Anumerta Bintang Lima

Standard

Insjafilah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnja) beloem pernah toeroet berperang (membela keadilan) bahkan hatinya berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafekan.”

Kata-kata diatas sungguh Indah. Terlontar dari lisan seorang guru Sekolah Muhammadiyah.

Sang Jenderal

Sang Jenderal

Saya adalah salah seorang yang sangat mengidolakan Beliau. Banyak sekali kesamaan yang kami berdua miliki. Mulai dari wajah dan lain sebagainya. Bahkan penyakit yang kami deritapun sama. Kalau Penjenengan semua bernafas dengan dua paru-paru, kami hanya dengan satu paru-paru. Bahkan Presiden Sukarno meminta Sang Jenderal menjalani perawatan karena penyakit yang beliau derita sudah sangat parah.

Namun apa kata Sang Jenderal, “Yang sakit itu Soedirman, panglima besar tidak pernah sakit.”  Tidak terbayangkan begitu besarnya semangat perjuangan Beliau dalam melawan musuh dan penyakit yang dideritanya.

Itulah Beliau. Seorang Jenderal Besar yang lahir dari keluarga sederhana di lingkungan Keluarga Besar Muhammadiyah. Sebelum menjadi Jenderal, tak seorangpun memperhitungkan sepak terjang beliau yang hanya seorang Guru Sekolah Muhammadiyah. Bekal Militer sempat beliau peroleh saat pelatihan di PETA.

Saking tidak diperhitungkannya, biar Panjenengan tahu, saat Beliau hendak dilantik menjadi Panglima TNI, surat kabar salah memuat foto Beliau. Tertukar dengan foto Soedirman lain dari Surabaya.

Ketika sudah saatnya Sang Jenderal dipanggil Allah, Malaikat Maut memeluknya dengan penuh senyuman. Tak ada sedikitpun harta benda yang Beliau wariskan untuk anak-anaknya. Namun beliau mewariskan satu kalimat agung yang diajarkan kepada anak-anak Beliau dan kita semua, “Isy Kariiman Aumut Syahidan

Apakah sekarang Penjenengan rindu dengan sosok sehebat Beliau? Kalau iya, jangan takut. Karena di Bulan Juli nanti sejarah perjuangan Beliau akan dirangkai dalam bentuk film. “Kita butuh keteladanan pemimpin yang berintegritas, jujur, rela berkorban demi kemajuan bangsa, sebagaimana yang ditunjukkan oleh tokoh Jenderal Soedirman,” demikian kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Lingkungan Hidup dan Lembaga Seni Budaya, Syukriyanto AR.

Skenarion film ditulis oleh Koesyuliadi. Beliau menjelaskan bahwa film ini digarap berdasarkan riset sejumlah buku biografi Jenderal Soedirman dan dari wawancara dengan keluarga dan sahabat Jenderal Soedirman.

Yang paling membuat saya tidak sabar melihat film ini adalah lantaran akan dibuat sebanyak tiga sekuel. Sekuel pertama di Cilacap, ketika Beliau terlibat aktif dalam gerakan kepanduan Hizbul Wathan dan sebagai guru Sekolah Muhammadiyah. Sekuel kedua di Yogya, menampilkan perjuangan Sang Jenderal membelah Tanah Air di Yogya. Dipaparkan pula pertemuan Beliau dengan Letkol Soeharto dan Sultan Yogyakarta. Sekuel ketiga, menyajikan perjuangan gerilya Sang Jenderal saat Revolusi Kemerdekaan.

Demikian. Kita tunggu ya tayangan filmnya. Semoga bisa kita ambil i’tibar dari manusia mulia ini. Manusia sederhana yang sangat tidak ingin makamnya dikultuskan. Secara Anumerta, Bintang Lima tersemat di gelarnya, menambah kemuliaan Sang Jenderal.

Sang Jenderal

Sang Jenderal

Quod Erat Demonstrandum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s