Monthly Archives: November 2012

Masa Lalu

Standard

Masuk Bab Nostalgia. Bab yang rumit untuk diungkapkan —seperti biasa— lantaran akan ada banyak hal yang ingin dan tidak ingin diketahui orang lain. Tentang kita. Perihal kita.

“Sudah berapa lama kita nunggu?”

Sekitar dua puluh menit lalu aku bertemu dengan si penggemar Sir Isaac. Membuat janji sudah cukup lama. Akhirnya tertakdir untuk bertemu jua.

Dua puluh menit“, jawabnya.

“Berarti?”

Sudah 1.200 sekon sejak keempat kaki kita berpapasan

Perlu diketahui bahwa,

satu sekon adalah selang waktu yang diperlukan oleh atom sesium-133 untuk melakukan getaran sebanyak 9.192.631.770 kali dalam transisi antara dua tingkat energi di tingkat energi dasarnya.

“Masih jadi penggemar Sir Isaac?”

Tentu. Emang kamu udah gak lagi, Yan?

“Ya masih. Tapi…”

Perlu diketahui bahwa,

Sir Isaac merupakan ahli astronomi yang kami gemari sejak dulu. Sejak di bangku sekolah. Beliau dapat gelar bangsawan dari Ratu Ann di usia beliau ke 63 tahun. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang agamis. Beliau mendobrak pemahaman tentang sains: astronomi, fisika dan kimia yang kala itu dianggap sebagai kekuatan sihir.

Di zaman itu memang sering kali timbul pertentangan antara sains dengan ajaran agama. Seperti halnya pergelutan antara Galileo dengan gereja katolik pada 22 Juni 1633. Padahal semestinya agama dan sains berjalan beriringan.

Tapi, menjadi seorang yang faham mekanika kuantum itu apa untungnya sich? Sekarang ini sudah bukan zamannya lagi ilmuwan dipuja. Ilmuwan hanya dijadikan alat. Tidak jarang sebagai alat penindas. Alfred menyesal telah menemukan dinamit yang ternyata sangat efektif untuk menjadi alat pemusnah masal. Rasa penyesalannya tidak sia-sia. Dengan mendirikan Yayasan Nobel, ia mendedikasikan harta yang dimilikinya untuk para ilmuwan.

Orang-orang yang berhak menerima Nobel Prize adalah mereka yang sudi mempertaruhkan hidupnya pada ilmu pengetahuan, kemanusiaan maupun dunia seni sastra. Itulah sebagai bentuk penyesalan Alfred atas temuannya yang maha dasyat, dinamit. Dan kini, setiap tanggal 10 Desember, Kota Stockholm selalu menjadi perhatian dunia. Di kota yang dingin tersebut, puluhan ilmuwan kelas dunia berkumpul untuk menyaksikan pemberian hadiah Nobel. Termasuk aku yang sangat mendambakan hadiah tersebut. Bukan sekedar mengejar harta dunia, tapi ingin membuktikan bahwa “kita” bisa sejajar dengan “mereka” di kancah dunia.

Silakan terjemahkan sendiri apa maksud dari “kita” dan “mereka”.

Jangan mau kalah deh. Prof. Abdussalam aja yang seorang Ahmadiyah pernah meraih Nobel Fisika pada 1979 bersama dengan Sheldon Glashow dan Steven Weinberg. Dan buat teman-teman yang ahli ekonomi, boleh berbangga lantaran Penghargaan Bank Swedia dalam Ilmu Ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel dianggap sebagai Nobel Prize bidang ekonomi.

Masih mau menunggu, Yan?

“Tenang. Penantian kita akan berakhir. Dunia ini tidak kekal. Ilmu pengetahuan yang kita miliki kelak juga akan dimintai pertanggungjawaban.”

Aku juga. Aku masih ingin jadi ilmuwan. Masih mengejar mimpiku di Stockholm.

Temanku si penggemar Sir Isaac sempat kecewa lantaran belakangan aku lebih suka belajar ekonomi ketimbang fisika. Saat aku mulai melupakan mekanika kuantum. Kini aku hanya memahami fisika sebatas empat dimensi: ruang dan waktu. Pencarian akan enam dimensi lain ku serahkan padanya.

Negeri Subur

Standard

Palestine.

Jawaban akan sebuah pertanyaan masih belum tuntas,

“Apa sich landasan kita membantu Palestine?”

Ada dari kita yang bilang bahwa kondisi Palestine sedang mencekam lantaran agresi militer Israel. Rakyat Palestine mengalami kesedihan lantaran banyak jatuh korban dari pihak sipil tidak bersalah. Dan berbagai ungkapan lain dari kita warga nusantara. Dan dengan alasan itu kita mencoba untuk membantu Palestine.

Kayaknya gak gitu deh. Siapa bilang Palestine menderita? Siapa bilang Palestine bersedih? Warga Palestine –wa bil khusus di Gaza Strip— justru bergembira. Disana jalan menuju syahid terbuka lebar. Siapa yang tidak ingin syahid? Disana mereka sedang berpesta syurga. Para bidadari menanti hadirnya para mujahid baru. Masih banyak bidadari yang belum kebagian “jatah” mujahid untuk menjadi suaminya di syurga.

Dan kita iri kan? Kita iri karena tidak bisa sehebat warga Gaza. Maka dari itu kita mengirimkan bantuan kesana. Kelak di yawm al-hisab, mereka –Para Mujahid— akan menyebutkan bahwa mereka dulu kerap dibantu oleh saudaranya dari Indonesia. So, kita disini —Insya Allah— akan turut beroleh percikan pahala dari Para Mujahid tersebut.

Apa warga Gaza perlu bantuan materil? Atawa moril? Jawabnya tidak. Tidak sama sekali. Rakyat Gaza berdamping dengan Mujahid sangat mampu untuk mengatasi permasalahan mereka sendiri. Lantas kenapa kita bantu? Kita juga faham kan dengan dalil “Innamal Mu’minuna ikhwah“? Bahwa kita satu tubuh yang jikalau terdapat sakit pada satu bagian, maka bagian lain turut merasakannya. Maka kita malu jikalau hanya tinggal diam. Kita pandir jikalau di Gaza sedang berpesta jihad koq kita berdiam saja.

Bocah Gaza itu hebat ya. Mereka terdidik dengan Dien yang sebenarnya. Terbiasa dengan pemandangan Jihad. Interaksi dengan Mujahid –yang juga penghapal Quran. Loe punya fisik kuat. Loe punya otak cerdas. Loe punya hasrat tinggi untuk jadi tentara Allah dan maju di Medan Jihad. BUT, jangan harap Loe bisa ikut dalam barisan Brigade Izzuddin el-Qossam, JIKALAU Loe kagak hafal 30 juzu’ Quran!

Nah, lo. Syaratnya ketat bro. Namanya juga pembela Dien Allah. El-Qossam tidak butuh orang kuat hanya sekedar fisik. Tapi butuh para pemuda yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai Ghoyah dan Qudwah.

Beratlah kiranya jikalau kita turut mengangkat senjata bersama el-Qossam. Kayaknya malah bakal ngerepoti mereka deh. Pembinaan ruhiyah disana sangat ketat. Ruhiyah kita gimana? Entar disuruh Qiyam al-Layl malah ngantuk. Disuruh meng-khatamkan minimal lima juzu’ sehari malah mangkir.

Jadi gimana dunk? Kata Jenderal Soedirman bahwa sikap orang yang tidak ingin berjihad itu tergolong pada cabang kemunafikan.

Maka Jihad pun ada porsinya,

1. Bagi para pemuda yang kuat fisiknya dan terbina mental ruhiyahnya, mereka berada pada garda terdepan mengangkat senjata.

2. Bagi warga sipil, mereka mem-backup dengan bantuan makanan, obat-obatan atawa bentuk skill lainnya yang berguna bagi para Mujahid.

3. Bagi para wanita, mereka bertugas mencetak generasi baru Para Mujahid. Melahirkan anak-anak dan mewakafkan buah hatinya untuk Jihad.

4. Bagi para guru, assatidz dan assatidzah, mereka mendidik anak-anak dari para wanita tadi untuk menjadi penghafal Quran. Jadi pas dewasa langsung bisa daftar dalam barisan el-Qossam.

5. Bagi para ulama, mereka menyokong Jihad dengan fatwa-fatwa yang membangkitkan semangat Para Mujahid. DQY mungkin tidak langsung berjihad mengangkat senjata. Namun, ceramah-ceramah beliau terpatri dalam hati Para Mujahid sehingga mereka enggan mundur selangkah pun dari hadapan musuh.

6. Bagi seluruh manusia yang ridho Allah menjadi Robb, fardhu ‘ain bagi mereka berjihad dengan memberikan donasi kepada rakyat dan Mujahid dengan berbagai bentuk. Baik materil maupun moril. Baik bendawi maupun maknawi. Atawa juga do’a.

Mujahid

Jadi untuk kita-kita di Indonesia cuman dapat porsi terakhir dunk? Ya gak masalah. Yang penting kan telah turut ambil porsi. Dari pada hanya berdiam diri.

(bersambung)

Dikutip dari buku “3500 karakter untuk kamu“.

dari nusantara

Standard

.

.

.

Langit Lapangan Merdeka Medan, 11 Muharrom 1434 Hijriyah.

Awan berarak menghiasi langit. Beriring bersama dengan sylph. Mentari terik. Burung-burung mengepakkan sayapnya.

Mereka semua mencoba untuk turut serta menjadi saksi dalam upaya kita membantu saudara-saudara kita di Palestine. Makhluk-makhluk Tuhan itu tak terlalu kita perhatikan kehadirannya. Padahal mereka juga turut berdo’a baik untuk kita maupun saudara kita di Palestine.

Tuhan, aku ingin menjadi pelindung para mujahid agar mereka tidak berpanas saat berjuang menegakkan Dien-Mu. Aku ingin meneduhkan hari-hari mereka yang tengah berjuang melawan musuh-Mu yang nyata. Aku juga ingin meneduhkan perjuangan mereka di Indonesia. Meski mereka tidak terjun langsung berjihad. Namun mereka juga sedang berjihad dengan bentuk lain.”

-ucap sang awan demikian.

_

Tuhan, aku ingin semakin terik. Terik dan membakar. Aku ingin membakar jiwa dan raga para zionist. Aku tahu mereka itu pengecut. Jangankan oleh perlawanan mujahid-Mu. Panas terikku saja sudah membuat mereka gentar. Aku ingin mereka merasakan neraka dunia sebelum neraka sesungguhnya.”

-ucap sang mentari demikian.

_

Tuhan, aku tahu hari ini aku hanya seekor merpati kecil. Aku faham aku hanya mampu mengepakkan sayap kesana-kemari. Tapi izinkanlah aku untuk menjadi ababil yang menghantarkan batu-batu dari neraka. Izinkan aku meluluhlantakkan zionist. Mereka itu menungso yang tidak faham akan kata-kata bijak. Tidak akan mengerti bahasa diplomasi. Mereka hanya faham bahasa perlawanan. Aku sudi mengorbankan jiwa dan ragaku untuk tegaknya Dien-Mu di bumi persada Palestine”

-ucap sang merpati demikian.

_

Seluruh daerah senusantara telah melakukan pergerakan untuk membantu saudara kita di Palestine. Berbagai bentuk bantuan telah didapat. Donasi berupa uang tunai, bendawi maupun tenaga terus mengalir untuk mereka. Satu hal yang tidak kalah penting adalah mengalirnya do’a-do’a kita yang selalu terselip dalam munajah kita. Tahajjud yang terlaksana tiap malamnya pun tidak pernah terlupa. Dzikir harian di pagi dan petang juga tak kan terlewat. Palestine akan selalu menghiasi pagisiangsenjamalam kita.

Sejenak saja ingin bertanya,

“Apa sich landasan kita membantu Palestine?”

Beberapa dari kita menjawab,

-Bla, bla.. bla, bla..

-Konstitusi kita, bla, bla.. bla, bla..

-Dalam undang-undang kita, bla, bla.. bla, bla..

Penjabaran yang benar namun sulit untuk aku mengerti. Kalau kamu? Kamu tentu lebih faham akan hal-hal yang seperti ini. Sedang aku hanyalah orang biasa yang memahami tindakanku dengan pandangan yang sangat biasa.

Yang aku tahu cuman sedikit, sekedar,

Palestine itu negara perdana yang mengakui Indonesia sebagai negara berdaulat. Disusul negara-negara lain yang seprinsip dan seperjuangan dengan Indonesia. Ada Mesir, India dan lainnya. Kala itu Palestine bukan negara adidaya yang mempunyai kemampuan finansial yang mumpuni. Namun negara mereka dihuni begitu banyak Mukminin yang faham dalil “Sesungguhnya sesama Mukmin itu bersaudara“.

Persaudaraan berlandas pada keterikatan aqidah dan hati lebih kuat dari ikatan apapun hatta ikatan saudara kandung sekalipun. Hanya dukungan diplomatis sajakah? Belum. Belum berhenti demikian. Mereka juga membantu dana untuk perjuangan rakyat Indonesia. Dan kayaknya donasi dari Indonesia selama ini belum sebanding deh dengan yang pernah mereka berikan tempo dulu. Jadi wajar sangat jikalau kita berupaya membalas kebaikan mereka dengan balasan terbaik.

Dari Nusantara, dipenuhi cinta untukmu Palestine.

(bersambung)

Dikutip dari buku “3500 karakter untuk kamu“.

Berbagi bersama

Standard

Hari gini masih suka mengeluh kepada pemerintah? Emang masih musim ya? Aku terkadang bahkan lupa kalau di negara ini masih punya pemerintah.

Coba ingat petuah dari Abraham Lincoln, apa sich yang sudah kita berikan kepada negara? Hm, maksudnya apa? Pajak? Apa saja dech yang penting jadi kontribusi positif seberapa pun besarnya.

Kemarin pas 1 Muharram, aku dapat undangan dari teman untuk hadir kumpul-kumpul bareng aktivis Blog. Ba’da gowes ku sempatkan hadir di undangan tersebut yang bertempat titik Nol Kota Medan. Hm, lokasi keren penuh sejarah. Di tempat inilah pertama kali dikumandangkan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bumi Andalas. Mr. Teuku Mohammad Hasan yang kelak menjadi gubernur pertama di Swarna Dwipa membawa dan membacakannya di Lapangan Esplanade yang dikala pendudukan Jepang lazim disebut sebagai Lapangan Fukuraido.

Hadir hampir telat saat kumpul bareng aktivis Blog tersebut dikarenakan harus gowes dari Sei Sikambing. Maklum, aku cuman punya kenderaan yang baginian –yang rantainya di sebelah kanan. Teman-teman yang hadir unik-unik. Dan aku lebih sorr ku rasa. Maksudnya gini,

lantaran biasanya aku berkumpul dengan aktivis Blog yang lebih Business Oriented. Nah, kali ini berkumpul dengan mereka yang membawa nama Bloof. Opo iku? Blog of Friendship. Persahabatan. Gak ada dech cerita sikut-sikutan dunia bisnis disini. Sorr kali ku rasa. Cocoklah!

Nah, loh. Teman-teman bahkan punya ide yang bertemakan sosial gitu. Sesuatu yang sudah sangat lama ku tinggalkan. Ide kecil yang kelak berdampak besar –seperti kata Armstrong. Idenya untuk memberikan santunan seikhlas hati kepada orang-orang yang tidak sebahagia kita-kita. Walau makna bahagia itu sangat relatif, tapi upaya kecil ini hendaklah dimaknai sebagai kegigihan untuk berkontribusi kepada negara –seperti kata Lincoln tadi. Setuju kan? Dari pada mengeluh keadaan pemerintah yang tidak beres, lebih baik kita berbagi kepada sesama. Mugi malaikat rela menulisnya sebagai catatan amal yang bisa ngebantu kita di yawmul hisab kelak.

Kata Mas Lasso,

Keindahan di mata tak pasti kebahagiaan. Karena kebahagiaan sesungguhnya ada di hati .

Celengan biru nan sederhana ini. Yok kita isi! Ntar kita berbagi ke mereka. Panti Asuhan kah? Anak jalanan kah? Boleh juga ke Laskar Melati ibu-ibu pembersih jalan. Lantaran ibu-ibu ini juga Medan kita bisa meraih Adipura. Di saat kita membuang sampah sembarangan, mereka yang membersihkannya. Di saat kita anteng berkenderaan, mereka yang menghirup debu san asapnya. Pake masker ya Bu, biar gak kenak TB Paru-paru.

Sekian dulu ya.