Masa Lalu

Standard

Masuk Bab Nostalgia. Bab yang rumit untuk diungkapkan —seperti biasa— lantaran akan ada banyak hal yang ingin dan tidak ingin diketahui orang lain. Tentang kita. Perihal kita.

“Sudah berapa lama kita nunggu?”

Sekitar dua puluh menit lalu aku bertemu dengan si penggemar Sir Isaac. Membuat janji sudah cukup lama. Akhirnya tertakdir untuk bertemu jua.

Dua puluh menit“, jawabnya.

“Berarti?”

Sudah 1.200 sekon sejak keempat kaki kita berpapasan

Perlu diketahui bahwa,

satu sekon adalah selang waktu yang diperlukan oleh atom sesium-133 untuk melakukan getaran sebanyak 9.192.631.770 kali dalam transisi antara dua tingkat energi di tingkat energi dasarnya.

“Masih jadi penggemar Sir Isaac?”

Tentu. Emang kamu udah gak lagi, Yan?

“Ya masih. Tapi…”

Perlu diketahui bahwa,

Sir Isaac merupakan ahli astronomi yang kami gemari sejak dulu. Sejak di bangku sekolah. Beliau dapat gelar bangsawan dari Ratu Ann di usia beliau ke 63 tahun. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang agamis. Beliau mendobrak pemahaman tentang sains: astronomi, fisika dan kimia yang kala itu dianggap sebagai kekuatan sihir.

Di zaman itu memang sering kali timbul pertentangan antara sains dengan ajaran agama. Seperti halnya pergelutan antara Galileo dengan gereja katolik pada 22 Juni 1633. Padahal semestinya agama dan sains berjalan beriringan.

Tapi, menjadi seorang yang faham mekanika kuantum itu apa untungnya sich? Sekarang ini sudah bukan zamannya lagi ilmuwan dipuja. Ilmuwan hanya dijadikan alat. Tidak jarang sebagai alat penindas. Alfred menyesal telah menemukan dinamit yang ternyata sangat efektif untuk menjadi alat pemusnah masal. Rasa penyesalannya tidak sia-sia. Dengan mendirikan Yayasan Nobel, ia mendedikasikan harta yang dimilikinya untuk para ilmuwan.

Orang-orang yang berhak menerima Nobel Prize adalah mereka yang sudi mempertaruhkan hidupnya pada ilmu pengetahuan, kemanusiaan maupun dunia seni sastra. Itulah sebagai bentuk penyesalan Alfred atas temuannya yang maha dasyat, dinamit. Dan kini, setiap tanggal 10 Desember, Kota Stockholm selalu menjadi perhatian dunia. Di kota yang dingin tersebut, puluhan ilmuwan kelas dunia berkumpul untuk menyaksikan pemberian hadiah Nobel. Termasuk aku yang sangat mendambakan hadiah tersebut. Bukan sekedar mengejar harta dunia, tapi ingin membuktikan bahwa “kita” bisa sejajar dengan “mereka” di kancah dunia.

Silakan terjemahkan sendiri apa maksud dari “kita” dan “mereka”.

Jangan mau kalah deh. Prof. Abdussalam aja yang seorang Ahmadiyah pernah meraih Nobel Fisika pada 1979 bersama dengan Sheldon Glashow dan Steven Weinberg. Dan buat teman-teman yang ahli ekonomi, boleh berbangga lantaran Penghargaan Bank Swedia dalam Ilmu Ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel dianggap sebagai Nobel Prize bidang ekonomi.

Masih mau menunggu, Yan?

“Tenang. Penantian kita akan berakhir. Dunia ini tidak kekal. Ilmu pengetahuan yang kita miliki kelak juga akan dimintai pertanggungjawaban.”

Aku juga. Aku masih ingin jadi ilmuwan. Masih mengejar mimpiku di Stockholm.

Temanku si penggemar Sir Isaac sempat kecewa lantaran belakangan aku lebih suka belajar ekonomi ketimbang fisika. Saat aku mulai melupakan mekanika kuantum. Kini aku hanya memahami fisika sebatas empat dimensi: ruang dan waktu. Pencarian akan enam dimensi lain ku serahkan padanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s