Negeri Subur

Standard

Palestine.

Jawaban akan sebuah pertanyaan masih belum tuntas,

“Apa sich landasan kita membantu Palestine?”

Ada dari kita yang bilang bahwa kondisi Palestine sedang mencekam lantaran agresi militer Israel. Rakyat Palestine mengalami kesedihan lantaran banyak jatuh korban dari pihak sipil tidak bersalah. Dan berbagai ungkapan lain dari kita warga nusantara. Dan dengan alasan itu kita mencoba untuk membantu Palestine.

Kayaknya gak gitu deh. Siapa bilang Palestine menderita? Siapa bilang Palestine bersedih? Warga Palestine –wa bil khusus di Gaza Strip— justru bergembira. Disana jalan menuju syahid terbuka lebar. Siapa yang tidak ingin syahid? Disana mereka sedang berpesta syurga. Para bidadari menanti hadirnya para mujahid baru. Masih banyak bidadari yang belum kebagian “jatah” mujahid untuk menjadi suaminya di syurga.

Dan kita iri kan? Kita iri karena tidak bisa sehebat warga Gaza. Maka dari itu kita mengirimkan bantuan kesana. Kelak di yawm al-hisab, mereka –Para Mujahid— akan menyebutkan bahwa mereka dulu kerap dibantu oleh saudaranya dari Indonesia. So, kita disini —Insya Allah— akan turut beroleh percikan pahala dari Para Mujahid tersebut.

Apa warga Gaza perlu bantuan materil? Atawa moril? Jawabnya tidak. Tidak sama sekali. Rakyat Gaza berdamping dengan Mujahid sangat mampu untuk mengatasi permasalahan mereka sendiri. Lantas kenapa kita bantu? Kita juga faham kan dengan dalil “Innamal Mu’minuna ikhwah“? Bahwa kita satu tubuh yang jikalau terdapat sakit pada satu bagian, maka bagian lain turut merasakannya. Maka kita malu jikalau hanya tinggal diam. Kita pandir jikalau di Gaza sedang berpesta jihad koq kita berdiam saja.

Bocah Gaza itu hebat ya. Mereka terdidik dengan Dien yang sebenarnya. Terbiasa dengan pemandangan Jihad. Interaksi dengan Mujahid –yang juga penghapal Quran. Loe punya fisik kuat. Loe punya otak cerdas. Loe punya hasrat tinggi untuk jadi tentara Allah dan maju di Medan Jihad. BUT, jangan harap Loe bisa ikut dalam barisan Brigade Izzuddin el-Qossam, JIKALAU Loe kagak hafal 30 juzu’ Quran!

Nah, lo. Syaratnya ketat bro. Namanya juga pembela Dien Allah. El-Qossam tidak butuh orang kuat hanya sekedar fisik. Tapi butuh para pemuda yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai Ghoyah dan Qudwah.

Beratlah kiranya jikalau kita turut mengangkat senjata bersama el-Qossam. Kayaknya malah bakal ngerepoti mereka deh. Pembinaan ruhiyah disana sangat ketat. Ruhiyah kita gimana? Entar disuruh Qiyam al-Layl malah ngantuk. Disuruh meng-khatamkan minimal lima juzu’ sehari malah mangkir.

Jadi gimana dunk? Kata Jenderal Soedirman bahwa sikap orang yang tidak ingin berjihad itu tergolong pada cabang kemunafikan.

Maka Jihad pun ada porsinya,

1. Bagi para pemuda yang kuat fisiknya dan terbina mental ruhiyahnya, mereka berada pada garda terdepan mengangkat senjata.

2. Bagi warga sipil, mereka mem-backup dengan bantuan makanan, obat-obatan atawa bentuk skill lainnya yang berguna bagi para Mujahid.

3. Bagi para wanita, mereka bertugas mencetak generasi baru Para Mujahid. Melahirkan anak-anak dan mewakafkan buah hatinya untuk Jihad.

4. Bagi para guru, assatidz dan assatidzah, mereka mendidik anak-anak dari para wanita tadi untuk menjadi penghafal Quran. Jadi pas dewasa langsung bisa daftar dalam barisan el-Qossam.

5. Bagi para ulama, mereka menyokong Jihad dengan fatwa-fatwa yang membangkitkan semangat Para Mujahid. DQY mungkin tidak langsung berjihad mengangkat senjata. Namun, ceramah-ceramah beliau terpatri dalam hati Para Mujahid sehingga mereka enggan mundur selangkah pun dari hadapan musuh.

6. Bagi seluruh manusia yang ridho Allah menjadi Robb, fardhu ‘ain bagi mereka berjihad dengan memberikan donasi kepada rakyat dan Mujahid dengan berbagai bentuk. Baik materil maupun moril. Baik bendawi maupun maknawi. Atawa juga do’a.

Mujahid

Jadi untuk kita-kita di Indonesia cuman dapat porsi terakhir dunk? Ya gak masalah. Yang penting kan telah turut ambil porsi. Dari pada hanya berdiam diri.

(bersambung)

Dikutip dari buku “3500 karakter untuk kamu“.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s