myIdol

Standard

Kau yang mengaku cinta kepada Nabimu

Kau yang mengaku merindukan Nabimu

Jika kau benar-benar cinta dan rindu kepada Muhammad Nabimu

Buktikan.

Taati perintah-Nya, tinggalkan larangan-Nya

Teladani akhlaknya.

Niscaya kelak kau akan berjumpa dengan Rasullallah

Niscaya kelak kau akan berkumpul dengan Rasullallah

Kau ajarkan hidup ini untuk saling mengasihi

Ku tanamkan dalam hati kuamalkan sejak dini

Engkaulah Nabi pembawa cinta

Kau bimbing kami menuju surga

Special Thanks for Haddad Alwi and Friends untuk lagu yang bertajuk Rindu Muhammad.

Izinkan kiranya saya berbagi kisah. Kisah yang sungguh tidak penting bagi Temans and Sedulurs. Jikalau tidak berkenan membacanya, sudilah kiranya memaafkan kesalahan-kesalahan saya. Walau sebenarnya tidak pantas untuk dimaafkan.

Saya ingin berbagi tentang teman saya. Seorang pemain basket professional yang kedigdayaannya sudah tidak diragukan lagi. Si Teman ini mengidolakan beberapa orang yang hebat dan sukses di dunia. Namun tidak satu pun yang pemain basket. Bob Marley dan Malcolm X.

Siapa yang tidak kenal Bob Marley? Nama kesohor di Jagad Reagge. Lagu-lagunya menginspirasi miliyaran pasang mata di dunia. Bob Marley merupakan Pemusik yang sangat cinta damai. Bahkan pernah mendamaian kemelut politik yang terjadi di Jamaika. Negaranya Bob. Bob mempertemukan dua kubu yang berseteru, yakni Edward Seaga dan Michael Manley, keatas satu panggung. Berdamai.

Bagi teman saya si Pebasket ini, Bob adalah sosok yang hampir tanpa celah. Namun anggapan ini berubah drastis ketika membaca memoar Bob Marley yang ditulis oleh Rita Marley, istri Bob. Dalam memoar tersebut justru diutarakan sisi-sisi lain Bob yang mengecewakan.

Siapa pula dari kita yang tidak mengenal Malcolm X? Pejuang Islam berkulit hitam dari Negeri Paman Sam. Saya yakin hingga detik ini semua dari kita tidak ada yang kecewa dengan Malcolm X. Beliau sosok pejuang Islam yang mengagumkan. Seperti kita, manusia pada umumnya, Malcolm juga mempunyai idola. Tokoh yang dipanuti. Tidak lain dan tidak bukan adalah Elijah Muhammad, yakni orang yang membimbing Malcolm untuk memeluk Islam.

Elijah begitu dipuja oleh Malcolm lantaran banyak memberi pencerahan dan kedamaian dalam hidup. Perlu diketahui bahwa Elijah Muhammad merupakan Ketua Perkumpulan Nation of Islam yang menaungi Umat Islam berkulit hitam di Negeri Paman Sam. Elijah, menurut beberapa penuturan ahli, mengaku sebagai nabi penerus Nabi Muhammad. Elijah juga mengajarkan kebencian kepada ras berkulit putih. Malcolm pun mengamini segala ajaran Elijah.

Hingga suatu ketika Malcolm mendapat Hidayah Allah dan mengerti Islam yang sesungguhnya bawah tidak ada Nabi setelah Kanjeng Nabi Muhammad (sholawat keatas beliau). Malcolm pun kecewa kepada Elijah. Terlebih setelah mengetahui ternyata Elijah mempunyai anak diluar nikah. Bagi Malcolm hal tersebut merupakan aib yang tidak dapat ditawar-tawar. Begitupun dalam Agama ini.

Teman saya si Pebasket tertegun dengan fakta-fakta yang ada pada kedua idolanya ini. Dan saya pribadi menarik kesimpulan kira-kira seperti ini,

“Manusiawi jikalau kita mempunyai tokoh idola. Seorang yang kita panuti. Hargai. Bahkan kalau bisa perihidupnya kita ikuti. Namun bersiaplah menerima kekecewaan lantaran mereka juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Untuk itu kita mesti punya Idola yang paling utama. Perihidupnya sangat kita perlukan agar tidak tersesat mengarungi hidup ini. Siapakah Idola Utama kita? Menurut Panjenengan?”

Si Pebasket pun sadar siapa yang mesti diidolakan dan dipanuti tanpa ragu sedikitpun. Seorang yang hidupnya tanpa celah. Makshum. Ia Kekasih Allah. Ia punya banyak kawan. Juga lawan. Namun Ia tidak pernah mengecawakan seorang pun di dunia ini. Baik kawan maupun lawan. Panjenengan kenal siapa Beliau?

Perlahan namun pasti si Pebasket mulai mengenal sosok agung ini melalui buku-buku yang bertajuk “Sirah“. “Sirah” berasal dari Bahasa Arab yang artinya Sejarah. Bukan “Sira” dalam Bahasa Jawa yang artinya Kepala. Hingga kini sudah sangat banyak buku-buku Sirah koleksi si Pebasket. Dan suatu ketika terjadi hal sangat menggelikan bagi saya. Ketika ia jalan-jalan ke Gramedia, ia menemukan buku tebal masih bertema Sirah, berkover bagus, berharga sangat mahal. Dengan sangat tidak sabar ia langsung membeli buku tersebut.

Saat sampai di rumah, dibaca beberapa lembar dan disadari bahwa ia sudah punya buku yang sama persis. Hanya disain kovernya saja yang berbeda. Geli, pikir saya.

BDZ

BDZ

Sekian. Kenali idola kita lebih dalam. Apresiasi buat http://mainbasket.wordpress.com

Quod Erat Demonstrandum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s