Spirit Cinta

Standard


Tahun Baru. Tuhan Baru. Kemusyrikan Baru. Kemubaziran Baru. Kemaksiatan Baru.

Menulis catatan ini saya awali dengan beristighfar sebanyak-banyaknya. Sadar bahwa seiring bergulirnya waktu, tiada lain tiada bukan, yang bertambah dari diri ini hanyalah kemaksiatan. Jauh api dari panggang. Harapan penuh harapan. Harapannya ingin agar seiring bergantinya hari semakin baik pula kondisi ketakwaan diri ini kepada Allah. Namun de Facto and de Jure lain adanya.

Apalah arti dari sebuah Pergantian Tahun? Adakah perbedaan kehidupan yang kita jalani? Yang ada hanyalah pergantian almanak atau kalender. Yang diuntungkan dari Pergantian Tahun hanyalah Tukang Percetakan. Mereka kebanjiran order cetakan almanak atau kalender.

Perayaan Pergantian Tahun. Ya, sedikit beda antara tahun baru dan tahun lama adalah adanya perayaan menantikan detik-detik bergantinya hari. Di dunia ini hanya ada dua bentuk perayaannya. Di hampir semua tempat dirayakan dengan menghidupkan mercon, petasan ataupun kembang api beserta variannya. Semuanya itu dihidupkan dan diarahkan ke langit. Bentuk perayaan yang lain adalah di sebuah negeri kecil bernama al-Quds. Disana keren banget merayakannya.

Para tentara Zionist juga menghidupkan rudal-rudal mereka dan diarahkan ke Rakyat Palestine. Keren kan? Ada yang bisa bikin perayaan yang lebih hebat? Kalo ada, saya ikut kamu deh. Kita hidupkan rudal-rudal kita. Kita arahkan balik ke tentara Zionist. Insya Allah itu bakal jadi perayaan yang terkeren abad ini.

Ketika perayaan hanya dilalui dengan sikap mubazir penuh perilaku hedonis, masih pantaskah Allah menurunkan Rahmat-Nya kepada kita? Dalam fikiran saya masih segar tentang isi materi Jum’at yang lalu di Masjid Jami’ Pinang Baris. Kota Medan terkhusus dan Sumatera Utara pada umumnya,  sebagaimana diketahui bersama, sangatlah jauh dari bencana. Alhamdulillah. Jakalau kita cari asbabnya, mungkin lantaran masih banyak warga disini yang dengan hati ikhlas turut memakmurkan Masjid. Masih banyak para pemuda yang hati dan fikirannya terpaut selalu ke Masjid.

Maka janganlah kita mengotori Rahmat dan Nikmat Allah ini dengan sikap mubazir hanya dengan landasan merayakan Pergantian Tahun. Ada baiknya di momen Tahun Baru ini kita menghisab diri. Waktu akan terus bergulir tanpa bisa dicegah. Berarti ajal kitapun sudah kian dekat. Sudah seperti apa persiapan kita untuk bersalaman dengan Malaikat Maut?

Sudah siapkah kita untuk pulang ke Kampoeng Achirat? Sudah siapkah kita untuk perjalanan abadi menuju Padang Mahsyar? Demikian jauh dan melelahkan. Ke Padang Bulan saja naik angkot 52 KPUM perlu ongkos dan bekal. Apalagi ke Padang Mahsyar. Siapkanlah bekal takwa kita sebaik mungkin. Atau mungkin kita malah memperbanyak beban dosa? Hingga kita terseok-seok tatkala berjalan. Semestinya kita persiapkan kendaraan terbaik kita, yakni amal ibadah.

Waktupun akan terus menggilas tanpa peduli amalan kita yang masih secuil. Sudah berapa banyak Anak Yatim yang kita santuni? Sudah berapa banyak Panti Asuhan yang kita beri donasi? Sudah berapa banyak Masjid yang gagah berdiri dan kita turut berwakaf membangunnya? Dan yang paling utama adalah memakmurkannya dengan senantiasa berlari menuju panggilan Allah. Apalah arti megahnya sebuah Masjid jikalau tanpa Jama’ah.

Marilah kita bersempit-sempit ria di setiap Shubuh dengan Jama’ah lainnya. Saya sangat bersyukur di Masjid Istiqomah selalu terisi satu atau dua Shaf di waktu Shubuh. Secara Masjid Istiqomah itu luas banget. Satu Shafnya saja dapat menampung puluhan ribu orang. Sungguh hati kita sangat riang gembira tatkala Masjid kita terisi penuh hingga ke teras. Bahkan meluber hingga ke halaman. Tumpah ruah ke jalan.  Bahkan hingga ke halaman Kompleks Polwan. Dan Yahudipun bakal berujar dengan penuh kedengkian, “Waw!! Ngeri yo Masjid kelen yo. Jama’ah Shubuh-nya lebih dari Jama’ah Jum’at. Ah, kecutlah kami mau ganggu-ganggu kelen lagi.”

Dan akhirnya segala Refleksi di pergantian Almanak Masehi ini berpulang ke lubuk hati kita masing-masing. Karena yang bisa mencegah kita untuk berbuat lebih baik hanya Tuhan dan diri kita sendiri. Saya tentu tidak bisa mencegah panjenengan semua untuk berbuat baik.

Hanya sedikit pesan terakhir dari Sang Guru, hindari Mirasantika. Karena,

Gara-gara kamu! Orang bisa menjadi gila.
Gara-gara kamu! Orang bisa putus sekolah.
Gara-gara kamu! Orang bisa menjadi edan.
Gara-gara kamu! Orang kehilangan masa depan.

Impian John Lennon adalah “All the people Living life in peace“. Jangan cuma bermimpi! Kita hidup di dunia nyata. Lakukan tindakan nyata! So, Stop Dreaming! Start Action. Selaraskan hidup dengan alam.

Quod Erat Demonstrandum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s