di keheningan

Status

aku akan terus mencari
dimanapun
cara apapun
berjalan, berlari

namun kadang ku terhenti
rehat sejenak
menghela nafas
hingga terisi lagi daya untuk ku bisa merengkuh kembali dayung ini

dayung
telah lama mungkin usang digunakan
sembari mengatur helaan nafas, tiada lupa ku perbaiki dayung ini
untuk memperlancar laju perahu

perahu bukan sembarang perahu
perahu hidup laksana diri
laksana Syairperahu Hamzahfansuri

jauh
kembali ku tatap jalan yang hendak terlalui
jauh dan terlampau jauh
hanya akan berakhir saat kereta kencana hadir
hadir membawa Bagindaizrail

image

-dalam sujud, hening di sela doa untuk dapat melihat merpati

Masa Lalu

Standard

Masuk Bab Nostalgia. Bab yang rumit untuk diungkapkan —seperti biasa— lantaran akan ada banyak hal yang ingin dan tidak ingin diketahui orang lain. Tentang kita. Perihal kita.

“Sudah berapa lama kita nunggu?”

Sekitar dua puluh menit lalu aku bertemu dengan si penggemar Sir Isaac. Membuat janji sudah cukup lama. Akhirnya tertakdir untuk bertemu jua.

Dua puluh menit“, jawabnya.

“Berarti?”

Sudah 1.200 sekon sejak keempat kaki kita berpapasan

Perlu diketahui bahwa,

satu sekon adalah selang waktu yang diperlukan oleh atom sesium-133 untuk melakukan getaran sebanyak 9.192.631.770 kali dalam transisi antara dua tingkat energi di tingkat energi dasarnya.

“Masih jadi penggemar Sir Isaac?”

Tentu. Emang kamu udah gak lagi, Yan?

“Ya masih. Tapi…”

Perlu diketahui bahwa,

Sir Isaac merupakan ahli astronomi yang kami gemari sejak dulu. Sejak di bangku sekolah. Beliau dapat gelar bangsawan dari Ratu Ann di usia beliau ke 63 tahun. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang agamis. Beliau mendobrak pemahaman tentang sains: astronomi, fisika dan kimia yang kala itu dianggap sebagai kekuatan sihir.

Di zaman itu memang sering kali timbul pertentangan antara sains dengan ajaran agama. Seperti halnya pergelutan antara Galileo dengan gereja katolik pada 22 Juni 1633. Padahal semestinya agama dan sains berjalan beriringan.

Tapi, menjadi seorang yang faham mekanika kuantum itu apa untungnya sich? Sekarang ini sudah bukan zamannya lagi ilmuwan dipuja. Ilmuwan hanya dijadikan alat. Tidak jarang sebagai alat penindas. Alfred menyesal telah menemukan dinamit yang ternyata sangat efektif untuk menjadi alat pemusnah masal. Rasa penyesalannya tidak sia-sia. Dengan mendirikan Yayasan Nobel, ia mendedikasikan harta yang dimilikinya untuk para ilmuwan.

Orang-orang yang berhak menerima Nobel Prize adalah mereka yang sudi mempertaruhkan hidupnya pada ilmu pengetahuan, kemanusiaan maupun dunia seni sastra. Itulah sebagai bentuk penyesalan Alfred atas temuannya yang maha dasyat, dinamit. Dan kini, setiap tanggal 10 Desember, Kota Stockholm selalu menjadi perhatian dunia. Di kota yang dingin tersebut, puluhan ilmuwan kelas dunia berkumpul untuk menyaksikan pemberian hadiah Nobel. Termasuk aku yang sangat mendambakan hadiah tersebut. Bukan sekedar mengejar harta dunia, tapi ingin membuktikan bahwa “kita” bisa sejajar dengan “mereka” di kancah dunia.

Silakan terjemahkan sendiri apa maksud dari “kita” dan “mereka”.

Jangan mau kalah deh. Prof. Abdussalam aja yang seorang Ahmadiyah pernah meraih Nobel Fisika pada 1979 bersama dengan Sheldon Glashow dan Steven Weinberg. Dan buat teman-teman yang ahli ekonomi, boleh berbangga lantaran Penghargaan Bank Swedia dalam Ilmu Ekonomi untuk mengenang Alfred Nobel dianggap sebagai Nobel Prize bidang ekonomi.

Masih mau menunggu, Yan?

“Tenang. Penantian kita akan berakhir. Dunia ini tidak kekal. Ilmu pengetahuan yang kita miliki kelak juga akan dimintai pertanggungjawaban.”

Aku juga. Aku masih ingin jadi ilmuwan. Masih mengejar mimpiku di Stockholm.

Temanku si penggemar Sir Isaac sempat kecewa lantaran belakangan aku lebih suka belajar ekonomi ketimbang fisika. Saat aku mulai melupakan mekanika kuantum. Kini aku hanya memahami fisika sebatas empat dimensi: ruang dan waktu. Pencarian akan enam dimensi lain ku serahkan padanya.

Negeri Subur

Standard

Palestine.

Jawaban akan sebuah pertanyaan masih belum tuntas,

“Apa sich landasan kita membantu Palestine?”

Ada dari kita yang bilang bahwa kondisi Palestine sedang mencekam lantaran agresi militer Israel. Rakyat Palestine mengalami kesedihan lantaran banyak jatuh korban dari pihak sipil tidak bersalah. Dan berbagai ungkapan lain dari kita warga nusantara. Dan dengan alasan itu kita mencoba untuk membantu Palestine.

Kayaknya gak gitu deh. Siapa bilang Palestine menderita? Siapa bilang Palestine bersedih? Warga Palestine –wa bil khusus di Gaza Strip— justru bergembira. Disana jalan menuju syahid terbuka lebar. Siapa yang tidak ingin syahid? Disana mereka sedang berpesta syurga. Para bidadari menanti hadirnya para mujahid baru. Masih banyak bidadari yang belum kebagian “jatah” mujahid untuk menjadi suaminya di syurga.

Dan kita iri kan? Kita iri karena tidak bisa sehebat warga Gaza. Maka dari itu kita mengirimkan bantuan kesana. Kelak di yawm al-hisab, mereka –Para Mujahid— akan menyebutkan bahwa mereka dulu kerap dibantu oleh saudaranya dari Indonesia. So, kita disini —Insya Allah— akan turut beroleh percikan pahala dari Para Mujahid tersebut.

Apa warga Gaza perlu bantuan materil? Atawa moril? Jawabnya tidak. Tidak sama sekali. Rakyat Gaza berdamping dengan Mujahid sangat mampu untuk mengatasi permasalahan mereka sendiri. Lantas kenapa kita bantu? Kita juga faham kan dengan dalil “Innamal Mu’minuna ikhwah“? Bahwa kita satu tubuh yang jikalau terdapat sakit pada satu bagian, maka bagian lain turut merasakannya. Maka kita malu jikalau hanya tinggal diam. Kita pandir jikalau di Gaza sedang berpesta jihad koq kita berdiam saja.

Bocah Gaza itu hebat ya. Mereka terdidik dengan Dien yang sebenarnya. Terbiasa dengan pemandangan Jihad. Interaksi dengan Mujahid –yang juga penghapal Quran. Loe punya fisik kuat. Loe punya otak cerdas. Loe punya hasrat tinggi untuk jadi tentara Allah dan maju di Medan Jihad. BUT, jangan harap Loe bisa ikut dalam barisan Brigade Izzuddin el-Qossam, JIKALAU Loe kagak hafal 30 juzu’ Quran!

Nah, lo. Syaratnya ketat bro. Namanya juga pembela Dien Allah. El-Qossam tidak butuh orang kuat hanya sekedar fisik. Tapi butuh para pemuda yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai Ghoyah dan Qudwah.

Beratlah kiranya jikalau kita turut mengangkat senjata bersama el-Qossam. Kayaknya malah bakal ngerepoti mereka deh. Pembinaan ruhiyah disana sangat ketat. Ruhiyah kita gimana? Entar disuruh Qiyam al-Layl malah ngantuk. Disuruh meng-khatamkan minimal lima juzu’ sehari malah mangkir.

Jadi gimana dunk? Kata Jenderal Soedirman bahwa sikap orang yang tidak ingin berjihad itu tergolong pada cabang kemunafikan.

Maka Jihad pun ada porsinya,

1. Bagi para pemuda yang kuat fisiknya dan terbina mental ruhiyahnya, mereka berada pada garda terdepan mengangkat senjata.

2. Bagi warga sipil, mereka mem-backup dengan bantuan makanan, obat-obatan atawa bentuk skill lainnya yang berguna bagi para Mujahid.

3. Bagi para wanita, mereka bertugas mencetak generasi baru Para Mujahid. Melahirkan anak-anak dan mewakafkan buah hatinya untuk Jihad.

4. Bagi para guru, assatidz dan assatidzah, mereka mendidik anak-anak dari para wanita tadi untuk menjadi penghafal Quran. Jadi pas dewasa langsung bisa daftar dalam barisan el-Qossam.

5. Bagi para ulama, mereka menyokong Jihad dengan fatwa-fatwa yang membangkitkan semangat Para Mujahid. DQY mungkin tidak langsung berjihad mengangkat senjata. Namun, ceramah-ceramah beliau terpatri dalam hati Para Mujahid sehingga mereka enggan mundur selangkah pun dari hadapan musuh.

6. Bagi seluruh manusia yang ridho Allah menjadi Robb, fardhu ‘ain bagi mereka berjihad dengan memberikan donasi kepada rakyat dan Mujahid dengan berbagai bentuk. Baik materil maupun moril. Baik bendawi maupun maknawi. Atawa juga do’a.

Mujahid

Jadi untuk kita-kita di Indonesia cuman dapat porsi terakhir dunk? Ya gak masalah. Yang penting kan telah turut ambil porsi. Dari pada hanya berdiam diri.

(bersambung)

Dikutip dari buku “3500 karakter untuk kamu“.

dari nusantara

Standard

.

.

.

Langit Lapangan Merdeka Medan, 11 Muharrom 1434 Hijriyah.

Awan berarak menghiasi langit. Beriring bersama dengan sylph. Mentari terik. Burung-burung mengepakkan sayapnya.

Mereka semua mencoba untuk turut serta menjadi saksi dalam upaya kita membantu saudara-saudara kita di Palestine. Makhluk-makhluk Tuhan itu tak terlalu kita perhatikan kehadirannya. Padahal mereka juga turut berdo’a baik untuk kita maupun saudara kita di Palestine.

Tuhan, aku ingin menjadi pelindung para mujahid agar mereka tidak berpanas saat berjuang menegakkan Dien-Mu. Aku ingin meneduhkan hari-hari mereka yang tengah berjuang melawan musuh-Mu yang nyata. Aku juga ingin meneduhkan perjuangan mereka di Indonesia. Meski mereka tidak terjun langsung berjihad. Namun mereka juga sedang berjihad dengan bentuk lain.”

-ucap sang awan demikian.

_

Tuhan, aku ingin semakin terik. Terik dan membakar. Aku ingin membakar jiwa dan raga para zionist. Aku tahu mereka itu pengecut. Jangankan oleh perlawanan mujahid-Mu. Panas terikku saja sudah membuat mereka gentar. Aku ingin mereka merasakan neraka dunia sebelum neraka sesungguhnya.”

-ucap sang mentari demikian.

_

Tuhan, aku tahu hari ini aku hanya seekor merpati kecil. Aku faham aku hanya mampu mengepakkan sayap kesana-kemari. Tapi izinkanlah aku untuk menjadi ababil yang menghantarkan batu-batu dari neraka. Izinkan aku meluluhlantakkan zionist. Mereka itu menungso yang tidak faham akan kata-kata bijak. Tidak akan mengerti bahasa diplomasi. Mereka hanya faham bahasa perlawanan. Aku sudi mengorbankan jiwa dan ragaku untuk tegaknya Dien-Mu di bumi persada Palestine”

-ucap sang merpati demikian.

_

Seluruh daerah senusantara telah melakukan pergerakan untuk membantu saudara kita di Palestine. Berbagai bentuk bantuan telah didapat. Donasi berupa uang tunai, bendawi maupun tenaga terus mengalir untuk mereka. Satu hal yang tidak kalah penting adalah mengalirnya do’a-do’a kita yang selalu terselip dalam munajah kita. Tahajjud yang terlaksana tiap malamnya pun tidak pernah terlupa. Dzikir harian di pagi dan petang juga tak kan terlewat. Palestine akan selalu menghiasi pagisiangsenjamalam kita.

Sejenak saja ingin bertanya,

“Apa sich landasan kita membantu Palestine?”

Beberapa dari kita menjawab,

-Bla, bla.. bla, bla..

-Konstitusi kita, bla, bla.. bla, bla..

-Dalam undang-undang kita, bla, bla.. bla, bla..

Penjabaran yang benar namun sulit untuk aku mengerti. Kalau kamu? Kamu tentu lebih faham akan hal-hal yang seperti ini. Sedang aku hanyalah orang biasa yang memahami tindakanku dengan pandangan yang sangat biasa.

Yang aku tahu cuman sedikit, sekedar,

Palestine itu negara perdana yang mengakui Indonesia sebagai negara berdaulat. Disusul negara-negara lain yang seprinsip dan seperjuangan dengan Indonesia. Ada Mesir, India dan lainnya. Kala itu Palestine bukan negara adidaya yang mempunyai kemampuan finansial yang mumpuni. Namun negara mereka dihuni begitu banyak Mukminin yang faham dalil “Sesungguhnya sesama Mukmin itu bersaudara“.

Persaudaraan berlandas pada keterikatan aqidah dan hati lebih kuat dari ikatan apapun hatta ikatan saudara kandung sekalipun. Hanya dukungan diplomatis sajakah? Belum. Belum berhenti demikian. Mereka juga membantu dana untuk perjuangan rakyat Indonesia. Dan kayaknya donasi dari Indonesia selama ini belum sebanding deh dengan yang pernah mereka berikan tempo dulu. Jadi wajar sangat jikalau kita berupaya membalas kebaikan mereka dengan balasan terbaik.

Dari Nusantara, dipenuhi cinta untukmu Palestine.

(bersambung)

Dikutip dari buku “3500 karakter untuk kamu“.

Berbagi bersama

Standard

Hari gini masih suka mengeluh kepada pemerintah? Emang masih musim ya? Aku terkadang bahkan lupa kalau di negara ini masih punya pemerintah.

Coba ingat petuah dari Abraham Lincoln, apa sich yang sudah kita berikan kepada negara? Hm, maksudnya apa? Pajak? Apa saja dech yang penting jadi kontribusi positif seberapa pun besarnya.

Kemarin pas 1 Muharram, aku dapat undangan dari teman untuk hadir kumpul-kumpul bareng aktivis Blog. Ba’da gowes ku sempatkan hadir di undangan tersebut yang bertempat titik Nol Kota Medan. Hm, lokasi keren penuh sejarah. Di tempat inilah pertama kali dikumandangkan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bumi Andalas. Mr. Teuku Mohammad Hasan yang kelak menjadi gubernur pertama di Swarna Dwipa membawa dan membacakannya di Lapangan Esplanade yang dikala pendudukan Jepang lazim disebut sebagai Lapangan Fukuraido.

Hadir hampir telat saat kumpul bareng aktivis Blog tersebut dikarenakan harus gowes dari Sei Sikambing. Maklum, aku cuman punya kenderaan yang baginian –yang rantainya di sebelah kanan. Teman-teman yang hadir unik-unik. Dan aku lebih sorr ku rasa. Maksudnya gini,

lantaran biasanya aku berkumpul dengan aktivis Blog yang lebih Business Oriented. Nah, kali ini berkumpul dengan mereka yang membawa nama Bloof. Opo iku? Blog of Friendship. Persahabatan. Gak ada dech cerita sikut-sikutan dunia bisnis disini. Sorr kali ku rasa. Cocoklah!

Nah, loh. Teman-teman bahkan punya ide yang bertemakan sosial gitu. Sesuatu yang sudah sangat lama ku tinggalkan. Ide kecil yang kelak berdampak besar –seperti kata Armstrong. Idenya untuk memberikan santunan seikhlas hati kepada orang-orang yang tidak sebahagia kita-kita. Walau makna bahagia itu sangat relatif, tapi upaya kecil ini hendaklah dimaknai sebagai kegigihan untuk berkontribusi kepada negara –seperti kata Lincoln tadi. Setuju kan? Dari pada mengeluh keadaan pemerintah yang tidak beres, lebih baik kita berbagi kepada sesama. Mugi malaikat rela menulisnya sebagai catatan amal yang bisa ngebantu kita di yawmul hisab kelak.

Kata Mas Lasso,

Keindahan di mata tak pasti kebahagiaan. Karena kebahagiaan sesungguhnya ada di hati .

Celengan biru nan sederhana ini. Yok kita isi! Ntar kita berbagi ke mereka. Panti Asuhan kah? Anak jalanan kah? Boleh juga ke Laskar Melati ibu-ibu pembersih jalan. Lantaran ibu-ibu ini juga Medan kita bisa meraih Adipura. Di saat kita membuang sampah sembarangan, mereka yang membersihkannya. Di saat kita anteng berkenderaan, mereka yang menghirup debu san asapnya. Pake masker ya Bu, biar gak kenak TB Paru-paru.

Sekian dulu ya.

sc_01; Ta’aruf

Standard
  1. Assalamu’alaikum. Teman², udah pada sholat ‘Isya kan? Bagi yang belum sholat Isya ayo disegerakan yah! 🙂
  2. Teman², adakah yang sedang ta’aruf saat ini? ^^ kali ini saya akan share tentang #Taaruf. Mau simak? Yuk! Bismillah.
  3. #Taaruf berasal dari Bahasa Arab, bermakna “saling mengenal“, bisa berkenalan dengan siapapun, lelaki maupun perempuan.
  4. Makna #Taaruf lebih spesifik ketika ditujukan untuk siapa saja yang mencari jodoh, tanpa melalui proses pacaran.
  5. Tujuan #Taaruf sebagai wadah berkenalan & mengetahui lebih dalam tentang calon suami/istri yang akan menikah (pra khitbah).
  6. Mengenal lebih dalam? Eits, jangan berpikir jauh² dulu. Dalam #Taaruf gak ada kontak fisik lho, jadi jangan disamain dengan pacaran yah.
  7. Bedanya #Taaruf dengan pacaran apa? Wow, beda sekali. Antara bumi dan langit deh hehehe.
  8. Di Mata Allah, pacaran adalah salah satu perbuatan yang mendekati zina. Kenapa? Karena didalam pacaran bentuk zina bisa ditemukan. *kalem
  9. Zina apa aja? Zina hati, zina mata, zina tangan, zina kaki, zina mulut & zina terbesar yaitu zina farji. Naudzubillahi min dzalik.
  10. Yuk Qur’an-nya dibuka, “Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji & suatu jalan yang buruk” *Al-isra’:32
  11. Sekedar mengingatkan/info bagi yang belum tahu, bahwa zina adalah salah 1 dari 7 dosa besar didalam Islam.
  12. Bagaimana dengan #Taaruf? Ta’aruf justru disyariatkan dalam Islam, sebelum dimulainya hubungan bernama pernikahan. *tsaah
  13. Tujuan #Taaruf sudah jelas untuk menikah, nah kalo tujuan pacaran? Macam² yah motifnya.
  14. Coba deh tanyain ke teman² yang punya pacar, apakah benar tujuan pacaran untuk menikah? *kalem
  15. #Taaruf punya jangka waktu 3 bulan, kalaupun lebih biasanya bukan ta’aruf lagi, tapi sedang mempersiapkan pernikahan.
  16. Nah kalo pacaran gimana? Gak ada yang tau kan kapan masa pacaran itu berlangsung? Ada yang mingguan, bulanan bahkan tahunan. (-.-“)
  17. Jadi kalo jangka waktu #Taaruf lebih dari 3 bulan & gak ada perkembangan menuju pernikahan itu berarti bukan ta’aruf tapi lagi pacaran.
  18. Orang yang berani #Taaruf mentalnya sudah lebih siap untuk menikah. Jadi gak ada unsur main² lagi, karena tujuan ta’aruf jelas untuk menikah.
  19. Beda dengan pacaran, belum tentu mental mereka sudah siap menikah, karena toh tujuan pacaran tidak selalu untuk menikah.
  20. Ssst, katanya pacaran setelah menikah lebih asyik lho. Karena apa? Karena sudah halal. *aih
  21. Dear, semakin lama berhubungan dengan lawan jenis maka akan semakin mengotori hatimu.
  22. Hubungan yang terlalu lama juga akan mengeratkan hatimu. Padahal berpacaran belum tentu menikah kan?
  23. Beda sama #Taaruf yang jangka waktunya sebentar, gak akan terlalu mempengaruhi hati. Kalo ta’aruf berhenti ditengah jalan gak nangis bombay.
  24. Karena hasil #Taaruf benar² murni keputusan Allah dari hasil istikharah. Keep positive thinking! ^^
  25. Oiya, #Taaruf juga membutuhkan perantara. Kenapa? Salah satunya karena rentan terhadap “kebersihan hati”. Jaga hatinya untuk yang halal ya! ^^
  26. Siapa aja sih perantara #Taaruf? Bisa Orangtua, keluarga dekat, teman, atau guru ngaji (Murabbi/Murabbiyah)
  27. Sekarang udah jelas kan apa itu #Taaruf? ^^ lanjut yuk! Mekanisme ta’aruf jika Guru ngaji menjadi mediator/perantara.
  28. Pertama, saling tukar CV/biodata + foto. Foto gak jadi jaminan wajah asli lho, bisa jadi wajah asli lebih baik dari foto, atau sebaliknya.
  29. Nah, CV itu jadi gambaran awal calon suami/istri kita. Dianjurkan untuk istikharah sebelum memutuskan untuk melanjutkan proses #Taaruf.
  30. Diberi jangka waktu juga yah untuk memutuskan, apakah proses #Taaruf dilanjutkan atau berhenti sampai disitu. 🙂
  31. Selanjutnya pertemuan antara si lelaki & perempuan. Pastinya ditemani oleh guru ngaji masing².
  32. Nah, pada moment itu kamu akan melihat wajah asli si calon. Manfaatkan waktu tersebu sebaik-baiknya untuk menanyakan hal² yang dianggap penting.
  33. Setelah pertemuan pertama, kamu akan semakin tau kecenderungan hatimu. Ingatlah, selalu libatkan Allah dalam mengambil keputusan.
  34. Jika #Taaruf diteruskan, selanjutnya silaturrahim ke keluarga si wanita. Biasanya kedua keluarga udah ngebahas rencana pernikahan.
  35. Sebelum kedua keluarga bertemu, hendaknya masing² calon sudah menceritakan tentang proses #Taaruf ini kepada keluarga.
  36. Next, meng-khitbah atau meminang atau melamar. Usai pinangan, calon istri dilarang menerima pinangan dari lelaki lain.
  37. Oiya, meskipun sudah di-khitbah, syariat tetap melarang calon suami & istri melakukan hal² yang tidak diperkenankan karena bukan mahrom.
  38. Masih ingat tentang saling tukar CV? Kamu juga boleh menuliskan kriteria² calon pasanganmu.
  39. Kalau berniat menikah untuk ibadah mungkin tidak perlu membuat kriteria, yang penting si calon baik dalam agama & akhlaqnya.
  40. Tapi gak semua orang gitu juga sih, karena kita punya kecenderungan manusiawi, maka ada deh beberapa kriteria calon pasangan hidup. *aih
  41. Pernah dengar kriteria berdasarkan sabda Rasulullah Muhammad tercinta? Saya repost ya, sekedar mengingatkan. ^^
  42. “Wanita dipilih karena 4 hal: kecantikan, keturunan, kekayaan & agamanya. Carilah wanita karena agamanya, niscaya kamu akan bahagia.”
  43. Hadits tadi ditujukan untuk laki², tapi bisa juga sebagai acuan untuk kaum wanita. Semua pasti mau kan berpasangan dengan seseorang yang TOP agamanya?^^
  44. Yuk perbaiki diri terus, luruskan niat untuk menggapai Ridho ALLAH. Fastabiqul khairat! Yang lagi #Taaruf semoga dilancarkan yah. ^^
  45. Insya Allah, Kapan² disambung lagi dengan bahasan tentang akad nikah, mahar, walimah, dll. Keep Istiqomah! Wassalam. ^^

KulTwit dari Mbak @dinizaenal25

,,Saya lebih memilih menjadi ibu dan istri yang sukses dibandingkan menjadi wanita karir yang sukses. Menuntut ilmu terus, perbaiki diri terus. #AllahuAkbar!”

(by Dini Zaenal)

Ngaji

Ngaji

Nonton Bareng

Standard

Meski saya kurang suka membaca, wa bil khusus membaca novel, saya sempatkan untuk menonton ;Cinta Suci Zahrana;. Film yang diadaptasi dari Novel besutan Habiburrahman dengan judul serupa. Sulit untuk memberi komentar terhadap film ini, lantaran sudah banyak yang memberi komentar positif terhadapnya. Film ini memang sarat hikmah. Tanpa banyak menggurui namun langsung jleb. Menusuk ke hati.

Ada sedikit catatan yang saya buat ba’da menonton tayangan ini. Bukan merupakan resensi, hanya sekedar ungkapan hikmah yang mampu saya petik. Mudah-mudahan juga dapat saya laksanakan.

1. Jodoh sepenuhnya berada di tangan Allah | Kita akan meraihnya dengan jalan Ikhtiar dan munajat | Libatkan Allah dalam keseharian kita.

2. Kita boleh memilih jodoh sesuka hati | Tampan-Cantik | Kaya | Ningrat | Pendidikan | Atawa poin-poin lain yang bersandar pada duniawi.

3. Atawa kita melandaskan jodoh pada nilai-nilai Ukhrowy | Keimanan | Sholih | Mencintai dan Bertanggungjawab pada keluarga | dan lainnya.

4. Dan nilai Ukhrowi yang paling utama adalah tatkala jodoh kita lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya ketimbang dirinya apalagi kita.

5. Zahrana manyodorkan Quran untuk dibaca sang calon suami | Melandaskan kebaikan Agama seseorang dari apik tidaknya ia membaca Quran.

6. Hanya langkah awal | Jikalau seseorang sudah apik membaca Quran, merupakan pintu awal untuk kebaikan lainnya.

7. Sholat merupakan landasan berikutnya | Jodoh yang terbaik adalah yang menjaga Sholat | Taqwim | Khusyu’ | Berefek.

8. Maksud dari Berefek adalah nilai-nilai kekhusyu’an Sholat nyatu ke perilaku hidup sehari-hari | Sholat juga maksiat juga :Tidak demikian.

9. Suami menjadi Imam yang baik saat Sholat | Istri dan anak-anak menjadi makmumnya | Imbas dari Sholat :semua jadi baik.

10. Zahrana memiliki pendidikan tinggi | Tapi tidak sombong untuk mengharap pendamping sestrata | Agama landasan paling utamanya.

11. Berjodoh dengan tukang kerupuk yang miskin dan pendidikan jauh dibawahnya pun ia bersedia | Asal agamanya baik.

12. Berikhtiar dengan konsultasi jodoh pada tempat yang tepat :Kiyai Pesantren | Tentu pilihan baik | Kiyai pun memilihkan yang terbaik.

13. Meski sang calon hanya tukang kerupuk yang sederhana namun apik dalam beragama | Pilihan Sang Kiyai | Zahrana setuju.

14. Cobaan pun hadir silih berganti | calon suami meninggal tepat satu malam sebelum akad nikah | Duka mendalam bagi Zahrana.

15. Wajar jikalau Zahrana terpukul | Tapi tidak ada cobaan yang hadir tanpa izin dan kehendak Allah | Zahrana tawakkal.

16. Perkara jodoh dan musibah menjadi titik tekan lakon Cinta Suci Zahrana.

17. Tawakkal-Munajat | Tawakkal-Munajat | Tawakkal-Munajat | Tawakkal-Munajat | Tawakkal-Munajat | Terus menerus menjadi kunci.

18. Allah tidak akan bosan mendengarkan kita | Munajat | Harap | Ratap | Tangis | Jadikan Allah tempat mengadu dan bergantung.

19. Titik tekan lainnya tentang Birrul Walidain | Kerap menjadi dilema bagi Zahrana | Zahrana lebih selektif ketimbang Ayahnya.

20. Namun Zahrana juga tidak ingin melukai hati Ayahnya yang demikian tidak sabar akan jodoh anaknya.

21. Orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya | Si Anak punya pilihan tersendiri | Namun semua persoalan akan selesai tatkala bertawakkal.

22. Orangtua Zahrana menilai bahwa ia lebih mementingkan karir pendidikannya ketimbang jodoh.

23. Keduanya penting | Prioritas | Mesti dibangun keseimbangan. Pendidikan yang baik | Jodoh yang baik.

24. Akhirnya saya jadi kian mengerti bahwa jodoh itu memanglah rahasia Allah | Allah akan memilihkan yang terbaik untuk kita.

25. Tugas kita :Ikhtiar | Munajat | Mensholihkan diri | Agar mendapat jodoh yang sekufuh. Selevel keimanannya.

26. Kalo dapet yang Tampan-Cantik Alhamdulillah | Itu bonus | Yang penting landasan agamanya.

27. Kalo dapet yang Kaya Alhamdulillah | Itu bonus | Yang penting landasan agamanya.

28. Kalo dapet yang Ningrat Alhamdulillah | Itu bonus | Yang penting landasan agamanya.

29. Kalo dapet yang Berpendidikan Tinggi Alhamdulillah | Itu bonus | Yang penting landasan agamanya.

30. Ir. Dewi Zahrana, M.Sc. Hendaknya Beliau juga menjadi motivasi bahwa seorang wanita jangan mau kalah pendidikannya..

 Sok Tekun

Pakai index, ecek-eceknya kulTwit. Dikopi-paste dari Blog teman di http://dwihimura.tumblr.com

Orang Pinggiran, Fidel Edition

Standard

Koin Perjuangan

Nama lengkapnya Refidel. Akrab dipanggil Fidel. Remaja umur 14 tahun ini sudah terbiasa menjadi pemburu koin yang di lempar para penumpang kapal Ferry di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Selain Fidel adiknya Galang juga menjadi pemburu koin demi memenuhi kebutuhan hidup yang serba kekurangan, sebagian uang yang didapat diberikan kepada orangtua Fidel.

Koin Perjuangan

Setiap pulang sekolah Refidel bersama sang adik langsung menciling di Danau Toba. Pekerjaan yang penuh resiko ini sudah dijalaninya sejak kelas dua sekolah dasar. Meski lelah mendera, Refidel ikhlas membantu perekonomian keluarga.

Koin Perjuangan

Koin Perjuangan

Koin Perjuangan

Koin Perjuangan

Koin Perjuangan

Gambar-gambar diatas merupakan hasil screen capture dari tayangan ‘Orang Pinggiran‘ di Trans7 yang ditayangkan pada Kamis, 16 Februari 2012 pukul 17.30 WIB. Sesiapa yang ingin membantu meringankan beban saudara kita ini, disilakan untuk merapat ke alamat Jl. Mespenda,Parapat, Parsauran, Ajibata, Pelabuhan Feri, Toba, Sumut. Atawa menghubungi contact person Pak Kades Togar Sirait di nomor 082164544991.

‘Orang Pinggiran’ sendiri merupakan program acara semi dokumenter yang bercerita mengenai perjuangan orang pinggiran untuk bisa bertahan hidup meskipun kehidupan mereka terus tergerus oleh perkembangan zaman. Memenuhi berbagai kebutuhan hidup meskipun dengan keterbatasan dan ketertinggalan menjadi inspirasi tersendiri bagi penonton. Motivasi dan semangat mereka menjalani hidup dapat mengatasi berbagai halangan yang ada.

Ditayangkan di Trans7 setiap Senin – Jumat pukul 17.30 – 18.00 WIB.

Ada banyak media tempat kita belajar kehidupan. Terutama belajar dari mereka yang serba kekurangan namun pandai mensyukuri nikmat hidup. Semoga kita juga termasuk hamba Allah yang pandai bersujud, bersyukur.

Sumber : http://adf.ly/C4j9D, http://on.fb.me/OThHy4

Tiga Menguak Takdir

Standard

Di abad ini sedikitnya ada tiga pemimpin dunia yang berkait dengan Arab Spring. Keberhasilan mereka membuka kran Dakwah bukan terjadi dengan tiba-tiba. Sejenak kita telusuri sepak terjang mereka mengubah wajah dunia.

1. Recep Tayyip Erdogan (Bayonet, Kubah dan Erbakan)
Sejak runtuhnya supremasi kedaulatan ummat di Turki delapan dasawarsa yang lalu hingga kini terus bergelora. Direntang waktu itu, kitapun menyaksikan dan merasakan betapa kerasnya berbagai rintangan yang menghadang. Kegagalan ataupun keberhasilan pada satu fase dakwah seringkali melumpuhkan semangat kita untuk terus berjuang.

Erdogan bersama Saudara-saudara Ikhwan lain berusaha untuk membangkitkan al-Islam yang dikubur mati oleh rezim Kemal Attaturk yang sangat memuja Sekularisme. Selama Thoghut Sekuler mencengkram Turki, Islam hampir tidak pernah terdengar gaungnya. Yang ada hanyalah sekedar identitas di KTP. Negara menganut Sekuler sebagai Idiologi resmi. Memisahkan Syari’at dari kehidupan sehari-hari.

Agama dianggap hanya urusan pribadi dengan Tuhan. Itupun disaat perlu saja. Jilbab secara mutlak dilarang penggunaannya. Begitupun dengan Adzan dan Quran. Quran yang diijinkan beredar hanya yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Turki. Sungguh tersiksa kondisi saat itu bagi seorang Mukmin jikalau hendak menjalankan Syari’at dengan baik.

Tentang Kemal Attaturk
Beliau merupakan orang laknat yang melakukan dosa yang bahkan Iblis sekalipun enggan melakukannya. Meruntuhkan Daulah Islamiyah. Tentu diakui bahwa supremasi Kedulatan Islam ketika itu memang sudah lemah, namun meruntuhkannya tidak lain merupakan dosa yang tidak terampuni. Masih tentang Kemal (Laknatullah ‘alayhi). Di meja kerja Beliau selalu terdapat al-Quran kecil. Subhanallah. BUT, ternyata Quran tersebut dipakai untuk menempeleng bawahannya yang dianggap kurang becus menurutnya. Na’uzubillah tsumma Na’uzubillah.

Dimasa awal kepemimpinan Erdogan bukan tanpa halang rintang. Bayang-bayang militer berbau Sekuler masih sangat mendominasi pemerintahan. Hubungan mesra Turki-US-NATO tidak dapat dielakkan begitu saja. Dan Sekuler. Ya, Sekuler. Itulah yang dianggap sebagai musuh utama Erdogan dan Ikhwan sebarisannya. Mengubah Idiologi Negara dengan gegabah dan sembrono sungguh tidak mungkin. Tidak bisa serta merta menghapus paham Sekuler dari Negara. Tapi sekarang tatanan Keislaman di Turki sudah dibenahi. Walau masih Sekuler, namun rakyatnya sudah lebih banyak mencintai Islam.

Sudah sejak lama Erdogan membuat panas telinga kaum Sekuler. Tercatat di tahun 1993, Erdogan mengeluarkan sebuah pernyataan ,,Menjadi sekuleris dan Muslim secara beriringan adalah berbahaya. Mereka (para Sekuleris) terus berkata, ‘Sekularisme dalam bahaya’. Dan itu (‘Sekularisme dalam bahaya’) akan terjadi. Anda (para Sekuleris) tak dapat mencegahnya. Negara-negara Muslim akan menunggu kebangkitan kembali para Muslim Turki. Kami akan melakukannya. Perlawanan akan segera dimulai”. Subhanallah. Merinding. Di Negeri yang mengubur Islam dan memuja Sekuler, hadir pemuda yang dengan lantang menyuarakan tegaknya al-Islam.

Konsekuensi
Perjuangan melawan rezim bukan tanpa konsekuensi. Penjara. Biasa itu. Puisi karangan Ziya Gokalp yang bersaksi untuk sebuah perjuangan menuju Penjara,

Masjid adalah barak kami, kubah adalah helm kami
Menara adalah bayonet kami, rang-orang beriman adalah tentara kami
Tentara ini menjaga agama kami.

Perjalanan suci kami adalah takdir kami,
Akhir perjalanan kami adalah syahid (di jalan-Nya). Allahu Akbar!

Demikian puisi yang dilantunkan Erdogan sebelum masuk ,,Madrasah” lantaran dianggap melanggar Asas Sekulerisme Negara.

Erdogan bukan orang pertama dalam lini perjuangan Islam. Beliau hanya sekedar melanjutkan perjuangan Ikhwan. Dalam pemerintah Turki pernah ada Najmuddin Erbakan, Perdana Menteri yang memperjuangkan Islam di Turki. Namun cengkraman militer melumatkan harapan akan jayanya Islam. Dengan mudah militer menggulingkan tahta Beliau. Meski Erbakan telah berpulang, perjuangannya akan dilanjutkan murid terbaiknya, Erdogan.

Begitulah. Patah tumbuh, Hilang berganti. Indonesia sangat didamba hadirnya pemuda seberani Erdogan. Adakah? The Next? Kita? Tanya dalam hati.

-Quod Erat Demonstrandum-

Panglima Prang

Standard

Ketika China masih terpecah-pecah menjadi beberapa kerajaan, perang adalah sesuatu yang tak bisa dihindari, kerajaan besar akan saling berperang untuk menunjukkan kekuasaanya, sementara nasib kerajaan kecil adalah menjadi rebutan kerajaan yang lebih besar dan nasibnya selalu menjadi negara jajahan.

Tapi Kerajaan Hu ternyata tidak pernah dijajah oleh kerajaan besar manapaun, padahal Kerajaan Hu hanyalah sebuah kerajaan kecil yang kekuatan tentaranya minim, dan faktanya kerajaan ini adalah sebuah kerajaan yang makmur dan dipimpin oleh seorang raja yang terkenal sangat jujur.

Kenapa Kerajaan Hu aman-aman saja? Karena Kerajaan Hu letak geografisnyalah yang melindunginya, kerajaan ini dikelilingi oleh pegunungan tinggi, dan dibatasi oleh sebuah sungai lebar yang beraliran cukup deras. Satu-satunya jalan masuk ke kerajaan itu adalah melalui sebuah jembatan yang melintas diatas sungai besar.

Hal ini tentu saja menyulitkan kerajaan besar manapun yang hendak menyerang Kerajaan Hu, kerajaan besar dengan bala tentara ribuan tentu akan kerepotan jika harus melintasi sungai lebar tersebut apalagi jika melewati jembatan, sebesar apapun tentaranya pasti akan terpecah dan tercerai-berai pada saat menyeberang sungai dan akan menjadi sasaran empuk Tentara Hu.

Namun ternyata ada saja raja yang nekad mengerahkan pasukannya untuk menyerang Kerajaan Hu , Raja Zhou mengerahkan tentaranya besar besaran dengan tujuan untuk menjajah Kerajaan Hu. Dan memang sesuai dugaan, sebesar apapun tentara yang dikerahkan, saat menyeberang sungai mereka menjadi tercerai berai karena harus berusaha agar tidak hanyut.

Panglima perang Kerajaan Hu yang mengetahui negaranya akan diserang segera menyiapkan pasukannya untuk menghadang pergerakan pasukan Zhou.

Tapi sang panglima terkejut ketika rajanya memberi perintah, “Siapkan pasukan, tapi tunggu sampai musuh menyeberang sungai baru kita menyerang”

“Tapi Tuanku, pasukan kita tak akan sanggup menghadapi pasukan Zhou, mereka lebih banyak dan berpengalaman, satu-satunya kesempatan kita adalah menyerang mereka saat sedang menyeberang sungai. Saat itu kekuatan mereka melemah tuanku,” bantah Sang Panglima.

“DIAM KAU PANGLIMA! AKU TAHU JIKA KITA MENYERANG MEREKA SAAT MENYEBERANG SUNGAI MAKA KITA AKAN MENANG, TAPI ITU ADALAH PERBUATAN TIDAK KSATRIA DAN TIDAK JUJUR. LEBIH BAIK KITA TUNGGU MEREKA MENYEBERANG.”

“Tapi baginda. Kita tak mungkin menang kalo begitu”

”WAHAI PANGLIMAKU. DENGARLAH. AKU LEBIH BAIK KALAH DAN MATI SECARA KESATRIA DARIPADA HARUS MENANG DENGAN MELAWAN MUSUH YANG TIDAK SIAP!”

Dan memang pada akhirnya Kerajaan Hu kalah dan menjadi jajahan Raja Zhou, Sementara Raja Hu dihukum mati dengan dipenggal kepalanya tapi tetap mempertahankan prinsip kejujuran yang dia yakini.

Sumber : http://sangatmenarik.wordpress.com

Quote

Sepi aku sendiri terjebak di rentan hari
Takut menghalangi batasi gerak diri
Akal sehatku mati agungkan yang tak pasti
Mautpun membayangi tak sanggup kusembunyi

Asa yang menari menggeliat di benakku
Samar Nur-pun melambai memanggilku untuk kembali

Satu sisi melimpah berkah memeluk lelahku
Satu sisi takkan kulepas temani hariku

Satu sisi telah terhapus sisakan perih yang dalam
Satu sisi telah terlahir pecahkan sunyi yang panjang

Satu Sisi

Satu Sisi

Risalah Hati

Standard

Pada akhirnya teman-teman yang dibina di JPRMI bertanya tentang cinta. Suatu pertanyaan yang telah lama saya nantikan terlontar dari mereka. Mereka bertanya tentang pacaran.

Secara resmi saya nyatakan bahwa Remaja Masjid yang telah ternaungi dalam JPRMI tidak sedikitpun dilarang untuk pacaran. Saya tidak perlu membahas tentang hukum pacaran. Islam tidak mengenal kata “pacaran“, untuk itu Islam tidak melarang pacaran.

Cinta merupakan bentuk anugerah dari Allah Sang Khaliq kepada kita para hamba-Nya. Secara sederhana itulah makna cinta yang saya pahami. Jikalau ada definisi lain tentang cinta yang Temans and Sedulurs miliki monggo di-share bersama-sama. Cinta kepada lawan jenis juga merupakan bagian dari anugerah tersebut dan lumrah adanya pada diri setiap Pemuda dan Remaja. Dan cinta semacam ini kerap identik dengan pacaran.

Saya ulangi bahwa dalam Islam tidak dilarang pacaran. Tapi.

Ada tapinya Bro! Sis, Ndoro, Temans and Sedulurs semua. Apa itu?

Sebelum melangkah ke jenjang cinta lawan jenis, coba deh di-trace dulu seluk-beluk tentang cinta. Tentang “Risalah Hati“. Ada beberapa jenjang yang kudu kita lalui agar semakin mantap dalam menjalani percintaan tersebut. Antara lain,

1. Cinta kepada Allah. Telah apikkah Cinta kita kepada Allah? Siapa sich orang yang ngaku sebagai pacar kita? Apa istimewanya dia? Telah pantaskah kita mencintainya jikalau Cinta kita kepada Yang Memberi nyawa belumlah genah. Monggo dijawab sendiri didalam hati.

Allah yang telah memberi hidup. Menitipkan jantung kedalam rongga dada ini sehingga dapat memompakan darah segar ke seluruh jaringan tubuh ini. Tentu ada banyak hal sebagai pembuktian Cinta kepada Allah. Namun secara sederhana ada beberapa indikasinya. Khusus untuk yang ngaku laki, Loe bangun Shubuh, Loe tunaikan di Masjid. Nah, boleh dah Loe ngaku Cinta kepada Allah. Jikalau kagak, Loe cuma bikin malu Islam yang mulia ini. Masak ada anak muda laki yang kagak Sholat Shubuh di Masjid? Apa kata dunia?

2. Cinta kepada Rasulullah. Kanjeng Nabi Muhammad ibn Abdillah merupaka makhluk paling mulia yang tentu saja telah sama kita mengenal dengan baik. Apatah ada diantara kita yang tidak cinta kepada Beliau? Silakan diinsyafi sudah seberapa besar Cinta kita kepada Beliau. Beliau yang seluruh hidup sepenuh jiwa raga didedikasikan untuk kita, umatnya.

Hatta tatkala Beliau hendak bersalaman dengan Malaikat Maut, apa yang ada dalam fikiran Beliau? Bukan diri Beliau. Bukan istri Beliau. Bukan pula Raden Ayu Fatimah anak Beliau. Tidak terfikir oleh Beliau warisan harta apa yang  hendak ditinggalkan untuk anak Beliau. Yang Beliau fikirkan adalah kita, Ummatiy..Ummatiy.. Just It!

Beliau sungguh khawatir dengan keadaan kita sepeninggal nanti. Apatah masih menyembah Allah atawa tidak. Wujud nyata Cinta kepada Rasulullah tentu beraneka ragam. Tidak sekedar bersolawat dan salam saja. Tapi itu wujud terkecilnya. Jikalau itupun tidak kita lakukan, entah deh mau berkata apa lagi? Apa yang bakal dikatakan oleh dunia?

3. Cinta kepada al-Mukarrom kedua Orangtua. Bukan suatu yang mudah untuk menggambarkan cinta kepada Orangtua. Cinta bukan sembarang cinta. Cinta yang telah tercurah sejak kita dalam kandungan. Ibunda yang telah ikhlas mengorbankan separuh atawa bahkan seluruh nyawanya tatkala melahirkan kita Buah Hatinya.

Tidak jauh berbeda, pengorbanan Ayahanda juga sungguhlah besar. Membanting tulang mencari nafkah. Agar bisa membahagiakan kita keluarga yang dicintainya.

Sebuah ungkapan dari Badai Sang Kibordis yang dinyanyikan Sami Simorangkir,

Bunda, izinkan aku bersujud kali ini. Sebagai tanda aku mencintaimu.

Kau adalah yang pertama menyentuhku. Mendekapku ditengah dingin malam.

Bukan ungkapan yang berlebihan. Tinggal kita insyafi sejauh mana bakti kita kepada Orangtua. Tidak perlu terlalu banyak tutorial bagaimana tata cara sembah bakti tersebut. Hanya praktek dan bukti nyata yang diperlukan. Secara sederhana, kita mesti menjaga nama baik Orangtua. Berlaku baiklah di masyarakat. Lantaran di Kampoeng saya, jikalau seorang anak berbuat jelek, tidak lain yang dicemooh adalah Orangtuanya.

4. Sahabat Rasul. Lah, kenapa kita mesti Cinta kepada Sahabat Rasul? Allah memerintahkan kita untuk Cinta kepada Rasul bukan kepada Sahabat Beliau.

Itu benar. Tapi Rasul sendiri yang memerintahkan kita untuk mencitai Para Sahabat Beliau. Kita mengenal Rasul tidak lain juga melalui Hadits yang dikhabarkan oleh Para Sahabat. Kita mencintai Para Sahabat juga bertujuan agar kita belajar bagaimana mencintai Rasul. Lantaran Para Sahabat merupakan orang-orang yang terbaik bukti Cintanya.

Hazrat Abu Bakar ash-Shiddiq menahan sakit tatkala dientup kalajengking didalam Goa Tsur. Sangat ingin rasanya menjerit menahan sakit. Tak ingin mengganggu lelap tidurnya Rasul, Beliau menahan jeritannya.

Hazrat Ali ibn Abu Thalib bersedia menggantikan Rasul. Menyamar guna mengelabuhi Kafir Quraisy tatkala Rasul hijrah. Bukan sembarang risiko yang Beliau terima, kepala bercucur darah terkena pukulan Gembong Kafir. Padahal saat itu Hazrat Ali masih terlampau belia.

5. Pemimpin Islam. Para Pemimpin yang telah memimpin rakyatnya dengan baik patutlah kita cintai. Apakah itu sebutannya Presiden, Sultan, Khalifah, Amirul Mukminun maupun Raja. Kaisar juga boleh. Mereka yang patuh dan taat pada perintah Allah. Memimpin rakyat dengan tuntunan Allah. Menjadi Imam tatkala Sholat berjama’ah.

6. Pahlawan Islam. Kepahlawanan hadir tidak harus dalam kondisi perang. Pahlawan adalah mereka yang berjasa untuk tegaknya Kalimatullah di bumi ini. Para guru kita yang sejak kecil mengajarkan bentuk-bentuk kebaikan merupakan Pahlawan yang patut kita Cintai.

7. Ilmuwan Islam. Jangan mempersempit makna Ilmuwan. Ilmuwan bukan sekedar Para Profesor yang kerap bereksperimen dengan dunia “eksak“. Ilmuwan punya padanan kata “Ulama“. Yakni mereka yang memiliki ilmu yang didedikasikan untuk Islam. Baik ilmu agama dan juga “eksak“. Salah satu contoh Ilmuwan yang juga Ulama, Abu Ja’far Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, Sang Penemu Angka Nol. Beliau mempunyai kontribusi besar di bidang Matematika. Coba bayangkan caranya menghitung tanpa angka Nol.

Sekian jenjang “Cinta” yang mesti kita tapaki untuk ke jenjang-jenjang selanjutnya. Masih perlu penambahan di sana-sini. Jikalau telah menempuh itu semua baru boleh mencintai lawan jenis. Dan jikalau sudah jatuh cinta dengan lawan jenis jangan pacaran. Menikahlah. Nanti kita bahas cara terbaik untuk saling mengenal tanpa harus melanggar Syari’at Islam.

Panjenengan Remaja Islam, harus ta’at Syari’at kan?

Ditulis untuk All Friends JPRMI – Dari Helvet mengubah dunia.

Pesan dari Guru

Standard

Katanya enak menjadi bujangan, ke mana-mana tak ada yang larang

Hidup terasa ringan tanpa beban, uang belanja tak jadi pikiran

Enaknya kalau jadi bujangan

Hidup bebas bagai burung terbang

Kantong kosong tidak jadi persoalan

Tapi susahnya menjadi bujangan, kalau malam tidurnya sendirian

Hanya bantal guling sebagai teman, mata melotot pikiran melayang

Special Thanks for Sang Guru untuk senandung yang bertajuk Bu Jangan! Senandung yang selalu menyiksa hati. Hati para bujang yang tak kunjung bersanding di Pelaminan dengan pasangan yang dipilihkan Allah untuk abadi mengarungi hidup.

Dalam kesempatan menulis kali ini dengan izin Allah saya ingin berbagi tentang tulisan teman saya, Erna, yang menurut saya mesti direnungkan. Bagi yang ingin merenungkan silakan. Bagi yang tidak juga tidak masalah. Berikut ini petikan yang ia posting di Blog pribadi yang berjudul “Doa untuk dia yang belum halal

Disetiap sholat 5 waktu atau sholat sunnah lainnya saya tak lupa berdoa. Berdoa bagi diri saya, orang tua, keluarga yang lain, sahabat2 saya, dan juga orang2 mukmin yang berjuang di jalan-Nya. Saya ucapkan berulang-ulang doa yang sama tentu untuk kebaikan semuanya.

But, ada satu lagi yang saya sebutkan dalam akhir doa saya. Doa teruntuk seseorang yang pernah begitu berarti untuk saya. Seseorang yang pernah saya harapkan menjadi masa depan. Pastinya doa agar dia baik-baik saja dan juga agar xxxx (hehe rahasia, malu -_-!)

Namun, akhir-akhir ini saya menjadi ragu berdoa untuknya. Ragu apakah yang saya lakukan (berdoa untuknya) ini benar atau salah. Dengan mendikte Allah agar seseorang itu menjadi salah satu yang ditakdirkan-Nya untuk saya.

Huft, akhirnya keraguan itu menjadi sedikit ketakutan. Saya jadi tiba-tiba takut dengan doa saya sendiri. Saya takut, jangan-jangan ‘dia yang saya doakan’ tak akan pernah menjadi halal. Dan ‘seseorang yang akan halal’ untuk saya nantinya tidak suka dengan ini (dengan doa saya tentunya).

Karena saya tahu, saya sendiri pasti tak akan senang mengetahui ‘dia yang nantinya halal’ ternyata dulunya mendoakan wanita lain agar menjadi halal untuk dirinya. Saya pasti akan sangat cemburu jika tahu bahwa ‘dia yang nantinya halal untuk saya’ ternyata di setiap doanya tak pernah luput untuk mendoakan kebaikan wanita lain.

Akhirnya saya putuskan untuk mengubah doa saya. Kali ini saya berdoa agar Allah berkenan memberikan seseorang yang terbaik untuk saya, siapapun dia. Dan menumbuhkan cinta dalam hati saya untuk ‘dia yang halal’. Bukan lagi doa untuk ‘dia yang saya harapkan menjadi halal’.

Wahai Yang Maha Cinta, pertemukanlah daku dengan dirinya yang telah Engkau takdirkan dalam kemuliaan cinta-Mu.

Apresiasi untuk http://ukhtierna.wordpress.com/

Dari saya,

Memang bukan perkara sederhana tentang masalah jodoh. Pastinya kita mengharap orang yang terbaik yang akan mendampingi kita. Ingat saja, bahwa di Quran telah termaktub yakni Perempuan baik untuk Lelaki baik dan sebaliknya.

Hari Kasih Sayang

Standard

Didahului dari pertanyaan seorang teman, “Dalam Islam ada gak Hari Kasih Sayang?”

Saya katakan bahwa Islam merupakan “Marhamah”, agama kasih sayang. Berkasih sayang tentu tidak perlu momentum. Apalagi sekedar merayakan Hari Kasih Sayang atawa Valentine’s Day. So, diluar itu jadi Hari Permusuhan? Ya keliru Panjenengan.

Sekarang ini saya tidak menjelaskan lagi seluk beluk Valentine’s Day. Saya yakin Temans and Sedulurs sudah faham betul tentang ini. Saya justru ingin sedikit saja mereview tentang “Fath al-Makkah“, yakni peristiwa yang dinisbatkan sebagai Hari Kasih Sayang dalam Islam.

Coba sejenak kita mengingat kembali perjuangan awal Rasulullah berjuang menegakkan al-Islam di muka bumi. Beliau bersama para Sahabat yang mulia mendapat siksaan kejam yang tiada taranya. Hingga detik ini belum ada yang bisa menandingi penyiksaan yang diterima Umat Muslim terdahulu. Jikalau Panjenengan bandingkan dengan penjajahan Belanda atawa Jepang ke Indonesia, itu belum ada apa-apanya dibanding kejamnya Kafir Quraisy.

Hingga Rasulullah dan Umat Muslim berpindah atawa dengan istilah Hijrah dari Kota Makkah ke Yatsrib. Disana Rasulullah disambut baik oleh warga dan dengan gemilang mampu berhasil menyebarkan al-Islam. Tidak hanya sekedar menyebarkan al-Islam, Rasulullah juga membangun kekuatan Armada Perang yang tangguh. Yatsrib diubah namanya menjadi Madinatunnabiy yang di zaman ini lazim kita kenal dengan Madinah al-Munawarah. Kota Nabi, Kota Bercahaya.

Hingga suatu ketika tatkala al-Islam sudah benar-benar kokoh di Madinah, ada perasaan rindu di kalangan Sahabat Rasulullah untuk pulang kampung ke Makkah. Hal tersebut pun diamini oleh Rasulullah. Dengan Armada Perang yang tangguh, persenjataan lengkap, Rasulullah dan Para Sahabat melakukan perjalanan kembali ke Kota Makkah.

Nawaitu sebenarnya hanyalah sekedar “poelang kampoeng“. Namun hal ini dibaca lain oleh Kafir Quraisy di Makkah. Mereka berfikir bahwa dengan Armada Perang yang tangguh, Umat Muslim akan membalas dendam kepada Kafir Quraisy mengingat di masa sebelumnya Umat Muslim telah disiksa habis-habisan oleh Kafir Quraisy. Bahkan banyak dari mereka yang melarikan diri khawatir bakalan kena bantai Umat Muslim.

Padahal tidaklah demikian. Armada Perang Umat Muslim masuk ke Makkah dengan gagahnya. Menunjukkan ketangguhan mereka yang ditempah langsung oleh Panglima Perang terbaik sejagad ini. Sedang Rasulullah memasuki Makkah dengan tertunduk. Beliau beristighfar sepanjang perjalanan. Beliau khawatir perjalanan ini menghasilkan sifat dan sikap sombong. Beliau memohon kepada Allah agar terhindar dari kesombongan. Beliau tertunduk. Dagu menempel erat pada bagian atas dada hingga menimbulkan bekas. Beliau menangis hingga janggut benar-benar basah.

Beliau sungguh-sungguh sangat khawatir Umat Muslim jatuh kepada kesombongan.

Sesampainya di pintu Ka’bah, Rasulullah berpidato dengan kata-kata sederhana namun sangat fenomenal, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan menaklukan pasukan sekutu sendirian. Ingatlah, seluruh kehormatan, darah, dan kekayaan yang didakwahkan itu berada dibawah telapak kakikku ini, kecuali pelayan Ka’bah dan pemberi minum jamaah haji. Wahai, orang-orang Quraisy, Sesungguhnya, Allah telah menghilangkan tindakan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang kalian. Semua  manusia berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Kalian semua kami bebaskan, kembalilah ke keluarga kalian dengan damai dan ambillah harta kalian, ini bukan hari pembantaian akan tetapi ini adalah Yaumul Marhamah (hari kasih sayang)”

Selain itu Rasulullah juga menghancurkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah hingga berkeping-keping. Beliau masuk kedalam Ka’bah dan menghancurkan berhala didalamnya. Ada satu berhala didalam Ka’bah yang menggambarkan sosok Nabi Ibrahim sedang bermain judi. Waduh! Siapa pula yang berani membuat berhala tersebut? Kiranya si pembuat bisa mendapat kehormatan untuk mencium dasar neraka.

Demikianlah kiranya peristiwa Fath al-Makkah yang merupakan Yaumul Marhamah “Hari Kasih Sayang”. Sungguh mulia akhlak Rasulullah, ketika penyiksaan dibalas dengan kasih sayang. Bukan dengan bertukar coklat di Valentine’s Day.

So, Say No to Palentine. Yes to Palestine.
Intifadha buat Palestine! Kemenangan nyata buat Syeikh Ahmad Yasin, Dr. Abdul Aziz ar-Rantisi dan seluruh syuhada’ sejagad.

Quod Erat Demonstrandum

myValentine

Standard

Ya, hari ini adalah hari kematiannya. Tepat ditanggal 14 ini beliau wafat dan meninggalkan luka yang demikian mendalam bagi para pemujanya. Dan di hari ini pula jutaan remaja islam merayakan hari kematian sang pastor dengan penuh khidmat. Dengan dibungkus label hari kasih sayang.

Mereka, remaja islam sungguh takkan lupa dengan hari dan tanggal ini. Namun mereka kerap alpa bahwasanya esok adalah 12 Rabiul Awwal yang merupakan hari lahir seorang manusia teramat mulia di dunia dan akhirat, yakni Kanjeng Nabi Muhammad (sholawat atasnya).

Sungguh ironis keadaan remaja islam saat ini yang sangat kehilangan jati diri keislaman dan cenderung mengikuti modernitas budaya yahudi yang hedonistik.

Kita tentu sama mengetahui bahwa 14 Pebruari merupakan tanggal kematian sang pastor yang mati dihukum demi mempertahankan cintanya. Dan dikemudian hari diperingati sebagai Valentine’s Day. Meski kisah ini memiliki banyak versi, kontroversi, keanehan dan sebagainya yang pasti tidak ada keagungan cinta didalamnya.

Dalam perayaan terdahulu pada 14 Pebruari lazimnya dilaksanakan pesta dengan mengambil darah hewan, entah ayam entah babi. Sang lelaki mencelupkan ibu jari pada darah dan darah tersebut dilekatkan pada kening seorang gadis. Dan gadis tersebut mendapat kehormatan untuk dizinahi oleh sang pria. Hal demikian itu bagi mereka atas nama cinta dan kasih sayang.

Jadi merayakan 14 Pebruari sama dengan Hari Perzinahan dunk??

(Yaiya lah..seru kan??pastinya!!)

Apakah perlu merayakan hari kasih sayang?

Islam sendiri merupakan “marhamah”, agama kasih sayang. Dan Rasulullah (sholawat atasnya) merupakan Rahmat untuk seluruh alam. Jadi tidak perlu hari khusus untuk berkasih sayang. Namun, untuk sekedar tahu aja. Jikalau merujuk kepada sejarah, sebenarnya ada hari kasih sayang dalam Islam yang tak seorang remaja islampun mengetahuinya. Konon lagi merayakannya. Yakni pada hari dibebaskannya Kota Makkah dari cengkraman kafir yang lebih dikenal dengan “Fath al-Makkah”.

Jadi, yok kita kembali ke jati diri Islam kita. Moga kita bisa menjadi generasi kehadapan yang lebih baik

gaulislam_221

Standard

gaulislam edisi 221/tahun ke-5 (22 Shafar 1433 H/ 16 Januari 2012)

Waduh, tema pacaran lagi dah. Hehehe.. nggak apa-apa lah. Kan banyak juga yang belum tahu. Bagi kamu yang udah tahu jangan bosen. Saya aja nulisnya ampir bosan. Cuma gimana lagi, dakwah memang begitu. Kita seringkali menyangka bahwa apa yang sudah kita sampaikan secara sering akan mudah dipahami orang. Ternyata nggak. Ada yang memang belum pernah baca, ada yang baru tahu dan belum paham. Banyak alasan. Tetapi yang pasti, pembaca gaulislam setiap pekannya bertambah dan banyak yang baru tahu. Selain itu, karena tak semua bisa mengakses website maka edisi cetak ini jadi andalan mereka untuk mendapatkan informasi. Tak mengapa, yang penting ada beda rasanya dalam setiap edisi yang membahas tema sejenis. Tul nggak?

Oya, mungkin kamu kaget ya dikatain bahwa pacaran itu nafsu, bukan cinta. Padahal, kalo makan saja nggak nafsu kan jadinya nggak enak makan. Hehehe… beda persoalan, Bro en Sis. Ini soal cinta dan nafsu jelas berbeda. Nafsu umumnya cenderung membuat orang ingin melakukan sesukanya, sementara cinta masih berpikir apakah yang dilakukannya benar atau salah menurut aturan yang berlaku, khususnya ajaran agama kita, Islam. Nah, edisi kita kita bakal bahas seputar cinta, nafsu, dan juga pacaran. Yuk ah, tancap gas!

Saat jatuh cinta

Ada sebuah puisi yang pernah diposting seorang anggota milis, jaman saya mengelola milis Majalah Pertama antara tahun 2001 hingga 2004. Ini ada penggalan puisinya yang dikirim Astari Sekar Ayu:

Rabbi…/ Aku punya pinta/ Bila suatu saat aku jatuh cinta/ Penuhilah hatiku dengan bilangan cintaMu/ yang tak terbatas/ Biar rasaku padaMu tetap utuh

Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya? Pasti senang dong ya. Enak aja bawaannya. Hidup berasa nikmat banget. Rasanya nggak mantep kalo nggak cerita kepada teman-teman kalo kita sedang jatuh cinta. Biar teman-teman juga merasakan apa yang sedang kita rasakan. Bila perlu, kita cerita kepada siapa saja tentang orang yang sedang kita cintai meski orang yang kita cintai itu tak tahu bahwa dia sedang kita cintai. Kita begitu percaya diri dan mulai mencari cara untuk mendekatinya.

Cinta emang selalu menyita perhatian kita. Ada di antara kita yang kemudian bahagia dengan cinta, tapi nggak sedikit yang merana karena cinta. Itu sebabnya, wajar juga kalo novelis Mira W pernah menyampaikan: “Kita boleh hidup dengan cinta, tapi jangan mati karena cinta”. Hmm.. boljug neh pernyataannya. Soalnya banyak juga manusia yang terbius cinta (khususnya cinta kepada lawan jenis, harta, dan juga jabatan) hingga lupa segalanya. Sebab, yang ada dalam benaknya hanyalah cinta, cinta, dan cinta.

Hati-hati dengan cinta buta

Cinta buta adalah cinta yang tak mengikuti aturan Islam. Ia bebas berbuat apa saja. Termasuk saat orang yang model begitu tuh jatuh cinta, maka ia akan buta dan gelap mata. Berbuat sesukanya dan mencampakkan norma agama.

Ada beberapa kerusakan akibat cinta buta ini (Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi (edisi terj.) hlm, 242-244: Pertama, lupa mengingat Allah. Lebih sibuk mengingat makhlukNya, yakni orang yang dicintainya, misalnya. Jika dia lebih kuat mengingat Allah, insya Allah mengingat makhlukNya jadi terkendali. Tapi jika lebih kuat mengingat makhlukNya, maka mengingat Allah akan dikalahkan.

Kedua, menyiksa hati. Cinta buta, meski adakalanya dinikmati oleh pelakunya, namun sebenarnya ia merasakan ketersiksaan hati yang paling berat.

Ketiga, hatinya tertawan dan terhina. Ya, hatinya akan tertawan dengan orang yang dicintainya. Namun, karena ia mabuk cinta, maka ia tidak merasakan musibah yang menimpa. So, ati-ati deh kalo jatuh cinta. Jangan sampe hati kita tertawan dengannya, hingga lupa segalanya.

Keempat, melupakan agama. Tak ada orang yang paling menyia-nyiakan agama dan dunia melebihi orang yang sedang dirundung cinta buta. Ia menyia-nyiakan maslahat agamanya karena hatinya lalai untuk beribadah kepada Allah. Kalo ada teman kita ketika jatuh cinta tuh sampe nggak sholat, nggak sekolah, dan nggak belajar, karena cuma mikirin dia, maka itu udah dibilang cinta buta. Jadi, kita kudu ingatkan supaya jangan keterusan.

Kelima, mengundang bahaya. Bahaya-bahaya dunia dan akhirat lebih cepat menimpa kepada orang yang dirundung cinta buta melebihi kecepatan api membakar kayu kering. Ketika hati berdekatan dengan orang yang dicintainya secara buta itu, ia akan menjauh dari Allah. Jika hati jauh dari Allah, semua jenis marabahaya akan mengancamnya dari segala sisi karena setan menguasainya. Jika setan telah menguasainya, maka mana ada musuh yang senang lawannya senang? Semua musuh ingin musuhnya dalam bahaya. Duh, jangan sampe kejadian. Cukup fakta-fakta soal perzinahan dan penularan penyakit seksual itu menjadi perhatian bagi kita untuk nggak melakukan hal yang sama. Naudzubillahi min dzalik.

Keenam, setan akan menguasai. Jika kekuatan setan menguasai seseorang, ia akan merusak akalnya dan memberikan rasa waswas. Bahkan, mungkin tak ada bedanya dengan orgil alias orang gila. Mereka nggak menggunakan akalnya secara layak. Padahal yang paling berharga bagi manusia adalah akalnya yang membedakan ia dengan binatang. So, nggak heran dong kalo banyak yang kejerumus berbuat maksiat karena mikirnya instan banget. Cuma kepikiran enak aja menurut hawa nafsunya. Nggak mikir jauh ke depan: soal dosa dan akibat dosa tersebut.

Ketujuh, mengurangi kepekaan. Cinta buta akan merusak indera atau mengurangi kepekaannya, baik indera suriya (konkret) maupun indera maknawi (abstrak). Kerusakan indera maknawi mengikuti rusaknya hati, sebab jika hati telah rusak, maka organ pengindera lain, seperti mata, lisan, telinga, juga turut rusak. Artinya, ia akan melihat yang buruk pada diri orang yang dicintainya secara buta itu sebagai sebuah kebaikan dan juga sebaliknya.

Tetap iffah selama jatuh cinta

Menurut Hamka, “Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sedu sedan. Tetapi cinta menghidupkan penghargaan, menguatkan hati dalam perjuangan, menempuh onak dan duri penghidupan.”

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ada persoalan besar yang harus diperhatikan oleh orang yang cerdas, yaitu bahwa puncak kesempurnaan, kenikmatan, kesenangan, dan kebahagiaan yang ada dalam hati dan ruh tergantung pada dua hal. Pertama, karena kesempurnaan dan keindahan sesuatu yang dicintai, dalam hal ini hanya ada Allah, karenanya hanya Allah yang paling utama dicintai. Kedua, puncak kesempurnaan cinta itu sendiri, artinya derajat cinta itu yang mencapai puncak kesempurnaan dan kesungguhan (al-Jawabul Kafi Liman Saala’ Anid Dawaaisy-syafi (edisi terj.) hlm, 255)

Lebih lanjut Ibnu Qayyim menjelaskan, “Semua orang yang berakal sehat menyadari bahwa kenikmatan dan kelezatan yang diperoleh dari sesuatu yang dicintai, bergantung kepada kekuatan dorongan cintanya. Jika dorongan cintanya sangat kuat, kenikmatan yang diperoleh ketika mendapatkan yang dicintainya tersebut lebih sempurna.”

So, meski kita merasa hidup lebih indah ketika jatuh cinta tapi bukan berarti bebas melakukan apa saja atas nama cinta. Insya Allah saya cukup mengerti dengan kondisi temen-temen remaja. Di usia yang pubertas ini, apalagi ditambah dengan bombardir informasi di media massa yang ternyata lebih banyak menyesatkan ini, akhirnya nggak sedikit yang awalnya berkomitmen untuk tidak mengekspresikan cinta lewat pacaran, tapi ternyata rontok digerus arus informasi dan kehidupan yang rusak. Sebab pernah ada juga teman kita yang berkirim e-mail ke saya bahwa ia awalnya termasuk kuat, bahkan dari kalangan keluarga yang taat beragama, dan punya prinsip nggak akan pacaran sebelum nikah.

But, apa daya, prinsip tersebut akhirnya hilang disapu gemuruh hawa nafsu. Meski tidak sampe kepada perzinahan (setidaknya menurut pengakuannya di e-mail tersebut), tapi dia merasa harus taubat. Alhamdulillah, sikap kawan kita ini patut diteladani. Ngaku salah dan mau memperbaiki diri. Itu sebabnya nih, buat anak cewek, jangan tergoda rayuan cowok. Cuma anehnya meski banyak diwanti-wanti, tetep aja cewek banyak yang tertipu dengan kelihaian rayuan anak cowok. Walah, itu sih cowoknya emang buaya, dan ceweknya ternyata penyayang binatang. Waaah… jadi klop dong?

Jadi, tetep jaga diri, jaga pikiran, dan jaga perasaan ketika jatuh cinta. Jangan nekat mengekspresikannya di jalur yang salah seperti pacaran dan seks bebas. Tetep iffah (jaga kesucian diri) ya. So, kudu ati-ati banget.

Yuk, kita mulai lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak. Jangan terus main-main dalam masalah seserius ini. Kalo pun kita belum mampu untuk menikah, jangan nekat menikah. Karena pernikahan bukan urusan main-main. Oya, kita pun harus rela untuk membuang jauh-jauh pikiran murah dan murahan tentang “pacaran”. Karena pacaran sebatas penyaluran nafsu belaka, bukan cinta. Bener lho. Soalnya kalo emang cinta nggak bakal memilih pacaran. Pacaran itu maksiat. Jadi, jaga diri hingga saatnya siap untuk menikah.

Bro en Sis, ada baiknya sosialisasi tentang kesucian pernikahan kepada para remaja muslim rasa-rasanya perlu digiatkan terus. Jangan sampe kalah dengan sosialisasi pacaran yang sudah berani melanggar batasan norma masyarakat, dan juga ajaran agama.

Ya, tugas kita adalah belajar Islam dengan benar, memahaminya, dan mengamalkannya dengan berdakwah kepada teman yang lain. Sehingga rahmat Islam tersebar makin luas. Insya Allah. [solihin | Twitter: @osolihin]

myIdol

Standard

Kau yang mengaku cinta kepada Nabimu

Kau yang mengaku merindukan Nabimu

Jika kau benar-benar cinta dan rindu kepada Muhammad Nabimu

Buktikan.

Taati perintah-Nya, tinggalkan larangan-Nya

Teladani akhlaknya.

Niscaya kelak kau akan berjumpa dengan Rasullallah

Niscaya kelak kau akan berkumpul dengan Rasullallah

Kau ajarkan hidup ini untuk saling mengasihi

Ku tanamkan dalam hati kuamalkan sejak dini

Engkaulah Nabi pembawa cinta

Kau bimbing kami menuju surga

Special Thanks for Haddad Alwi and Friends untuk lagu yang bertajuk Rindu Muhammad.

Izinkan kiranya saya berbagi kisah. Kisah yang sungguh tidak penting bagi Temans and Sedulurs. Jikalau tidak berkenan membacanya, sudilah kiranya memaafkan kesalahan-kesalahan saya. Walau sebenarnya tidak pantas untuk dimaafkan.

Saya ingin berbagi tentang teman saya. Seorang pemain basket professional yang kedigdayaannya sudah tidak diragukan lagi. Si Teman ini mengidolakan beberapa orang yang hebat dan sukses di dunia. Namun tidak satu pun yang pemain basket. Bob Marley dan Malcolm X.

Siapa yang tidak kenal Bob Marley? Nama kesohor di Jagad Reagge. Lagu-lagunya menginspirasi miliyaran pasang mata di dunia. Bob Marley merupakan Pemusik yang sangat cinta damai. Bahkan pernah mendamaian kemelut politik yang terjadi di Jamaika. Negaranya Bob. Bob mempertemukan dua kubu yang berseteru, yakni Edward Seaga dan Michael Manley, keatas satu panggung. Berdamai.

Bagi teman saya si Pebasket ini, Bob adalah sosok yang hampir tanpa celah. Namun anggapan ini berubah drastis ketika membaca memoar Bob Marley yang ditulis oleh Rita Marley, istri Bob. Dalam memoar tersebut justru diutarakan sisi-sisi lain Bob yang mengecewakan.

Siapa pula dari kita yang tidak mengenal Malcolm X? Pejuang Islam berkulit hitam dari Negeri Paman Sam. Saya yakin hingga detik ini semua dari kita tidak ada yang kecewa dengan Malcolm X. Beliau sosok pejuang Islam yang mengagumkan. Seperti kita, manusia pada umumnya, Malcolm juga mempunyai idola. Tokoh yang dipanuti. Tidak lain dan tidak bukan adalah Elijah Muhammad, yakni orang yang membimbing Malcolm untuk memeluk Islam.

Elijah begitu dipuja oleh Malcolm lantaran banyak memberi pencerahan dan kedamaian dalam hidup. Perlu diketahui bahwa Elijah Muhammad merupakan Ketua Perkumpulan Nation of Islam yang menaungi Umat Islam berkulit hitam di Negeri Paman Sam. Elijah, menurut beberapa penuturan ahli, mengaku sebagai nabi penerus Nabi Muhammad. Elijah juga mengajarkan kebencian kepada ras berkulit putih. Malcolm pun mengamini segala ajaran Elijah.

Hingga suatu ketika Malcolm mendapat Hidayah Allah dan mengerti Islam yang sesungguhnya bawah tidak ada Nabi setelah Kanjeng Nabi Muhammad (sholawat keatas beliau). Malcolm pun kecewa kepada Elijah. Terlebih setelah mengetahui ternyata Elijah mempunyai anak diluar nikah. Bagi Malcolm hal tersebut merupakan aib yang tidak dapat ditawar-tawar. Begitupun dalam Agama ini.

Teman saya si Pebasket tertegun dengan fakta-fakta yang ada pada kedua idolanya ini. Dan saya pribadi menarik kesimpulan kira-kira seperti ini,

“Manusiawi jikalau kita mempunyai tokoh idola. Seorang yang kita panuti. Hargai. Bahkan kalau bisa perihidupnya kita ikuti. Namun bersiaplah menerima kekecewaan lantaran mereka juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Untuk itu kita mesti punya Idola yang paling utama. Perihidupnya sangat kita perlukan agar tidak tersesat mengarungi hidup ini. Siapakah Idola Utama kita? Menurut Panjenengan?”

Si Pebasket pun sadar siapa yang mesti diidolakan dan dipanuti tanpa ragu sedikitpun. Seorang yang hidupnya tanpa celah. Makshum. Ia Kekasih Allah. Ia punya banyak kawan. Juga lawan. Namun Ia tidak pernah mengecawakan seorang pun di dunia ini. Baik kawan maupun lawan. Panjenengan kenal siapa Beliau?

Perlahan namun pasti si Pebasket mulai mengenal sosok agung ini melalui buku-buku yang bertajuk “Sirah“. “Sirah” berasal dari Bahasa Arab yang artinya Sejarah. Bukan “Sira” dalam Bahasa Jawa yang artinya Kepala. Hingga kini sudah sangat banyak buku-buku Sirah koleksi si Pebasket. Dan suatu ketika terjadi hal sangat menggelikan bagi saya. Ketika ia jalan-jalan ke Gramedia, ia menemukan buku tebal masih bertema Sirah, berkover bagus, berharga sangat mahal. Dengan sangat tidak sabar ia langsung membeli buku tersebut.

Saat sampai di rumah, dibaca beberapa lembar dan disadari bahwa ia sudah punya buku yang sama persis. Hanya disain kovernya saja yang berbeda. Geli, pikir saya.

BDZ

BDZ

Sekian. Kenali idola kita lebih dalam. Apresiasi buat http://mainbasket.wordpress.com

Quod Erat Demonstrandum

Duniaku

Standard

Bintang di langit, kerlip engkau di sana

Memberi cahayanya di setiap insan

Malam yang dingin, kuharap engkau datang

Memberi kerinduan di sela mimpi-mimpinya

Melangkah sendiri ditengah gelap malam

Hanya untuk mencuri jatuh sinaran

Tak terasa sang waktu melewati hidupnya

Tanda pagi menjelang mengganti malam

Special Thanks for Air untuk lagu dengan nada rancak yang bertajuk Bintang. Lagu yang selalu menemani kita tatkala menatap langit melihat Rembulan dan Gemintang. Ciptaan Yang Maha Kuasa yang selalu kita kagumi Keindahannya.

Cluster Galaksi

Cluster Galaksi

Setiap Keindahan Ciptaan-Nya kerap membuat kita berdecak kagum dan bergumam, “Subhanallah.” Seperti apapun Indahnya makhluk Allah, hendaknya yang kita puja adalah Allah Sang Pencipta segalanya.

Saya bukan seorang Ahli Astronomi, namun sejak kecil sudah tertarik dengan segala bentuk keindahan Langit. Temans and Sedulurs tentu masih ingat dengan kejadian alam yang baru terjadi pada 10-11 Desember 2011 yang lalu. Yakni terjadinya Gerhana Bulan Total dengan durasi terlama.

10 Desember 2011: di kota Masaki Jepang

10 Desember 2011: di kota Masaki Jepang

10 Desember 2011:di ibukota Jepang Tokyo

10 Desember 2011:di ibukota Jepang Tokyo

10 Desember 2011: di Devin Kruse

10 Desember 2011: di Devin Kruse

10 Desember 2011: di Cape Verde Arizona

10 Desember 2011: di Cape Verde Arizona

Dunia Astronomi mempelajari tentang pengamatan benda-benda langit serta fenomena-fenomena alam yang terjadi diluar atmosfer Bumi. Saat terjadi kejadian alam yang langka seperti Gerhana Bulan, banyak sekali beredar mitos-mitos yang lahir dari Dunia Astrologi. Astrologi sangat berbeda dengan Astronomi.

Astrologi mencoba menerjemahkan kenyataan dan keberadaan manusiawi, berdasarkan posisi dan gerak-gerik relatif berbagai benda langit. Bagi Para Astrologer, hubungan itu tidak perlu sebab musabab. Biasanya hanya berdasarkan ramalan yang sudah turun temurun.

Saya sangat mencintai Dunia Astronomi namun begitu membenci Astrologi. Karena Astrologi dengan sombongnya mengaku bisa meramal nasib manusia hanya dengan melihat gejala alam dan posisi benda-benda langit. Jadi mereka menghendaki nasib ini bergantung pada benda-benda langit bukan kepada Allah Yang Mencipta alam semesta ini.

Beberapa mitos konyol dari Dunia Astrologi bahkan masih dipercaya di negara-negara maju yang memberi perhatian serius dalam Dunia Astronomi. Di India dipercaya bahwa saat gerhana terjadi, bumi akan diselubungi kegelapan. Gerhana menciptakan medan energi negatif. Selain itu, kuman-kuman di atmosfer menjadi aktif, level kontaminasi kuman itu juga akan meningkat drastis. Mitos tersebut diumbar pendeta Kuil Lakshmi-Narayan, Mukesh Kothari, India.

Di Jepang, orang percaya bahwa waktu gerhana ada racun yang disebarkan ke bumi. Dan untuk menghindari air di bumi terkontaminasi racun, mereka menutupi sumur-sumur mereka.

Fakta yang ada adalah Gerhana Bulan akan mempengaruhi tingginya pasang surut air laut. Sangat mungkin dapat menimbulkan bencana. Namun hal itu semata-mata terjadi dengan izin Allah juga. Untuk itu Rasulullah menuntun kita untuk melakukan Sholat Gerhana dan banyak berdzikir. Bukannya ketakutan lantaran mempercayai Astrologi gendheng.

Mitos Astrologi lain yang sangat dipercaya adalah tentang Zodiak. Zodiak dapat meramalkan nasib manusia berdasarkan posisi bintang saat kita dilahirkan. Sungguh kesyirikan yang nyata karena menggantungkan nasib pada selain Allah. Jikalau kita terlahir dengan Zodiak yang sial, apa lantaran kita akan sial seumur hidup? Saat Allah menciptakan kita, apakah kita pernah rikues untuk lahir di Zodiak yang sial ataupun beruntung? Apakah Allah berlaku tidak adil dengan menetapkan kesialan dan keberuntungan berdasarkan Zodiak tolol? Jawab sendiri ya.

Solahuddin al-Ayubi adalah salah seorang tokoh yang saya kagumi. Sedikit banyaknya Beliau mengerti Dunia Astronomi. Namun persis seperti saya, Beliau tidak percaya pada Astrologi. Tatkala Beliau hendak memasuki Gerbang Kota Jerussalem, beberapa peramal Astrologi menasihati Beliau tentang ramalannya setelah mengamati bintang di suatu malam, “Kalau Panjenengan mencoba menaklukan Jerusalem, Panjenengan akan kehilangan sebelah mata” Solahuddin membalas, “Aku percaya kepada Allah, aku akan menaklukan Tanahsuci meskipun harus masuk Jerusalem dengan buta kedua mata”

Sungguh Ksatria tangguh. Berhati baja. Beriman dan bertakwa hanya kepada Allah. Dan Jerussalem pun ditaklukan.

Quod Erat Demonstrandum