Monthly Archives: March 2012

Quote

Sepi aku sendiri terjebak di rentan hari
Takut menghalangi batasi gerak diri
Akal sehatku mati agungkan yang tak pasti
Mautpun membayangi tak sanggup kusembunyi

Asa yang menari menggeliat di benakku
Samar Nur-pun melambai memanggilku untuk kembali

Satu sisi melimpah berkah memeluk lelahku
Satu sisi takkan kulepas temani hariku

Satu sisi telah terhapus sisakan perih yang dalam
Satu sisi telah terlahir pecahkan sunyi yang panjang

Satu Sisi

Satu Sisi

Risalah Hati

Standard

Pada akhirnya teman-teman yang dibina di JPRMI bertanya tentang cinta. Suatu pertanyaan yang telah lama saya nantikan terlontar dari mereka. Mereka bertanya tentang pacaran.

Secara resmi saya nyatakan bahwa Remaja Masjid yang telah ternaungi dalam JPRMI tidak sedikitpun dilarang untuk pacaran. Saya tidak perlu membahas tentang hukum pacaran. Islam tidak mengenal kata “pacaran“, untuk itu Islam tidak melarang pacaran.

Cinta merupakan bentuk anugerah dari Allah Sang Khaliq kepada kita para hamba-Nya. Secara sederhana itulah makna cinta yang saya pahami. Jikalau ada definisi lain tentang cinta yang Temans and Sedulurs miliki monggo di-share bersama-sama. Cinta kepada lawan jenis juga merupakan bagian dari anugerah tersebut dan lumrah adanya pada diri setiap Pemuda dan Remaja. Dan cinta semacam ini kerap identik dengan pacaran.

Saya ulangi bahwa dalam Islam tidak dilarang pacaran. Tapi.

Ada tapinya Bro! Sis, Ndoro, Temans and Sedulurs semua. Apa itu?

Sebelum melangkah ke jenjang cinta lawan jenis, coba deh di-trace dulu seluk-beluk tentang cinta. Tentang “Risalah Hati“. Ada beberapa jenjang yang kudu kita lalui agar semakin mantap dalam menjalani percintaan tersebut. Antara lain,

1. Cinta kepada Allah. Telah apikkah Cinta kita kepada Allah? Siapa sich orang yang ngaku sebagai pacar kita? Apa istimewanya dia? Telah pantaskah kita mencintainya jikalau Cinta kita kepada Yang Memberi nyawa belumlah genah. Monggo dijawab sendiri didalam hati.

Allah yang telah memberi hidup. Menitipkan jantung kedalam rongga dada ini sehingga dapat memompakan darah segar ke seluruh jaringan tubuh ini. Tentu ada banyak hal sebagai pembuktian Cinta kepada Allah. Namun secara sederhana ada beberapa indikasinya. Khusus untuk yang ngaku laki, Loe bangun Shubuh, Loe tunaikan di Masjid. Nah, boleh dah Loe ngaku Cinta kepada Allah. Jikalau kagak, Loe cuma bikin malu Islam yang mulia ini. Masak ada anak muda laki yang kagak Sholat Shubuh di Masjid? Apa kata dunia?

2. Cinta kepada Rasulullah. Kanjeng Nabi Muhammad ibn Abdillah merupaka makhluk paling mulia yang tentu saja telah sama kita mengenal dengan baik. Apatah ada diantara kita yang tidak cinta kepada Beliau? Silakan diinsyafi sudah seberapa besar Cinta kita kepada Beliau. Beliau yang seluruh hidup sepenuh jiwa raga didedikasikan untuk kita, umatnya.

Hatta tatkala Beliau hendak bersalaman dengan Malaikat Maut, apa yang ada dalam fikiran Beliau? Bukan diri Beliau. Bukan istri Beliau. Bukan pula Raden Ayu Fatimah anak Beliau. Tidak terfikir oleh Beliau warisan harta apa yang  hendak ditinggalkan untuk anak Beliau. Yang Beliau fikirkan adalah kita, Ummatiy..Ummatiy.. Just It!

Beliau sungguh khawatir dengan keadaan kita sepeninggal nanti. Apatah masih menyembah Allah atawa tidak. Wujud nyata Cinta kepada Rasulullah tentu beraneka ragam. Tidak sekedar bersolawat dan salam saja. Tapi itu wujud terkecilnya. Jikalau itupun tidak kita lakukan, entah deh mau berkata apa lagi? Apa yang bakal dikatakan oleh dunia?

3. Cinta kepada al-Mukarrom kedua Orangtua. Bukan suatu yang mudah untuk menggambarkan cinta kepada Orangtua. Cinta bukan sembarang cinta. Cinta yang telah tercurah sejak kita dalam kandungan. Ibunda yang telah ikhlas mengorbankan separuh atawa bahkan seluruh nyawanya tatkala melahirkan kita Buah Hatinya.

Tidak jauh berbeda, pengorbanan Ayahanda juga sungguhlah besar. Membanting tulang mencari nafkah. Agar bisa membahagiakan kita keluarga yang dicintainya.

Sebuah ungkapan dari Badai Sang Kibordis yang dinyanyikan Sami Simorangkir,

Bunda, izinkan aku bersujud kali ini. Sebagai tanda aku mencintaimu.

Kau adalah yang pertama menyentuhku. Mendekapku ditengah dingin malam.

Bukan ungkapan yang berlebihan. Tinggal kita insyafi sejauh mana bakti kita kepada Orangtua. Tidak perlu terlalu banyak tutorial bagaimana tata cara sembah bakti tersebut. Hanya praktek dan bukti nyata yang diperlukan. Secara sederhana, kita mesti menjaga nama baik Orangtua. Berlaku baiklah di masyarakat. Lantaran di Kampoeng saya, jikalau seorang anak berbuat jelek, tidak lain yang dicemooh adalah Orangtuanya.

4. Sahabat Rasul. Lah, kenapa kita mesti Cinta kepada Sahabat Rasul? Allah memerintahkan kita untuk Cinta kepada Rasul bukan kepada Sahabat Beliau.

Itu benar. Tapi Rasul sendiri yang memerintahkan kita untuk mencitai Para Sahabat Beliau. Kita mengenal Rasul tidak lain juga melalui Hadits yang dikhabarkan oleh Para Sahabat. Kita mencintai Para Sahabat juga bertujuan agar kita belajar bagaimana mencintai Rasul. Lantaran Para Sahabat merupakan orang-orang yang terbaik bukti Cintanya.

Hazrat Abu Bakar ash-Shiddiq menahan sakit tatkala dientup kalajengking didalam Goa Tsur. Sangat ingin rasanya menjerit menahan sakit. Tak ingin mengganggu lelap tidurnya Rasul, Beliau menahan jeritannya.

Hazrat Ali ibn Abu Thalib bersedia menggantikan Rasul. Menyamar guna mengelabuhi Kafir Quraisy tatkala Rasul hijrah. Bukan sembarang risiko yang Beliau terima, kepala bercucur darah terkena pukulan Gembong Kafir. Padahal saat itu Hazrat Ali masih terlampau belia.

5. Pemimpin Islam. Para Pemimpin yang telah memimpin rakyatnya dengan baik patutlah kita cintai. Apakah itu sebutannya Presiden, Sultan, Khalifah, Amirul Mukminun maupun Raja. Kaisar juga boleh. Mereka yang patuh dan taat pada perintah Allah. Memimpin rakyat dengan tuntunan Allah. Menjadi Imam tatkala Sholat berjama’ah.

6. Pahlawan Islam. Kepahlawanan hadir tidak harus dalam kondisi perang. Pahlawan adalah mereka yang berjasa untuk tegaknya Kalimatullah di bumi ini. Para guru kita yang sejak kecil mengajarkan bentuk-bentuk kebaikan merupakan Pahlawan yang patut kita Cintai.

7. Ilmuwan Islam. Jangan mempersempit makna Ilmuwan. Ilmuwan bukan sekedar Para Profesor yang kerap bereksperimen dengan dunia “eksak“. Ilmuwan punya padanan kata “Ulama“. Yakni mereka yang memiliki ilmu yang didedikasikan untuk Islam. Baik ilmu agama dan juga “eksak“. Salah satu contoh Ilmuwan yang juga Ulama, Abu Ja’far Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, Sang Penemu Angka Nol. Beliau mempunyai kontribusi besar di bidang Matematika. Coba bayangkan caranya menghitung tanpa angka Nol.

Sekian jenjang “Cinta” yang mesti kita tapaki untuk ke jenjang-jenjang selanjutnya. Masih perlu penambahan di sana-sini. Jikalau telah menempuh itu semua baru boleh mencintai lawan jenis. Dan jikalau sudah jatuh cinta dengan lawan jenis jangan pacaran. Menikahlah. Nanti kita bahas cara terbaik untuk saling mengenal tanpa harus melanggar Syari’at Islam.

Panjenengan Remaja Islam, harus ta’at Syari’at kan?

Ditulis untuk All Friends JPRMI – Dari Helvet mengubah dunia.

Pesan dari Guru

Standard

Katanya enak menjadi bujangan, ke mana-mana tak ada yang larang

Hidup terasa ringan tanpa beban, uang belanja tak jadi pikiran

Enaknya kalau jadi bujangan

Hidup bebas bagai burung terbang

Kantong kosong tidak jadi persoalan

Tapi susahnya menjadi bujangan, kalau malam tidurnya sendirian

Hanya bantal guling sebagai teman, mata melotot pikiran melayang

Special Thanks for Sang Guru untuk senandung yang bertajuk Bu Jangan! Senandung yang selalu menyiksa hati. Hati para bujang yang tak kunjung bersanding di Pelaminan dengan pasangan yang dipilihkan Allah untuk abadi mengarungi hidup.

Dalam kesempatan menulis kali ini dengan izin Allah saya ingin berbagi tentang tulisan teman saya, Erna, yang menurut saya mesti direnungkan. Bagi yang ingin merenungkan silakan. Bagi yang tidak juga tidak masalah. Berikut ini petikan yang ia posting di Blog pribadi yang berjudul “Doa untuk dia yang belum halal

Disetiap sholat 5 waktu atau sholat sunnah lainnya saya tak lupa berdoa. Berdoa bagi diri saya, orang tua, keluarga yang lain, sahabat2 saya, dan juga orang2 mukmin yang berjuang di jalan-Nya. Saya ucapkan berulang-ulang doa yang sama tentu untuk kebaikan semuanya.

But, ada satu lagi yang saya sebutkan dalam akhir doa saya. Doa teruntuk seseorang yang pernah begitu berarti untuk saya. Seseorang yang pernah saya harapkan menjadi masa depan. Pastinya doa agar dia baik-baik saja dan juga agar xxxx (hehe rahasia, malu -_-!)

Namun, akhir-akhir ini saya menjadi ragu berdoa untuknya. Ragu apakah yang saya lakukan (berdoa untuknya) ini benar atau salah. Dengan mendikte Allah agar seseorang itu menjadi salah satu yang ditakdirkan-Nya untuk saya.

Huft, akhirnya keraguan itu menjadi sedikit ketakutan. Saya jadi tiba-tiba takut dengan doa saya sendiri. Saya takut, jangan-jangan ‘dia yang saya doakan’ tak akan pernah menjadi halal. Dan ‘seseorang yang akan halal’ untuk saya nantinya tidak suka dengan ini (dengan doa saya tentunya).

Karena saya tahu, saya sendiri pasti tak akan senang mengetahui ‘dia yang nantinya halal’ ternyata dulunya mendoakan wanita lain agar menjadi halal untuk dirinya. Saya pasti akan sangat cemburu jika tahu bahwa ‘dia yang nantinya halal untuk saya’ ternyata di setiap doanya tak pernah luput untuk mendoakan kebaikan wanita lain.

Akhirnya saya putuskan untuk mengubah doa saya. Kali ini saya berdoa agar Allah berkenan memberikan seseorang yang terbaik untuk saya, siapapun dia. Dan menumbuhkan cinta dalam hati saya untuk ‘dia yang halal’. Bukan lagi doa untuk ‘dia yang saya harapkan menjadi halal’.

Wahai Yang Maha Cinta, pertemukanlah daku dengan dirinya yang telah Engkau takdirkan dalam kemuliaan cinta-Mu.

Apresiasi untuk http://ukhtierna.wordpress.com/

Dari saya,

Memang bukan perkara sederhana tentang masalah jodoh. Pastinya kita mengharap orang yang terbaik yang akan mendampingi kita. Ingat saja, bahwa di Quran telah termaktub yakni Perempuan baik untuk Lelaki baik dan sebaliknya.