Risalah Hati

Standard

Pada akhirnya teman-teman yang dibina di JPRMI bertanya tentang cinta. Suatu pertanyaan yang telah lama saya nantikan terlontar dari mereka. Mereka bertanya tentang pacaran.

Secara resmi saya nyatakan bahwa Remaja Masjid yang telah ternaungi dalam JPRMI tidak sedikitpun dilarang untuk pacaran. Saya tidak perlu membahas tentang hukum pacaran. Islam tidak mengenal kata “pacaran“, untuk itu Islam tidak melarang pacaran.

Cinta merupakan bentuk anugerah dari Allah Sang Khaliq kepada kita para hamba-Nya. Secara sederhana itulah makna cinta yang saya pahami. Jikalau ada definisi lain tentang cinta yang Temans and Sedulurs miliki monggo di-share bersama-sama. Cinta kepada lawan jenis juga merupakan bagian dari anugerah tersebut dan lumrah adanya pada diri setiap Pemuda dan Remaja. Dan cinta semacam ini kerap identik dengan pacaran.

Saya ulangi bahwa dalam Islam tidak dilarang pacaran. Tapi.

Ada tapinya Bro! Sis, Ndoro, Temans and Sedulurs semua. Apa itu?

Sebelum melangkah ke jenjang cinta lawan jenis, coba deh di-trace dulu seluk-beluk tentang cinta. Tentang “Risalah Hati“. Ada beberapa jenjang yang kudu kita lalui agar semakin mantap dalam menjalani percintaan tersebut. Antara lain,

1. Cinta kepada Allah. Telah apikkah Cinta kita kepada Allah? Siapa sich orang yang ngaku sebagai pacar kita? Apa istimewanya dia? Telah pantaskah kita mencintainya jikalau Cinta kita kepada Yang Memberi nyawa belumlah genah. Monggo dijawab sendiri didalam hati.

Allah yang telah memberi hidup. Menitipkan jantung kedalam rongga dada ini sehingga dapat memompakan darah segar ke seluruh jaringan tubuh ini. Tentu ada banyak hal sebagai pembuktian Cinta kepada Allah. Namun secara sederhana ada beberapa indikasinya. Khusus untuk yang ngaku laki, Loe bangun Shubuh, Loe tunaikan di Masjid. Nah, boleh dah Loe ngaku Cinta kepada Allah. Jikalau kagak, Loe cuma bikin malu Islam yang mulia ini. Masak ada anak muda laki yang kagak Sholat Shubuh di Masjid? Apa kata dunia?

2. Cinta kepada Rasulullah. Kanjeng Nabi Muhammad ibn Abdillah merupaka makhluk paling mulia yang tentu saja telah sama kita mengenal dengan baik. Apatah ada diantara kita yang tidak cinta kepada Beliau? Silakan diinsyafi sudah seberapa besar Cinta kita kepada Beliau. Beliau yang seluruh hidup sepenuh jiwa raga didedikasikan untuk kita, umatnya.

Hatta tatkala Beliau hendak bersalaman dengan Malaikat Maut, apa yang ada dalam fikiran Beliau? Bukan diri Beliau. Bukan istri Beliau. Bukan pula Raden Ayu Fatimah anak Beliau. Tidak terfikir oleh Beliau warisan harta apa yang  hendak ditinggalkan untuk anak Beliau. Yang Beliau fikirkan adalah kita, Ummatiy..Ummatiy.. Just It!

Beliau sungguh khawatir dengan keadaan kita sepeninggal nanti. Apatah masih menyembah Allah atawa tidak. Wujud nyata Cinta kepada Rasulullah tentu beraneka ragam. Tidak sekedar bersolawat dan salam saja. Tapi itu wujud terkecilnya. Jikalau itupun tidak kita lakukan, entah deh mau berkata apa lagi? Apa yang bakal dikatakan oleh dunia?

3. Cinta kepada al-Mukarrom kedua Orangtua. Bukan suatu yang mudah untuk menggambarkan cinta kepada Orangtua. Cinta bukan sembarang cinta. Cinta yang telah tercurah sejak kita dalam kandungan. Ibunda yang telah ikhlas mengorbankan separuh atawa bahkan seluruh nyawanya tatkala melahirkan kita Buah Hatinya.

Tidak jauh berbeda, pengorbanan Ayahanda juga sungguhlah besar. Membanting tulang mencari nafkah. Agar bisa membahagiakan kita keluarga yang dicintainya.

Sebuah ungkapan dari Badai Sang Kibordis yang dinyanyikan Sami Simorangkir,

Bunda, izinkan aku bersujud kali ini. Sebagai tanda aku mencintaimu.

Kau adalah yang pertama menyentuhku. Mendekapku ditengah dingin malam.

Bukan ungkapan yang berlebihan. Tinggal kita insyafi sejauh mana bakti kita kepada Orangtua. Tidak perlu terlalu banyak tutorial bagaimana tata cara sembah bakti tersebut. Hanya praktek dan bukti nyata yang diperlukan. Secara sederhana, kita mesti menjaga nama baik Orangtua. Berlaku baiklah di masyarakat. Lantaran di Kampoeng saya, jikalau seorang anak berbuat jelek, tidak lain yang dicemooh adalah Orangtuanya.

4. Sahabat Rasul. Lah, kenapa kita mesti Cinta kepada Sahabat Rasul? Allah memerintahkan kita untuk Cinta kepada Rasul bukan kepada Sahabat Beliau.

Itu benar. Tapi Rasul sendiri yang memerintahkan kita untuk mencitai Para Sahabat Beliau. Kita mengenal Rasul tidak lain juga melalui Hadits yang dikhabarkan oleh Para Sahabat. Kita mencintai Para Sahabat juga bertujuan agar kita belajar bagaimana mencintai Rasul. Lantaran Para Sahabat merupakan orang-orang yang terbaik bukti Cintanya.

Hazrat Abu Bakar ash-Shiddiq menahan sakit tatkala dientup kalajengking didalam Goa Tsur. Sangat ingin rasanya menjerit menahan sakit. Tak ingin mengganggu lelap tidurnya Rasul, Beliau menahan jeritannya.

Hazrat Ali ibn Abu Thalib bersedia menggantikan Rasul. Menyamar guna mengelabuhi Kafir Quraisy tatkala Rasul hijrah. Bukan sembarang risiko yang Beliau terima, kepala bercucur darah terkena pukulan Gembong Kafir. Padahal saat itu Hazrat Ali masih terlampau belia.

5. Pemimpin Islam. Para Pemimpin yang telah memimpin rakyatnya dengan baik patutlah kita cintai. Apakah itu sebutannya Presiden, Sultan, Khalifah, Amirul Mukminun maupun Raja. Kaisar juga boleh. Mereka yang patuh dan taat pada perintah Allah. Memimpin rakyat dengan tuntunan Allah. Menjadi Imam tatkala Sholat berjama’ah.

6. Pahlawan Islam. Kepahlawanan hadir tidak harus dalam kondisi perang. Pahlawan adalah mereka yang berjasa untuk tegaknya Kalimatullah di bumi ini. Para guru kita yang sejak kecil mengajarkan bentuk-bentuk kebaikan merupakan Pahlawan yang patut kita Cintai.

7. Ilmuwan Islam. Jangan mempersempit makna Ilmuwan. Ilmuwan bukan sekedar Para Profesor yang kerap bereksperimen dengan dunia “eksak“. Ilmuwan punya padanan kata “Ulama“. Yakni mereka yang memiliki ilmu yang didedikasikan untuk Islam. Baik ilmu agama dan juga “eksak“. Salah satu contoh Ilmuwan yang juga Ulama, Abu Ja’far Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, Sang Penemu Angka Nol. Beliau mempunyai kontribusi besar di bidang Matematika. Coba bayangkan caranya menghitung tanpa angka Nol.

Sekian jenjang “Cinta” yang mesti kita tapaki untuk ke jenjang-jenjang selanjutnya. Masih perlu penambahan di sana-sini. Jikalau telah menempuh itu semua baru boleh mencintai lawan jenis. Dan jikalau sudah jatuh cinta dengan lawan jenis jangan pacaran. Menikahlah. Nanti kita bahas cara terbaik untuk saling mengenal tanpa harus melanggar Syari’at Islam.

Panjenengan Remaja Islam, harus ta’at Syari’at kan?

Ditulis untuk All Friends JPRMI – Dari Helvet mengubah dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s