Tiga Menguak Takdir

Standard

Di abad ini sedikitnya ada tiga pemimpin dunia yang berkait dengan Arab Spring. Keberhasilan mereka membuka kran Dakwah bukan terjadi dengan tiba-tiba. Sejenak kita telusuri sepak terjang mereka mengubah wajah dunia.

1. Recep Tayyip Erdogan (Bayonet, Kubah dan Erbakan)
Sejak runtuhnya supremasi kedaulatan ummat di Turki delapan dasawarsa yang lalu hingga kini terus bergelora. Direntang waktu itu, kitapun menyaksikan dan merasakan betapa kerasnya berbagai rintangan yang menghadang. Kegagalan ataupun keberhasilan pada satu fase dakwah seringkali melumpuhkan semangat kita untuk terus berjuang.

Erdogan bersama Saudara-saudara Ikhwan lain berusaha untuk membangkitkan al-Islam yang dikubur mati oleh rezim Kemal Attaturk yang sangat memuja Sekularisme. Selama Thoghut Sekuler mencengkram Turki, Islam hampir tidak pernah terdengar gaungnya. Yang ada hanyalah sekedar identitas di KTP. Negara menganut Sekuler sebagai Idiologi resmi. Memisahkan Syari’at dari kehidupan sehari-hari.

Agama dianggap hanya urusan pribadi dengan Tuhan. Itupun disaat perlu saja. Jilbab secara mutlak dilarang penggunaannya. Begitupun dengan Adzan dan Quran. Quran yang diijinkan beredar hanya yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Turki. Sungguh tersiksa kondisi saat itu bagi seorang Mukmin jikalau hendak menjalankan Syari’at dengan baik.

Tentang Kemal Attaturk
Beliau merupakan orang laknat yang melakukan dosa yang bahkan Iblis sekalipun enggan melakukannya. Meruntuhkan Daulah Islamiyah. Tentu diakui bahwa supremasi Kedulatan Islam ketika itu memang sudah lemah, namun meruntuhkannya tidak lain merupakan dosa yang tidak terampuni. Masih tentang Kemal (Laknatullah ‘alayhi). Di meja kerja Beliau selalu terdapat al-Quran kecil. Subhanallah. BUT, ternyata Quran tersebut dipakai untuk menempeleng bawahannya yang dianggap kurang becus menurutnya. Na’uzubillah tsumma Na’uzubillah.

Dimasa awal kepemimpinan Erdogan bukan tanpa halang rintang. Bayang-bayang militer berbau Sekuler masih sangat mendominasi pemerintahan. Hubungan mesra Turki-US-NATO tidak dapat dielakkan begitu saja. Dan Sekuler. Ya, Sekuler. Itulah yang dianggap sebagai musuh utama Erdogan dan Ikhwan sebarisannya. Mengubah Idiologi Negara dengan gegabah dan sembrono sungguh tidak mungkin. Tidak bisa serta merta menghapus paham Sekuler dari Negara. Tapi sekarang tatanan Keislaman di Turki sudah dibenahi. Walau masih Sekuler, namun rakyatnya sudah lebih banyak mencintai Islam.

Sudah sejak lama Erdogan membuat panas telinga kaum Sekuler. Tercatat di tahun 1993, Erdogan mengeluarkan sebuah pernyataan ,,Menjadi sekuleris dan Muslim secara beriringan adalah berbahaya. Mereka (para Sekuleris) terus berkata, ‘Sekularisme dalam bahaya’. Dan itu (‘Sekularisme dalam bahaya’) akan terjadi. Anda (para Sekuleris) tak dapat mencegahnya. Negara-negara Muslim akan menunggu kebangkitan kembali para Muslim Turki. Kami akan melakukannya. Perlawanan akan segera dimulai”. Subhanallah. Merinding. Di Negeri yang mengubur Islam dan memuja Sekuler, hadir pemuda yang dengan lantang menyuarakan tegaknya al-Islam.

Konsekuensi
Perjuangan melawan rezim bukan tanpa konsekuensi. Penjara. Biasa itu. Puisi karangan Ziya Gokalp yang bersaksi untuk sebuah perjuangan menuju Penjara,

Masjid adalah barak kami, kubah adalah helm kami
Menara adalah bayonet kami, rang-orang beriman adalah tentara kami
Tentara ini menjaga agama kami.

Perjalanan suci kami adalah takdir kami,
Akhir perjalanan kami adalah syahid (di jalan-Nya). Allahu Akbar!

Demikian puisi yang dilantunkan Erdogan sebelum masuk ,,Madrasah” lantaran dianggap melanggar Asas Sekulerisme Negara.

Erdogan bukan orang pertama dalam lini perjuangan Islam. Beliau hanya sekedar melanjutkan perjuangan Ikhwan. Dalam pemerintah Turki pernah ada Najmuddin Erbakan, Perdana Menteri yang memperjuangkan Islam di Turki. Namun cengkraman militer melumatkan harapan akan jayanya Islam. Dengan mudah militer menggulingkan tahta Beliau. Meski Erbakan telah berpulang, perjuangannya akan dilanjutkan murid terbaiknya, Erdogan.

Begitulah. Patah tumbuh, Hilang berganti. Indonesia sangat didamba hadirnya pemuda seberani Erdogan. Adakah? The Next? Kita? Tanya dalam hati.

-Quod Erat Demonstrandum-

Advertisements

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s