimpulan kira-kira seperti ini,

“Manusiawi jikalau kita mempunyai tokoh idola. Seorang yang kita panuti. Hargai. Bahkan kalau bisa perihidupnya kita ikuti. Namun bersiaplah menerima kekecewaan lantaran mereka juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Untuk itu kita mesti punya Idola yang paling utama. Perihidupnya sangat kita perlukan agar tidak tersesat mengarungi hidup ini. Siapakah Idola Utama kita? Menurut Panjenengan?”

Si Pebasket pun sadar siapa yang mesti diidolakan dan dipanuti tanpa ragu sedikitpun. Seorang yang hidupnya tanpa celah. Makshum. Ia Kekasih Allah. Ia punya banyak kawan. Juga lawan. Namun Ia tidak pernah mengecawakan seorang pun di dunia ini. Baik kawan maupun lawan. Panjenengan kenal siapa Beliau?

Perlahan namun pasti si Pebasket mulai mengenal sosok agung ini melalui buku-buku yang bertajuk “Sirah“. “Sirah” berasal dari Bahasa Arab yang artinya Sejarah. Bukan “Sira” dalam Bahasa Jawa yang artinya Kepala. Hingga kini sudah sangat banyak buku-buku Sirah koleksi si Pebasket. Dan suatu ketika terjadi hal sangat menggelikan bagi saya. Ketika ia jalan-jalan ke Gramedia, ia menemukan buku tebal masih bertema Sirah, berkover bagus, berharga sangat mahal. Dengan sangat tidak sabar ia langsung membeli buku tersebut.

Saat sampai di rumah, dibaca beberapa lembar dan disadari bahwa ia sudah punya buku yang sama persis. Hanya disain kovernya saja yang berbeda. Geli, pikir saya.

BDZ

BDZ

Sekian. Kenali idola kita lebih dalam. Apresiasi buat http://mainbasket.wordpress.com

Quod Erat Demonstrandum

Duniaku

Standard

Bintang di langit, kerlip engkau di sana

Memberi cahayanya di setiap insan

Malam yang dingin, kuharap engkau datang

Memberi kerinduan di sela mimpi-mimpinya

Melangkah sendiri ditengah gelap malam

Hanya untuk mencuri jatuh sinaran

Tak terasa sang waktu melewati hidupnya

Tanda pagi menjelang mengganti malam

Special Thanks for Air untuk lagu dengan nada rancak yang bertajuk Bintang. Lagu yang selalu menemani kita tatkala menatap langit melihat Rembulan dan Gemintang. Ciptaan Yang Maha Kuasa yang selalu kita kagumi Keindahannya.

Cluster Galaksi

Cluster Galaksi

Setiap Keindahan Ciptaan-Nya kerap membuat kita berdecak kagum dan bergumam, “Subhanallah.” Seperti apapun Indahnya makhluk Allah, hendaknya yang kita puja adalah Allah Sang Pencipta segalanya.

Saya bukan seorang Ahli Astronomi, namun sejak kecil sudah tertarik dengan segala bentuk keindahan Langit. Temans and Sedulurs tentu masih ingat dengan kejadian alam yang baru terjadi pada 10-11 Desember 2011 yang lalu. Yakni terjadinya Gerhana Bulan Total dengan durasi terlama.

10 Desember 2011: di kota Masaki Jepang

10 Desember 2011: di kota Masaki Jepang

10 Desember 2011:di ibukota Jepang Tokyo

10 Desember 2011:di ibukota Jepang Tokyo

10 Desember 2011: di Devin Kruse

10 Desember 2011: di Devin Kruse

10 Desember 2011: di Cape Verde Arizona

10 Desember 2011: di Cape Verde Arizona

Dunia Astronomi mempelajari tentang pengamatan benda-benda langit serta fenomena-fenomena alam yang terjadi diluar atmosfer Bumi. Saat terjadi kejadian alam yang langka seperti Gerhana Bulan, banyak sekali beredar mitos-mitos yang lahir dari Dunia Astrologi. Astrologi sangat berbeda dengan Astronomi.

Astrologi mencoba menerjemahkan kenyataan dan keberadaan manusiawi, berdasarkan posisi dan gerak-gerik relatif berbagai benda langit. Bagi Para Astrologer, hubungan itu tidak perlu sebab musabab. Biasanya hanya berdasarkan ramalan yang sudah turun temurun.

Saya sangat mencintai Dunia Astronomi namun begitu membenci Astrologi. Karena Astrologi dengan sombongnya mengaku bisa meramal nasib manusia hanya dengan melihat gejala alam dan posisi benda-benda langit. Jadi mereka menghendaki nasib ini bergantung pada benda-benda langit bukan kepada Allah Yang Mencipta alam semesta ini.

Beberapa mitos konyol dari Dunia Astrologi bahkan masih dipercaya di negara-negara maju yang memberi perhatian serius dalam Dunia Astronomi. Di India dipercaya bahwa saat gerhana terjadi, bumi akan diselubungi kegelapan. Gerhana menciptakan medan energi negatif. Selain itu, kuman-kuman di atmosfer menjadi aktif, level kontaminasi kuman itu juga akan meningkat drastis. Mitos tersebut diumbar pendeta Kuil Lakshmi-Narayan, Mukesh Kothari, India.

Di Jepang, orang percaya bahwa waktu gerhana ada racun yang disebarkan ke bumi. Dan untuk menghindari air di bumi terkontaminasi racun, mereka menutupi sumur-sumur mereka.

Fakta yang ada adalah Gerhana Bulan akan mempengaruhi tingginya pasang surut air laut. Sangat mungkin dapat menimbulkan bencana. Namun hal itu semata-mata terjadi dengan izin Allah juga. Untuk itu Rasulullah menuntun kita untuk melakukan Sholat Gerhana dan banyak berdzikir. Bukannya ketakutan lantaran mempercayai Astrologi gendheng.

Mitos Astrologi lain yang sangat dipercaya adalah tentang Zodiak. Zodiak dapat meramalkan nasib manusia berdasarkan posisi bintang saat kita dilahirkan. Sungguh kesyirikan yang nyata karena menggantungkan nasib pada selain Allah. Jikalau kita terlahir dengan Zodiak yang sial, apa lantaran kita akan sial seumur hidup? Saat Allah menciptakan kita, apakah kita pernah rikues untuk lahir di Zodiak yang sial ataupun beruntung? Apakah Allah berlaku tidak adil dengan menetapkan kesialan dan keberuntungan berdasarkan Zodiak tolol? Jawab sendiri ya.

Solahuddin al-Ayubi adalah salah seorang tokoh yang saya kagumi. Sedikit banyaknya Beliau mengerti Dunia Astronomi. Namun persis seperti saya, Beliau tidak percaya pada Astrologi. Tatkala Beliau hendak memasuki Gerbang Kota Jerussalem, beberapa peramal Astrologi menasihati Beliau tentang ramalannya setelah mengamati bintang di suatu malam, “Kalau Panjenengan mencoba menaklukan Jerusalem, Panjenengan akan kehilangan sebelah mata” Solahuddin membalas, “Aku percaya kepada Allah, aku akan menaklukan Tanahsuci meskipun harus masuk Jerusalem dengan buta kedua mata”

Sungguh Ksatria tangguh. Berhati baja. Beriman dan bertakwa hanya kepada Allah. Dan Jerussalem pun ditaklukan.

Quod Erat Demonstrandum

Syaikh Tarbiyah

Standard

Lantunan nada jiwa untuk-Mu

Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu

Berlaku pasti atas kami hukum-Mu

Adil pasti atas kami keputusan-Mu

Ya Allah kami memohon kepada-Mu

Dengan semua Nama yang jadi Milik-Mu

Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu

Atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu

Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu

Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib

Kami memohon agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung

Sebagai musim bunga hati kami, Cahaya hati kami, Pelipur sedih dan duka kami

Pencerah mata kami

Ya Allah, yang menyelamatkan Nuh dari taufan yang menenggelamkan dunia

Ya Allah, yang menyelamatkan Ibrahim dari api kobaran yang marak menyala

Ya Allah, yang menyelamatkan Musa dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa

Ya Allah, yang menyelamatkan Isa dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana

Ya Allah, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatuwassalam dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat, pasukan sekutu Ahzab angkara murka

Ya Allah, yang menyelamatkan Yunus dari gelap lautan, malam,dan perut ikan

Ya Allah, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya

Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya

Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

Ya Allah, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosaBegitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia

Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka

Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya Allah, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami

Ya Allah, Ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami

Dan Rahmah Kasih Sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri

Ya Allah, jadikan kami kebanggaan Hamba dan Nabi-Mu Muhammad di padang mahsyar nanti

Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu

Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab

Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami, ummati ummati,ummatku, ummatku

Pemimpin bagai para Khalifah yang rela mengorbankan semua kekayaan demi perjuangan

Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera

Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya Allah, dengan kasih sayang-Mu

Engkau kirimkan kepada kami Da’i penyeru iman kepada nenek moyang kami penyembah berhala

Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah

Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran

Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami

Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini

Dengan sikap malas dan enggan berda’wah

Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa

Demikianlah untaian kata-kata yang sangat Indah dirangkai oleh Kiyai Rahmat Abdullah. Semoga kata-kata diatas semakin menyadarkan kita tentang keberadaan Allah dan keberadaan kita. Tentang Cinta-Nya Allah dan durhakanya kita. Tidak perlu banyak kata lagi untuk berkomentar terhadap tulisan-tulisan beliau. Semua berpulang kepada kita masing-masing. Sejauh mana merefleksikan setiap petuah dari Beliau. Sudah sampai mana Muhasabah kita setiap harinya. Sudahkah kita menjadi lebih baik? Baik di sisi Allah tentu. Kebaikan yang hakiki. Bukan sekedar kebaikan untuk mencari Simpati semu manusia.

Untuk Kiyai Rahmat Abdullah sendiri, kita juga tidak perlu banyak komentar tentang sepak terjang Beliau dalam berdakwah, memberikan keteladanan dan usaha-usaha lain untuk mengantarkan kita menuju Cinta-Nya Allah. Menjadi Keluarga Rasulullah.

Cukuplah kiranya mereka yang expert yang berkomentar tentang Sang Kiyai,

Ribuan langkah kau tapaki, pelosok negeri kau sambangi

Tanpa kenal lelah jemu sampaikan firman Tuhanmu

Terik matahari tak surutkan langkahmu

Deru hujan badai tak lunturkan azzammu

Raga ‘kan terluka tak jerikan nyalimu

Fatamorgana dunia tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih panjatkan ampun bagimu

Semua makhluk berdoa limpahkan rahmat atasmu

Duhai pewaris nabi duka fana tak berarti

Surga kekal dan abadi balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami kau semai nilai nan suci

Tegak Panji Illahi bangkit generasi Robbani

Demikian untaian lirik Indah dari Izzatul Islam yang menggambarkan apresiasi yang demikian dalam untuk sosok Sang Kiyai. Tidak hanya untuk Kiyai Rahmat Abdullah sebenarnya, tapi juga untuk seluruh Pejuang Dakwah di jagad raya ini yang telah dengan tulus ikhlas mewakafkan jiwa raga kepada Allah. Untuk tegaknya Kalimatullah di setiap jengkal bumi ini.

Kurasakan syairmu abadi

Jejak kesolehan yang kau tinggalkan untuk kami

Tentang cerita sebuah integritas keimanan

Suatu ketika semangatmu bangunkan tidur kami

Rahmat Abdullah Syairmu abadi, iringi perjuangan dalam kesatuan hati

Rahmat Abdullah Jejakmu abadi, menjadi cermin sejati anak-anakmu disini

Ungkapan hati lain dari Thufail Al Ghifari (Lead Vocal From The Roots Of Madinah) tentang sosok mulia ini. Sosok bersahaja.

Kiyai Rahmat
Kiyai Rahmat

Beliau bergelar Asy-Syaikh At-Tarbiyah. Gelar yang sangat indah, tidak berlebihan dan memang pantas disandang oleh Beliau. Saya sangat yakin bahwa segala bentuk gelar apakah Kiyai, Syaikh dan sebagainya sangatlah tidak penting bagi Beliau. Tapi justru penting bagi kita agar kita semakin tergugah untuk mengikuti setiap jejak langkah-langkah agung itu.

Kita ini apa? Panjenengan lan kulo iki opo? Gelar apa yang tersemat pada diri kita? Paling-paling hanya gelar karpet kalau tidak tikar. Syukur jikalau gelar sajadah.

Suatu ketika seorang teman mengungkapkan kekaguman terhadap sesuatu yang ada pada diri saya. Bukan kekaguman pada saya sebenarnya. Tapi pada Kaos yang saya kenakan. Bergambar Sang Kiyai. Diapun bertanya dimana saya dapatkan Kaos ini, “Gakda di Medan!!

Demikian. Tiada hari tanpa Kebaikan. Impian John Lennon adalah “All the people Living life in peace“. Jangan cuma bermimpi! Kita hidup di dunia nyata. Lakukan tindakan nyata! So, Stop Dreaming! Start Action. Selaraskan hidup dengan alam.

Quod Erat Demonstrandum

Anumerta Bintang Lima

Standard

Insjafilah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnja) beloem pernah toeroet berperang (membela keadilan) bahkan hatinya berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafekan.”

Kata-kata diatas sungguh Indah. Terlontar dari lisan seorang guru Sekolah Muhammadiyah.

Sang Jenderal

Sang Jenderal

Saya adalah salah seorang yang sangat mengidolakan Beliau. Banyak sekali kesamaan yang kami berdua miliki. Mulai dari wajah dan lain sebagainya. Bahkan penyakit yang kami deritapun sama. Kalau Penjenengan semua bernafas dengan dua paru-paru, kami hanya dengan satu paru-paru. Bahkan Presiden Sukarno meminta Sang Jenderal menjalani perawatan karena penyakit yang beliau derita sudah sangat parah.

Namun apa kata Sang Jenderal, “Yang sakit itu Soedirman, panglima besar tidak pernah sakit.”  Tidak terbayangkan begitu besarnya semangat perjuangan Beliau dalam melawan musuh dan penyakit yang dideritanya.

Itulah Beliau. Seorang Jenderal Besar yang lahir dari keluarga sederhana di lingkungan Keluarga Besar Muhammadiyah. Sebelum menjadi Jenderal, tak seorangpun memperhitungkan sepak terjang beliau yang hanya seorang Guru Sekolah Muhammadiyah. Bekal Militer sempat beliau peroleh saat pelatihan di PETA.

Saking tidak diperhitungkannya, biar Panjenengan tahu, saat Beliau hendak dilantik menjadi Panglima TNI, surat kabar salah memuat foto Beliau. Tertukar dengan foto Soedirman lain dari Surabaya.

Ketika sudah saatnya Sang Jenderal dipanggil Allah, Malaikat Maut memeluknya dengan penuh senyuman. Tak ada sedikitpun harta benda yang Beliau wariskan untuk anak-anaknya. Namun beliau mewariskan satu kalimat agung yang diajarkan kepada anak-anak Beliau dan kita semua, “Isy Kariiman Aumut Syahidan

Apakah sekarang Penjenengan rindu dengan sosok sehebat Beliau? Kalau iya, jangan takut. Karena di Bulan Juli nanti sejarah perjuangan Beliau akan dirangkai dalam bentuk film. “Kita butuh keteladanan pemimpin yang berintegritas, jujur, rela berkorban demi kemajuan bangsa, sebagaimana yang ditunjukkan oleh tokoh Jenderal Soedirman,” demikian kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Lingkungan Hidup dan Lembaga Seni Budaya, Syukriyanto AR.

Skenarion film ditulis oleh Koesyuliadi. Beliau menjelaskan bahwa film ini digarap berdasarkan riset sejumlah buku biografi Jenderal Soedirman dan dari wawancara dengan keluarga dan sahabat Jenderal Soedirman.

Yang paling membuat saya tidak sabar melihat film ini adalah lantaran akan dibuat sebanyak tiga sekuel. Sekuel pertama di Cilacap, ketika Beliau terlibat aktif dalam gerakan kepanduan Hizbul Wathan dan sebagai guru Sekolah Muhammadiyah. Sekuel kedua di Yogya, menampilkan perjuangan Sang Jenderal membelah Tanah Air di Yogya. Dipaparkan pula pertemuan Beliau dengan Letkol Soeharto dan Sultan Yogyakarta. Sekuel ketiga, menyajikan perjuangan gerilya Sang Jenderal saat Revolusi Kemerdekaan.

Demikian. Kita tunggu ya tayangan filmnya. Semoga bisa kita ambil i’tibar dari manusia mulia ini. Manusia sederhana yang sangat tidak ingin makamnya dikultuskan. Secara Anumerta, Bintang Lima tersemat di gelarnya, menambah kemuliaan Sang Jenderal.

Sang Jenderal

Sang Jenderal

Quod Erat Demonstrandum

Desa Pattimura

Standard
Ahmad Lesy

Ahmad Lesy

Bentuk dan motivasi masuknya Islam ke Maluku tidak bisa dibicarakan lepas dari bentangan perjalanannya dari Malaka dan Jawa. Mengambil titik berangkat dari situ, berarti kita diajak untuk melihat metode-metode dasar yang dipakai para khalifah, yakni melalui tindakan ekonomi (perdagangan). Tetapi kemudian bagaimana mereka berhasil mengadaptasi diri didalam masyarakat, dan membangun komunikasi dengan para pemimpin lokal di suatu wilayah (aspek politik), serta juga menggunakan mekanisme-mekanisme kebudayaan sebagai cara mengadaptasi diri secara efektif (aspek kebudayaan).

Setidaknya, dari sisi metode kebudayaan, setiap jejak yang ditinggalkan Islam di satu daerah juga meninggalkan bukti bahwa Islam sangat intens berdialog dengan kebudayaan masyarakat setempat. Contoh paling sederhana adalah ketika ada peninggalan masjid-masjid yang khas Jawa, Banten, atau juga masjid-masjid yang khas Maluku (seperti Masjid Wapauwe di Hila).

Titik berangkat itu yang membuat pertemuan Islam dengan Kerajaan Ternate berlangsung tanpa masalah yang berarti. Kerangka kebudayaan orang-orang Ternate malah dijadikan sebagai batu loncatan dalam melebarkan ajaran-ajaran Islam sampai ke pelosok-pelosok. Para ulama lokal, malah nekat bertandang ke Gresik dan Tuban untuk memperdalam ilmu Islam, dan kembali menyebar Islam di negerinya itu.

Pendekatan yang sama pun digunakan ketika Islam mulai masuk ke Ambon, melalui Hitu. Dialog yang intens dengan kebudayaan kembali terjadi di situ. Dan itu merupakan bukti bahwa perdagangan atau aspek ekonomi hanya menjadi instrumen yang mendorong Islam bergerak dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi kebudayaan menjadi instrumen yang membangun rasa keislaman yang tinggi di dalam hidup masyarakat.

Ketika Islam masuk ke Indonesia kekuatan koloni Eropa belum bergerak, atau dominasi perdagangan rempah-rempah masih dipegang oleh pedagang Cina dan Arab. Ketika masuk ke Indonesia, Islam merajai jalur-jalur perdagangan yang penting seperti: pesisir Sumatera di selat Malaka, semenanjung Malaya, pesisir utara Jawa, Brunei, Sulu dan Maluku. Jalur perdagangan kayu cendana di Timor masih tetap menjadi wilayah non-Islam, dan kurang diminati pada pedagang Islam.

Walau begitu, ketegangan di kerajaan-kerajaan lokal di Maluku, seperti di Ternate tidak bisa diabaikan sebagai bagian dari fakta sejarah ketika Islam berjumpa dengan masyarakat di sana. Tetapi satu hal yang menarik adalah Islam Maluku yang terbentuk dari Ternate itu kemudian meluas ke pulau Ambon, dan terbentuk suatu Pan-Islami, yang terus berkembang ke daerah Lease. Seiring dengan itu, kerajaan Iha di Saparua menjadi simbol kekuatan Islam baru di Maluku Tengah, selain Hitu.

Islamisasi Ternate, Hitu, Lease sebenarnya berlangsung secara wajar karena kekuatan perdagangan Islam mulai terbentuk di kawasan itu. Paramitha Abdoerachman mengatakan Hitu menjadi penting karena banyak pedagang mendapat pasokan air tawar dari situ. Fakta ini pun sebenarnya sama dengan ketika Banda menjadi bandar Islam yang cukup penting, karena pasokan ikan yang enak kepada para pedagang.

Politik damai itu melahirkan simpati kelompok lokal yang semula memeluk agama asli (agama suku) menjadi penganut Islam yang rajin. Bahkan hal itu pun terlihat ketika negeri-negeri Hatuhaha Amarima kemudian menjadi pusat kemashyuran Islam tertua di Lease. Untuk yang satu ini memang perlu penelitian lebih mendalam, sebab Islam Hatuhaha Amarima memiliki tatanan ritus Islami yang khas dan kontekstual, seperti ritus Puasa dan Haji.

Mengapa Islam Maluku patut disebut sebagai suatu gerakan agama yang khas? Sebab Islam Maluku adalah suatu sintesa rampat mengenai bagaimana agama masuk melalui cara membahasa orang setempat.

Di Maluku kita akan menemui bagaimana orang-orang Islam Tulehu, Liang, Tial, Hila, Latu, Kasieh, Lisabata, Pelauw, Ori, Kailolo, Iha, menggunakan bahasa ibu mereka dalam komunikasi sesehari. Bahasa Arab menjadi bahasa agama yang digunakan dalam upacara sakral agama, tetapi kesehariannya menggunakan bahasa setempat. Fenomena ini tidak lagi ditemui pada negeri-negeri Kristen, kecuali di Maluku Tenggara, tetapi juga sudah mulai ditinggalkan oleh generasi mudanya.

Pada sisi ini, Islam Maluku adalah suatu hasil adaptasi kebudayaan yang sangat penting. Dalam adaptasi itu bagaimana struktur bahasa setempat dijadikan sebagai mekanisme penyebaran ajaran agama, dan ditempatkan sebagai unsur yang penting.

Hal ini yang membuat corak kultural di dalam Islam begitu kuat, karena itu agamanya menjadi gampang diterima dan dipandang sebagai agama yang “membawa damai”. Unsur kedamaian yang dirasakan itu adalah ketika masyarakat tetap berkomunikasi dengan bahasanya, sehingga mereka tidak merasa teralienasi dari kelompok besar.

Memang dalam menentukan corak kultural kepada Islam Maluku kita perlu mempertimbangkan kembali beberapa hal seperti, sejauhmana Islam Maluku itu memanfaatkan ritus-ritus adat sebagai suatu bentuk kontekstualisasinya. Orang Islam, menurut Chauvel, memang tidak suka dengan struktur raja seperti diintroduksi oleh Eropa, dan karena itu malah menganggap (sebagian dari) adat sebagai yang mengandung unsur kafir dan haram.

Tetapi adaptasi Islam Maluku ke dalam bahasa setempat memperlihatkan suatu corak beragama yang unik.

Agama memiliki ruang guna yang efektif jika agama itu dimengerti sebagai produk kebudayaan masyarakat setempat, dan akan semakin efektif jika dibangun dalam fondasi-fondasi kontekstual, suatu usaha menjadikan dirinya bagian yang co-inside dengan masyarakat pemeluknya.

“Islam Maluku” kiranya dipahami sebagai suatu produk kebudayaan yang pernah dihasilkan dalam sejarah agama di Maluku. Ia memiliki kaitan yang kuat dengan latar budaya masyarakat. Suatu hal yang perlu didekonstruksi untuk mere-rekonstruksi suatu tipikal Islam yang relevan bagi orang Maluku. Tipikal kekristenan yang inklusif dan kultural.

“Islam Maluku” dalam sisi tertentu memperlihatkan perlunya usaha translasi ajaran Islam kedalam kehidupan masyarakat Maluku. Sebuah usaha hermeneutis yang sedapat-dapatnya mendorong pemahaman dan pengertian bersama mengenai hakekat ketuhanan dan hakekat kemanusiaan orang-orang Maluku.

Fenomena pluralisme adalah fenomena yang akan bisa kita urus bersama jika Islam Maluku pun telah mampu merefleksikan diri dan ajarannya secara kontekstual. Tidak ada halangan yang berarti di dalam pluralism itu, sebab budaya “orang basudara” telah menjadi mekanisme kultural yang melekat kuat di dalam perilaku sosial dan agama kita orang Maluku.

Buku Rujukan:

Alwi, Des, Sejarah Maluku, Banda Neira, Ternate, Tidore dan Ambon, Jakarta: Dian Rakyat, 2005

Disampaikan oleh Elifas Tomix Maspaitella – Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Maluku

Dari saya:

Ingat teman. Tidak ada rusuh-rusuh di Ambon itu. Katong samua Maluku, ale rasa beta rasa, karena katong samua satu darah, katong basudara. Maluku tanah indah, titisan Nusa Ina.

Jangan bikin malu Kapitan Pattimura yang telah bersimbah darah mengusir Kolonial dari Bumi Maluku. Jangan bikin malu Para Sultan baik Ternate maupun Tidore yang telah berjuang menegakkan Kalimat Allah hingga ke seberang Papua.

Children of Molluca, para pemuda Maluku yang kreatif dan inovatif. Tetaplah berkarya untuk menaikkan harkat dan martabat daerahmu. Berkarya sepenuh hati dengan tulus dan ikhlas. Juga demi Bumi Nusantara agar kembali gemah ripah loh jinawi.

Hei Kamu! Pemuda Maluku. Turunan Pattimura. Turunan Para Sultan Ternate dan Tidore. Penjaga Gunung Gamalama. Dan Aku, turunan Ajisaka. Kita semua tetap satu turunan Nabi Adam dan Ibunda Hawa. Bangkit tegak bersama mengangkat kembali harkat dan martabat Indonesia sebagai Macan Asia. Biarkan ia kembali mengaum.

Semua bebas berkarya. Semua bebas berekspresi. Tanpa ada hasrat ingin memusuhi. Yang Nasrani tetap dan mesti Kebaktian di tiap Ahadnya. Yang ngaku Muslim dengan indahnya khusyuk bersujud simpuh di Langgar maupun Surau. Bhinneka Tunggal Ika di lubuk hati kita.

Dan yang terakhir, janganlah bikin malu abang kita Sapulete, Mujahid Ambon yang membantu mengusir Israel dari Palestine. Dengan darahnya dan izin Allah, Israelpun hengkang. Walaupun Si Bedebah Ariel Sharon dan kroninya mlebuh mene hingga kini. Cah Gendheng iku.

Senja di Pulau Seram

Senja di Pulau Seram

Quod Erat Demonstrandum

RK Dreams

Standard

Hitori de wa tooi ashita wo
Yoake no mama de koesou de
Butsukatteikya kokeru omoi yo
Konya mo mata sure chigai

Sanzan sugite doryoku no ato mo
Naku naru kekka only no tsuna watari
Yaru dake son suru yona mainichi wa
Sha ni kamaeteta hou koso raku ni naru

Atsukute tsurai jibun wo kakushite mijikai toki wo ikiteru

Special Thanks for TM. Revolution untuk lagu bertajuk Heart of Sword. Lagu yang sangat menggambarkan isyarat hati dari Sodara kembar saya, Himura.

Himura merupakan seorang Samurai yang hidup di era Pemerintahan Meiji saat Ibukota Jepang masih bernama Edo. Himura berasal dari Kelompok Jyoi yang tidak setuju jikalau Pemerintah Jepang bekerja sama dengan pihak asing. Dia bersama teman-teman yang lazim disebut dengan Hitokiri atau pembunuh berdarah dingin melakukan pemberontakan kepada Pemerintahan Meiji. Akhir perjuangannya adalah pada 1871 M, Pemerintahan Meiji berhasil menangkap dan menghukum mati Himura.

Kisah nyata sejarah Jepang diatas merupakan kisah yang melatarbelakangi Komik Rurouni Kenshin yang dibesut Nobuhiro Watsuki. Sosok Himura dalam dunia nyata adalah Kawakami Genzai seperti dikisahkan diatas.

Kawakami Genzai

Mungkin Temans and Sedulurs semua sudah kangen dengan Himura yang memang sudah tidak dilanjutkan serialnya baik versi Komik maupun Kartun. Kangen dengan kisah cinta Himura dan Kaoru. Alhamdulillah. Rasa kangen kita, RK Dreams, akan terobati pada 25 Agustus 2012. Akan segera rilis movie Rurouni Kenshin Live Action Version. Atau yang lazim disebut dengan versi manusia.

Namun belum diketahui secara persis kisah mana yang akan diangkat ke Layar Lebar. Jikalau dilihat dari trailernya kelihatan season 1 dan 2 yang akan diangkat. Masih delapan bulan lagi waktu untuk menunggu movie ini. Sabar-sabar ya.

Disutradari oleh Keishi Otomo. Dibintangi Takeru Sato sebagai Himura. Emi Takei, Teruyuki Kagawa, Yu Aoi dan lainnya sebagai teman-teman Himura. Diproduksi oleh Warner Bros Jepang. Harapannya movie ini dapat menjadi obat penawar rindu bagi kita RK Dreams sejagad raya. Setelah sekian lama tidak terdengar kabar tentang ksatria hebat ini.

Live Action

Live Action

Mungkin Temans and Sedulurs semua ada yang tidak paham dengan lirik TM. Revolution diatas, dibawah ini terjemahannya.

When I’m alone, tomorrow feels far away
And I must go over still into the darkness of dawn
If I try to play it straight it will no doubt fail
And tonight it won’t go well between us again

You can’t see all of my hard efforts, because it’s only result
Is that it makes no sense. It really is a “tightrope”
More effort, more damage, this is my daily life
Taking a cynical attitude may give me some comfort

Hiding myself, heated and irritated, living only a short time.

Quod Erat Demonstrandum

Spirit Cinta

Standard


Tahun Baru. Tuhan Baru. Kemusyrikan Baru. Kemubaziran Baru. Kemaksiatan Baru.

Menulis catatan ini saya awali dengan beristighfar sebanyak-banyaknya. Sadar bahwa seiring bergulirnya waktu, tiada lain tiada bukan, yang bertambah dari diri ini hanyalah kemaksiatan. Jauh api dari panggang. Harapan penuh harapan. Harapannya ingin agar seiring bergantinya hari semakin baik pula kondisi ketakwaan diri ini kepada Allah. Namun de Facto and de Jure lain adanya.

Apalah arti dari sebuah Pergantian Tahun? Adakah perbedaan kehidupan yang kita jalani? Yang ada hanyalah pergantian almanak atau kalender. Yang diuntungkan dari Pergantian Tahun hanyalah Tukang Percetakan. Mereka kebanjiran order cetakan almanak atau kalender.

Perayaan Pergantian Tahun. Ya, sedikit beda antara tahun baru dan tahun lama adalah adanya perayaan menantikan detik-detik bergantinya hari. Di dunia ini hanya ada dua bentuk perayaannya. Di hampir semua tempat dirayakan dengan menghidupkan mercon, petasan ataupun kembang api beserta variannya. Semuanya itu dihidupkan dan diarahkan ke langit. Bentuk perayaan yang lain adalah di sebuah negeri kecil bernama al-Quds. Disana keren banget merayakannya.

Para tentara Zionist juga menghidupkan rudal-rudal mereka dan diarahkan ke Rakyat Palestine. Keren kan? Ada yang bisa bikin perayaan yang lebih hebat? Kalo ada, saya ikut kamu deh. Kita hidupkan rudal-rudal kita. Kita arahkan balik ke tentara Zionist. Insya Allah itu bakal jadi perayaan yang terkeren abad ini.

Ketika perayaan hanya dilalui dengan sikap mubazir penuh perilaku hedonis, masih pantaskah Allah menurunkan Rahmat-Nya kepada kita? Dalam fikiran saya masih segar tentang isi materi Jum’at yang lalu di Masjid Jami’ Pinang Baris. Kota Medan terkhusus dan Sumatera Utara pada umumnya,  sebagaimana diketahui bersama, sangatlah jauh dari bencana. Alhamdulillah. Jakalau kita cari asbabnya, mungkin lantaran masih banyak warga disini yang dengan hati ikhlas turut memakmurkan Masjid. Masih banyak para pemuda yang hati dan fikirannya terpaut selalu ke Masjid.

Maka janganlah kita mengotori Rahmat dan Nikmat Allah ini dengan sikap mubazir hanya dengan landasan merayakan Pergantian Tahun. Ada baiknya di momen Tahun Baru ini kita menghisab diri. Waktu akan terus bergulir tanpa bisa dicegah. Berarti ajal kitapun sudah kian dekat. Sudah seperti apa persiapan kita untuk bersalaman dengan Malaikat Maut?

Sudah siapkah kita untuk pulang ke Kampoeng Achirat? Sudah siapkah kita untuk perjalanan abadi menuju Padang Mahsyar? Demikian jauh dan melelahkan. Ke Padang Bulan saja naik angkot 52 KPUM perlu ongkos dan bekal. Apalagi ke Padang Mahsyar. Siapkanlah bekal takwa kita sebaik mungkin. Atau mungkin kita malah memperbanyak beban dosa? Hingga kita terseok-seok tatkala berjalan. Semestinya kita persiapkan kendaraan terbaik kita, yakni amal ibadah.

Waktupun akan terus menggilas tanpa peduli amalan kita yang masih secuil. Sudah berapa banyak Anak Yatim yang kita santuni? Sudah berapa banyak Panti Asuhan yang kita beri donasi? Sudah berapa banyak Masjid yang gagah berdiri dan kita turut berwakaf membangunnya? Dan yang paling utama adalah memakmurkannya dengan senantiasa berlari menuju panggilan Allah. Apalah arti megahnya sebuah Masjid jikalau tanpa Jama’ah.

Marilah kita bersempit-sempit ria di setiap Shubuh dengan Jama’ah lainnya. Saya sangat bersyukur di Masjid Istiqomah selalu terisi satu atau dua Shaf di waktu Shubuh. Secara Masjid Istiqomah itu luas banget. Satu Shafnya saja dapat menampung puluhan ribu orang. Sungguh hati kita sangat riang gembira tatkala Masjid kita terisi penuh hingga ke teras. Bahkan meluber hingga ke halaman. Tumpah ruah ke jalan.  Bahkan hingga ke halaman Kompleks Polwan. Dan Yahudipun bakal berujar dengan penuh kedengkian, “Waw!! Ngeri yo Masjid kelen yo. Jama’ah Shubuh-nya lebih dari Jama’ah Jum’at. Ah, kecutlah kami mau ganggu-ganggu kelen lagi.”

Dan akhirnya segala Refleksi di pergantian Almanak Masehi ini berpulang ke lubuk hati kita masing-masing. Karena yang bisa mencegah kita untuk berbuat lebih baik hanya Tuhan dan diri kita sendiri. Saya tentu tidak bisa mencegah panjenengan semua untuk berbuat baik.

Hanya sedikit pesan terakhir dari Sang Guru, hindari Mirasantika. Karena,

Gara-gara kamu! Orang bisa menjadi gila.
Gara-gara kamu! Orang bisa putus sekolah.
Gara-gara kamu! Orang bisa menjadi edan.
Gara-gara kamu! Orang kehilangan masa depan.

Impian John Lennon adalah “All the people Living life in peace“. Jangan cuma bermimpi! Kita hidup di dunia nyata. Lakukan tindakan nyata! So, Stop Dreaming! Start Action. Selaraskan hidup dengan alam.

Quod Erat Demonstrandum