Daily Archives: January 5, 2012

Desa Pattimura

Standard
Ahmad Lesy

Ahmad Lesy

Bentuk dan motivasi masuknya Islam ke Maluku tidak bisa dibicarakan lepas dari bentangan perjalanannya dari Malaka dan Jawa. Mengambil titik berangkat dari situ, berarti kita diajak untuk melihat metode-metode dasar yang dipakai para khalifah, yakni melalui tindakan ekonomi (perdagangan). Tetapi kemudian bagaimana mereka berhasil mengadaptasi diri didalam masyarakat, dan membangun komunikasi dengan para pemimpin lokal di suatu wilayah (aspek politik), serta juga menggunakan mekanisme-mekanisme kebudayaan sebagai cara mengadaptasi diri secara efektif (aspek kebudayaan).

Setidaknya, dari sisi metode kebudayaan, setiap jejak yang ditinggalkan Islam di satu daerah juga meninggalkan bukti bahwa Islam sangat intens berdialog dengan kebudayaan masyarakat setempat. Contoh paling sederhana adalah ketika ada peninggalan masjid-masjid yang khas Jawa, Banten, atau juga masjid-masjid yang khas Maluku (seperti Masjid Wapauwe di Hila).

Titik berangkat itu yang membuat pertemuan Islam dengan Kerajaan Ternate berlangsung tanpa masalah yang berarti. Kerangka kebudayaan orang-orang Ternate malah dijadikan sebagai batu loncatan dalam melebarkan ajaran-ajaran Islam sampai ke pelosok-pelosok. Para ulama lokal, malah nekat bertandang ke Gresik dan Tuban untuk memperdalam ilmu Islam, dan kembali menyebar Islam di negerinya itu.

Pendekatan yang sama pun digunakan ketika Islam mulai masuk ke Ambon, melalui Hitu. Dialog yang intens dengan kebudayaan kembali terjadi di situ. Dan itu merupakan bukti bahwa perdagangan atau aspek ekonomi hanya menjadi instrumen yang mendorong Islam bergerak dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi kebudayaan menjadi instrumen yang membangun rasa keislaman yang tinggi di dalam hidup masyarakat.

Ketika Islam masuk ke Indonesia kekuatan koloni Eropa belum bergerak, atau dominasi perdagangan rempah-rempah masih dipegang oleh pedagang Cina dan Arab. Ketika masuk ke Indonesia, Islam merajai jalur-jalur perdagangan yang penting seperti: pesisir Sumatera di selat Malaka, semenanjung Malaya, pesisir utara Jawa, Brunei, Sulu dan Maluku. Jalur perdagangan kayu cendana di Timor masih tetap menjadi wilayah non-Islam, dan kurang diminati pada pedagang Islam.

Walau begitu, ketegangan di kerajaan-kerajaan lokal di Maluku, seperti di Ternate tidak bisa diabaikan sebagai bagian dari fakta sejarah ketika Islam berjumpa dengan masyarakat di sana. Tetapi satu hal yang menarik adalah Islam Maluku yang terbentuk dari Ternate itu kemudian meluas ke pulau Ambon, dan terbentuk suatu Pan-Islami, yang terus berkembang ke daerah Lease. Seiring dengan itu, kerajaan Iha di Saparua menjadi simbol kekuatan Islam baru di Maluku Tengah, selain Hitu.

Islamisasi Ternate, Hitu, Lease sebenarnya berlangsung secara wajar karena kekuatan perdagangan Islam mulai terbentuk di kawasan itu. Paramitha Abdoerachman mengatakan Hitu menjadi penting karena banyak pedagang mendapat pasokan air tawar dari situ. Fakta ini pun sebenarnya sama dengan ketika Banda menjadi bandar Islam yang cukup penting, karena pasokan ikan yang enak kepada para pedagang.

Politik damai itu melahirkan simpati kelompok lokal yang semula memeluk agama asli (agama suku) menjadi penganut Islam yang rajin. Bahkan hal itu pun terlihat ketika negeri-negeri Hatuhaha Amarima kemudian menjadi pusat kemashyuran Islam tertua di Lease. Untuk yang satu ini memang perlu penelitian lebih mendalam, sebab Islam Hatuhaha Amarima memiliki tatanan ritus Islami yang khas dan kontekstual, seperti ritus Puasa dan Haji.

Mengapa Islam Maluku patut disebut sebagai suatu gerakan agama yang khas? Sebab Islam Maluku adalah suatu sintesa rampat mengenai bagaimana agama masuk melalui cara membahasa orang setempat.

Di Maluku kita akan menemui bagaimana orang-orang Islam Tulehu, Liang, Tial, Hila, Latu, Kasieh, Lisabata, Pelauw, Ori, Kailolo, Iha, menggunakan bahasa ibu mereka dalam komunikasi sesehari. Bahasa Arab menjadi bahasa agama yang digunakan dalam upacara sakral agama, tetapi kesehariannya menggunakan bahasa setempat. Fenomena ini tidak lagi ditemui pada negeri-negeri Kristen, kecuali di Maluku Tenggara, tetapi juga sudah mulai ditinggalkan oleh generasi mudanya.

Pada sisi ini, Islam Maluku adalah suatu hasil adaptasi kebudayaan yang sangat penting. Dalam adaptasi itu bagaimana struktur bahasa setempat dijadikan sebagai mekanisme penyebaran ajaran agama, dan ditempatkan sebagai unsur yang penting.

Hal ini yang membuat corak kultural di dalam Islam begitu kuat, karena itu agamanya menjadi gampang diterima dan dipandang sebagai agama yang “membawa damai”. Unsur kedamaian yang dirasakan itu adalah ketika masyarakat tetap berkomunikasi dengan bahasanya, sehingga mereka tidak merasa teralienasi dari kelompok besar.

Memang dalam menentukan corak kultural kepada Islam Maluku kita perlu mempertimbangkan kembali beberapa hal seperti, sejauhmana Islam Maluku itu memanfaatkan ritus-ritus adat sebagai suatu bentuk kontekstualisasinya. Orang Islam, menurut Chauvel, memang tidak suka dengan struktur raja seperti diintroduksi oleh Eropa, dan karena itu malah menganggap (sebagian dari) adat sebagai yang mengandung unsur kafir dan haram.

Tetapi adaptasi Islam Maluku ke dalam bahasa setempat memperlihatkan suatu corak beragama yang unik.

Agama memiliki ruang guna yang efektif jika agama itu dimengerti sebagai produk kebudayaan masyarakat setempat, dan akan semakin efektif jika dibangun dalam fondasi-fondasi kontekstual, suatu usaha menjadikan dirinya bagian yang co-inside dengan masyarakat pemeluknya.

“Islam Maluku” kiranya dipahami sebagai suatu produk kebudayaan yang pernah dihasilkan dalam sejarah agama di Maluku. Ia memiliki kaitan yang kuat dengan latar budaya masyarakat. Suatu hal yang perlu didekonstruksi untuk mere-rekonstruksi suatu tipikal Islam yang relevan bagi orang Maluku. Tipikal kekristenan yang inklusif dan kultural.

“Islam Maluku” dalam sisi tertentu memperlihatkan perlunya usaha translasi ajaran Islam kedalam kehidupan masyarakat Maluku. Sebuah usaha hermeneutis yang sedapat-dapatnya mendorong pemahaman dan pengertian bersama mengenai hakekat ketuhanan dan hakekat kemanusiaan orang-orang Maluku.

Fenomena pluralisme adalah fenomena yang akan bisa kita urus bersama jika Islam Maluku pun telah mampu merefleksikan diri dan ajarannya secara kontekstual. Tidak ada halangan yang berarti di dalam pluralism itu, sebab budaya “orang basudara” telah menjadi mekanisme kultural yang melekat kuat di dalam perilaku sosial dan agama kita orang Maluku.

Buku Rujukan:

Alwi, Des, Sejarah Maluku, Banda Neira, Ternate, Tidore dan Ambon, Jakarta: Dian Rakyat, 2005

Disampaikan oleh Elifas Tomix Maspaitella – Mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Maluku

Dari saya:

Ingat teman. Tidak ada rusuh-rusuh di Ambon itu. Katong samua Maluku, ale rasa beta rasa, karena katong samua satu darah, katong basudara. Maluku tanah indah, titisan Nusa Ina.

Jangan bikin malu Kapitan Pattimura yang telah bersimbah darah mengusir Kolonial dari Bumi Maluku. Jangan bikin malu Para Sultan baik Ternate maupun Tidore yang telah berjuang menegakkan Kalimat Allah hingga ke seberang Papua.

Children of Molluca, para pemuda Maluku yang kreatif dan inovatif. Tetaplah berkarya untuk menaikkan harkat dan martabat daerahmu. Berkarya sepenuh hati dengan tulus dan ikhlas. Juga demi Bumi Nusantara agar kembali gemah ripah loh jinawi.

Hei Kamu! Pemuda Maluku. Turunan Pattimura. Turunan Para Sultan Ternate dan Tidore. Penjaga Gunung Gamalama. Dan Aku, turunan Ajisaka. Kita semua tetap satu turunan Nabi Adam dan Ibunda Hawa. Bangkit tegak bersama mengangkat kembali harkat dan martabat Indonesia sebagai Macan Asia. Biarkan ia kembali mengaum.

Semua bebas berkarya. Semua bebas berekspresi. Tanpa ada hasrat ingin memusuhi. Yang Nasrani tetap dan mesti Kebaktian di tiap Ahadnya. Yang ngaku Muslim dengan indahnya khusyuk bersujud simpuh di Langgar maupun Surau. Bhinneka Tunggal Ika di lubuk hati kita.

Dan yang terakhir, janganlah bikin malu abang kita Sapulete, Mujahid Ambon yang membantu mengusir Israel dari Palestine. Dengan darahnya dan izin Allah, Israelpun hengkang. Walaupun Si Bedebah Ariel Sharon dan kroninya mlebuh mene hingga kini. Cah Gendheng iku.

Senja di Pulau Seram

Senja di Pulau Seram

Quod Erat Demonstrandum