Materi 1

MEMUNCULKAN KEKUATAN UMMAT
Oleh : RAJUDDIN SAGALA, S.Kom.

Memperhatikan keadaan dunia Islam akhir-akhir ini –sekarang ini, bahkan sampai pada detik ini sungguh sangat memilukan dan memprihatinkan. Betapa tidak, tekanan dari dunia barat terus-menerus dilakukan untuk menciutkan kekuatan ummat si seluruh penjuru dunia Islam.

Oleh karenanya wahai Saudaraku, mari kita satukan barisan, perkokoh persatuan sesama ummat ini, kita bangkitkan semangat kebersamaan dalam meraih cita-cita mulia yang diamanahkan oleh Allah SWT. untuk mewujudkan kekuatan Islam, sebagai kekuatan yang diperhitungkan, kekuatan yang mampu memberikan perubahan yang signifikan atas amanah Al-Islamu Rahmatan lil ‘Alamin, perubahan ke arah yang baik dalam mengelola aset bangsa, kelelusaan dalam beraktifitas (beramal) dan mewujudkan kepemimpinan yang shalih, berpihak kepada ummat, menjaga hubungan baik kepada Allah dan menjalin ukhuwah yang solid kepada sesama, sehingga terwujudlah negara yang baik yang penduduknya mendapatkan pengampunan dari Sang Pemilik alam jagat raya, yakni Allah SWT. (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur)

Untuk mewujudkan kekuatan tersebut, kiranya sangat perlu kita memahami kembali kekuatan-kekuatan yang ditampilkan dan dipraktekkan oleh Baginda Rasulullah SAW. yang pada masa kerasulannya, masa Khulafaurasyidin, para sahabat, masa salafushshalih yang mereka itu menjadi pameran utama dalam mewujudkan kekuatan ummat, sehingga menjadi penguasa dunia, Islam menjadi pelopor kejayaan, pelopor kemajuan, sehingga Islam memiliki kekuatan dalam segala bidang.

Untuk mewujudkan cita-cita mulia diatas, mari kita praktekkan kembali kekuatan-kekuatan yang ditampilkan Rasulullah SAW. yang juga oleh para sahabat juga turut mempraktekkannya untuk mewujudkan kejayaan Islam dipermukaan bumi ini, yakni sebagai berikut:

1. Quwwatul ‘Aqidah (keyakinan yang kokoh dan sempurna kepada Allah SWT.) Q.S. Ash-Shof: 10-11 dan Q.S. An-Nisa: 136.

2. Quwwatul Jama’ah/Ukhuwah (memelihara kekompakan sesama Muslim). Q.S.Ali Imran: 103.

Ummat Islam harus selalu solid dan kompak, tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memancing untuk memecah belah kekuatan, memecah belah persatuan, tidak merenggangkan persaudaraan sesama ummat, namun kita senantiasa menjaga ukhuwah, menjalin kebersamaan, satu tujuan, satu pilihan dan satukan cita-cita menjadikan diri kita, keluarga kita, masyarakat kita, negeri kita tercinta ini dan seluruh penduduk dunia Islam untuk mejadi hamba yang terbaik disisi Allah SWT. (Q.S. Al-Mulk: 2)

3. Quwwatul ‘Ibadah (kekuatan ibadah, yaitu kemampuan untuk selalu melakukan pengabdian kepada Allah SWT.) Q.S. Muhammad :7 dan Q.S. Al-Haj: 40-41)

4. Quwwatul Maal (kemampuan untuk memiliki harta) “Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah” (Al-Hadits)

5. Fisiyasah/Daulah Hukumah (menguasai pemerintahan/negara yang berdasarkan undang-undang dan menegakan hokum) Q.S. An-Nisa: 144

6. Binaaul Iqtishaad (membangun ekonomi ummat)

Setelah Rasulullah SAW. menyampaikan dakwahnya khusus masalah ‘akidah selam 13 tahun masa kerasulannya, kemudian mempersatukan kaum Muslimin secara keseluruhan dibawah panji-panji Islam. Ummat Islam adalah ummat yang satu, satu akidah, kiblat, agama dan satu kitab. Mereka yang sudah kokoh keyakinannya kepada Allah, senantiasa memelihara persaudaraan, punya kemampuan menajerial, akan Rasul orbitkan mereka itu sebagai kader, dipersiapkan sebagai pemimpin /penguasa dengan menempatkan salah seorang diantaranya menjadi pemegang tampuk kekuasaan yang syarat utamanya adalah keshalihannya.

Saudaraku, menghadapi pemilu 2009 ini kita harus satu, untuk menghadang kekuatan sekuler, terlebih lagi menghadang kekuatan mereka yang anti Islam, pastikan pilihan kita kepada partai yang berasaskan Islam, partainya kumpulan orang-orang shalih, calegnya berpendidikan, track recordnya baik, bersih dari korupsi, peduli dengan ummat dan profesional dalam memimpin, amanah damal mengelola aset negara, berpihak kepada kebenaran dan senantiasa berani memberantas maksiat. Semoga Allah SWT. mengetuk hati saudara-saudara kita untuk memilih keterwakilan mereka di parlemen dari kalangan yang tidak hanya sekedar Muslim semata, namun juga shalih secara pribadi dan sosial, sehingga kelak caleg-caleg (DPR) yang terpilih mempu menerjemahkan amanah rakyat yang menjadikan diri mereka sebagai khadimul ummah (pelayan ummat),. Amin.

Penulis adalah Caleg DPRD Kota Medan Nomor Urut 5 dari Partai Keadilan Sejahtera Daerah Pemilihan 3 (Medan Barat, Medan Helvetia, Medan Petisah)

Materi 2

Be myValentine

Wacananya dalam Islam serta hukumnya. Gimana ya?

Sahabat! Kalo nggak salah sekarang ini Bulan Pebruari ya? Pas dulu sich saya masih sekolah banyak bangetz pelajar yang geger kalo udah masuk Bulan Pebruari. Denger-denger sich kalo pekan kedua di bulan ini ada suatu perayaan yang namanya Valentine’s Day.

Apa sich rupanya pekan kedua di Bulan Pebruari ini. Gimana sich sejarahnya? Saya juga jadi bingung kenapa banyak remaja yang ngerayai. Padahal kalo ditanya mereka pasti nggak tahu sejarah dan maksud maupun tujuan Valentine diadakan. Paling-paling mereka akan berkata bahwa hari kasih sayang.

Saya berusaha juga mencari fakta sebenarnya tentang histori dari valentine ini dan ternyata para sejarawan pun sebenarnya belum bersepakat dengan cerita-cerita yang ada di masyarakat sekarang ini. Jadi sebenarnya peringatan pekan kedua di Bulan Pebruari tiap tahunnya belumlah valid jika dikatakan sebagai hari kasih saying. Lagi pula apakah berkasih sayang hanya dirayakan atawa diperingati pada pekan kedua Bulan Pebruari saja? Jikalau demikian, maka di waktu-waktu lain kita semua bermusuhan dunk’?

Jangan! Jangan gitu lah. Kita harus sentiasa menebarkan kasih sayang setiap saat – dimana saja, kapan saja. Setuju, kan? Kan di iklan udah ada tuh partai kasih sayang. Dimana mereka menebarkan kasih sayang setiap saat, tidak hanya menjelang kampanye. Loeh koq jadi berpolitik ya?

Kita liat aja dulu yuk sejarah yang banyak beredar tentang valentine. Sekedar informasi aja Sahabat! Tepat ketika 14 Pebruari 269 M wafatlah Santo Valentinus karena mempertahankan kesucian cinta. Beliau dihukum mati oleh Kaisar Claudius II karena menentang perintah dari Sang Kaisar. Kaisar beranggapan bahwa pria yang masih membujang lebih kuat dan tabah dalam menjalani peperangan daripada mereka yang sudah menikah. Maka dari itu Sang Kaisar mengeluarkan perintah untuk melarang pernikahan. Namun Santo Valentinus tetap mengadakan pernikahan terhadap para pasangan yang datang kepadanya.

Maka dari hal diatas pekan kedua Pebruari dirayakan sebagai hari kasih sayang. Tapi tunggu dulu. Buat yang berakidah Islam gimana? Boleh nggak sich. Ya nggak boleh lah. Banyak bangetz kan dalil-dalil baik dalam Quran mapun Hadits yang melarang kita untuk tidak mengikuti ritual-ritual agama lain. Konon lagi ritual yang bahkan kita tidak mengerti maksud dan tujuannya.

Paling tidak ada enam hal yang saya dapat dari guru saya mengapa kita dilarang ikut-ikutan dalam merayakan sesuatu. Pertama bahwa jikalau kita merayakan hari kasih sayang pada pekan kedua Pebruari maka kita telah meniru-niru kafir. Karena ritual ini telah diadopsi oleh Umat Nashrani sebagai ritual agama mereka. Kita selaku yang berakidah Islam haruslah menjaga akidah kita agar tidak rusak karena sekedar ikut-ikutan saja.

Selanjutnya bahwa kita yang berakidah Islam menghadiri perayaan orang kafir bukanlah ciri orang yang beriman. Masih ingat kan fatwa dari MUI yang digagas oleh HAMKA? Mengucapkan perayaan kafir saja udah haram. Konon lagi kita ikut dalam perayaannya?

Mengagungkan sang ‘Pejuang Cinta’ maka akan bersama-sama dengannya di hari akhir kelak. Jikalau kita mengagungkan sesuatu atawa seseorang, maka di hari akhir kelak ya kita akan bersama dengannya. Apatah Sahabat mau nanti tinggal bareng-bareng Santo Valentine di akhirat nanti? Jangan ya. Kalo yang kita agungkan itu pembela agama Allah ya nggak jadi masalah. Misalnya saat ditanya, idolamu siapa? Siapa sich orang yang kamu kagumi? Saya akan menjawab Syeikh Ahmad Yasin. Itu loeh ya membidani lahirnya Hamas.

Tahu nggak makna harfia dari valentine? Kalo dari Bahasa Latin valentine dapat berarti “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Yakni sama dengan makna Aziz dalam asmaul husna. Namun valentine dalam Bahasa Latin ditujukan untuk memuja Tuhan Bangsa Romawi. Lantas kalo kita lihat judul diatas, kata-kata yang sentiasa diucapkan pada perayaan valentine, gimana? Masa seorang pria meminta seorang wanita untuk menjadi Tuhannya? Ya goblok bangetz tu pria.

Kerap kali terjadi bahwa ketika perayaan valentine, seolah-olah seorang gadis yang dipacari oleh si pria telah halal baginya saat itu. Fenomena saat ini menunjukkan bahwa muda-mudi bersuka ria pada saat merayakan valentine dan bukan lagi menjadi ritual agama Nashrani. Mereka berpesta, bertukar hadiah, lalu bertukar pacar dan dilanjutkan dengan hubungan intim bergantian dan bersama-sama. Yang kezaliman ini mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Meniru sesuatu yang tidak kita mengerti merupakan bisikan dan perbuatan setan. Merayakan valentine butuh biaya yang tidak sedikit dan cenderung menjadi pemborosan. Boros kan sifatnya setan. Bahkan jikalau kita beribadah hanya dengan ikut-ikutan saja, kita sudah dapat dituding mengikuti setan karena kita melakukan sesuatu yang tidak jelas dalil perintahnya.

Begitulah Sahabat! Jaga akidah kita ya. Kay Sahabat!

Materi 3

Halaqah (16 Pebruari 2009)

Sahabat! Alhamdulillah. Kemarin malam kami melaksanakan halaqah rutin yang tentunya sahabat juga selalu aktif kan? Nah halaqah yang kami lakukan ini berpindah-pindah tempatnya. Hal ini karena para jama’ah yakni teman-teman saya saling berjauhan tempat tinggalnya. Namun walaupun berjauhan tempat tinggal tidak akan pernah menyurutkan niat dalam menuntut ilmu.

Pada kesempatan yang lalu masjid kami yang menjadi tuan rumah halaqah. Yakni Masjid Istiqamah yang beralamat di Jalan Amal Luhur No. 86 Dwikora Medan Helvetia. Sedangkan tempat yang biasa digunakan yaitu Masjid Amaliah Jalan Sakura Perumnas Helvetia. Hadir pada kesempatan tersebut yakni sebanyak delapan orang termasuk murabbi kami. Wah, delapan. Angka yang tepat nih. Masjid Istiqamah juga berdiri di Linkungan Delapan.

Dari kedelapan personel kami ini dapatlah tersebutkan nama-nama seperti: Wira Agus, Suprayogi, Yanuari D. Sapta, Amruzal, M. Sholeh, Hari, Harris dan Marzuki. Bertindak sebagai murobbi yaitu Amruzal. Moderator oleh Akhi Wira dan tadabur ayat oleh Akhi Suprayogi. Nah kali ini ada yang special yaitu Akhi Harris meluangkan sedikit makanan dari rumahnya berupa bubur yang sangat nikmat. Alhamdulillah.

Nah, sekarang lanjutkan ke materi ya. Berikut ini sekelumit materi yang dipersembahkan oleh Mr. Amruzal melalui laptop kantor kesayangannya. Semoga dapat diambil manfaatnya ya Sahabat!

Pada kesempatan kemarin malam antara lain disampaikan bahwa cirri-ciri orang yang beriman salah satunya yakni mereka yang senantiasa saling nasihat-menasihati. Hal ini tercantum jelas dalam Surat al-‘Ashr yang terjemahan lengkapnya sebagai berikut:

Demi massa (1). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2). kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3).

Selain itu amalan untuk saling nasihat menasihati sesama Muslim dapat dijadikan sebagai motivasi untuk menjaga keistiqomahan kita dengan semua yang pernah kita ucapkan. Dan kita akan sentiasa diingatkan kembali oleh Sahabat Muslim lainnya agar terhindar dari hal yang tidak diridhoi Allah. Amin.

Saat ini kita juga kerap kali melihat fenomena yang terbalik dengan prilaku Nabi Muhammad. Dimana Nabi Muhammad sudah sangat diakui kejujurannya. Hal ini dapat terjadi karena beliau sentiasa dapat menjaga perkataannya. Beliau hanya berkata yang baik-baik saja dan jikalau tidak dapat berkata yang baik maka lebih baiklah diam. Karena diam itu emas, bicara benar itu perak dan banyak bicara itu perunggu.

Sedangkan pada saat sekarang ini kejujuran sangatlah mahal harganya. Sedikit nasihat marilah kita memulai kejujuran dari hal-hal yang kecil agar terbiasa dengan hal-hal yang besar. Fenomena masyrarakat sekarang ini adalah mudahnya mereka terjebak dalam hal-hal yang irasionil.

Selain hal-hal diatas, disampaikan juga pada kemarin malam bahwa Iman tidak boleh hanya diucapkan saja. Janganlah kita menjadi orang yang hanya mengaku beriman. Tapi lebih dari itu haruslah dihujamkan kedalam hati yang terdalam hakikat keimanan itu. Dan selanjutnya direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Contohlah para sahabat yang sentiasa membuktikan keimanannya dalam tindakan nyata. Banyak para sahabat yang harus menerima deraan dari kafir Quraisy dikarenakan ikrar keimanan mereka. Resiko mengaku Islam pada saat tersebut adalah mati.

Sedangkan pada saat sekarang ini terutama di Indonesia, kita dapat bebas melaksanakan ibadah dan bahkan kita menjadi mayoritas di bumi ibu pertiwi. Maka janganlah sekali-sekali mengingkari keimanan kita dengan hanya mengaku Islam tetapi tidak melaksanakan syariatnya.

Ada hal lain yang menjadi ajang diskusi kami yang cukup seru yakni saat Mr. Amruzal menerangkan janganlah mengambil pemimpin dari orang kafir. Makna pemimpin juga berlaku untuk sahabat karib. Jadi kita tidaklah boleh menjadikan kafir sebagai sahabat karib kita sementara masih banyak saudara seakidah kita yang berada didekat kita.

Kita wajiblah sentiasa mempererat tali silaturrahim. Fenomena terpecabelahnya umat Islam sudah sering kita dengar. Hanya karena berbeda mazhab, silaturrahim dapat terputus. Janganlah hal tersebut sampai terjadi. Amin. Karena bukanlah menjadi permasalahan mazhab apa yang dianut saudara seakidah kita selama masih mengakui al-Quran dan Hadist sebagai dustur dan petunjuk dalam hidupnya.

Sekian saja ya Sahabat! semoga bisa bermanfaat. Dan tetap teruskan perjuanganmu untuk menggaungkan kalam Ilahi.

Materi 4

Filosofi dan Hikmah Wakaf

Syari’at Islam secara garis besar meliputi dua aspek, yakni (1) ajaran yang murni merupakan hubungan antara manusia dengan Allah, yang disebut ibadah, seperti shalat dan puasa, (2) ajaran yang murni merupakan hubungan antarmanusia (hubungan sosial), yang disebut mu’amalah (dalam arti luas), seperti hukum tentang perdagangan, keuangan, perbuatan kriminal dan sebagainya.

Di samping itu, terdapat juga ajaran yang merupakan ibadah berdimensi sosial, yakni zakat dan wakaf.

Dalam fiqh klasik pembagian ini terdiri atas: `ibadat, munakahat, mu’amalat, dan jinayat. Namun pada masa kini, istilah munakahat sering disebut sebagai al-ahwal al-syakhshiyyah (hukum perorangan), yang meliputi perkawinan, kewarisan, dan zakat-wakaf.

Ajaran-ajaran atau hukum-hukum tersebut pada umumnya mengandung filosofi atau hikmah yang rasional (ma’qul al-ma’na atau ta’aqquli). Hanya sedikit sekali ajaran yang bersifat suprarasional (ghair ma’qul al-ma?na), hanya semata-mata sebagai penghambaan manusia kepada Allah (ta’anbudi), yakni hanya ajaran yang merupakan ibadah mahdhah (murni).

Sebagai ibadah yang berdimensi sosial, maka wakaf mempunyai filosofi dan hikmah yang sangat rasional bermanfaat bagi kehidupan umat. Manfaat ini sudah terbukti dalam sejarah umat Islam, sejak awal sampai kini.

Hal tersebut memang sangat tergantung kepada kemampuan umat sendiri untuk mengaktualisasikan filosofi dan hikmah wakaf dalam kehidupan umat.

Kini manfaat atau hikmah ini belum diwujudkan secara optimal, yang disebabkan beberapa faktor, baik bersifat internal maupun eksternal.

Akan tetapi faktor internallah yang lebih menentukan potensi wakaf itu belum aktualisasikan sepenuhnya dalam kehidupan umat, misalnya kurangnya perhatian terhadap potensi wakaf, dan terbatasnya kemampuan para pengelola (nazhir) wakaf untuk mendayagunakan secara efektif dan produktif.

Jika ditelisik, wakaf (endowment) secara umum sebenarnya sudah ada sebelum masa Nabi Muhammad SAW. Pada masa Fir’aun di Mesir, misalnya, masyarakat telah mengenal praktik wakaf dalam kehidupan sehari-hari.

Bentuknya berupa tanah pertanian, yang diwakafkan oleh penguasa atau orang-orang kaya dan dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Lalu hasilnya digunakan untuk berbagai kepentingan umum.

Ensiklopedia Grolyier International menyebutkan, praktik wakaf seperti itu juga telah dikenal oleh masyarakat Yunani dan Romawi.

Kedua negara tersebut juga telah mempraktikkan jenis filantropi ini untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan perpustakaan yang dapat diakses oleh masyarakat umum.

Kini beberapa universitas besar di negera-negara Barat, terutama Amerika Serikat, juga menjadikan wakaf (endowment) untuk pembiayaan pendidikan, riset (penelitian), sarana dan prasarana pendidikan serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena besarnya manfaat wakaf ini, maka wakaf tidak cukup hanya dipahami sebatas aturan atau hukumnya saja, tetapi juga filosofi dan hikmahnya, sehingga pengumpulan harta wakaf dan pendayagunaannya bisa dilakukan seoptimal mungkin.

Wakaf sebagai ibadah sosial
Ibadah sosial adalah jenis ibadah yang lebih berorientasi pada habl min al-nas, hubungan manusia dengan lingkungannya, atau biasa juga disebut kesalehan sosial. Ini adalah satu paket dalam kesempurnaan ibadah seorang hamba di samping kesalehan dalam ibadah vertikal, habl min Allah. Keduanya ibarat dua keping mata uang yang tak terpisahkan.

Wakaf, dalam konteks ini, masuk dalam kategori ibadah sosial. Dalam pandangan agama, wakaf adalah bentuk amal jariah yang pahala akan terus mengalir hingga hari akhir, meski orangnya telah tutup usia.

Rasulallah SAW bersabda, “Apabila anak Adam meninggal maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Imam Nawawi dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim menjelaskan, yang dimaksud dengan shadaqah jariyah adalah wakaf. Sedangkan yang dimaksud wakaf adalah menahan harta dan membagikan (memanfaatkan) hasilnya.

Wakaf mempunyai derajat khusus, karena ia mempunyai manfaat yang besar bagi kemajuan umat. Maka suatu hal wajar apabila wakaf disamakan statusnya dengan ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya. Itulah keistimewaan wakaf, yang tidak dimiliki amal ibadah lain.

Wakaf disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriyah. Para `ulama berpendapat bahwa pelaksanaan wakaf pertama dilakukan oleh Umar ibn Khaththab terhadap tanahnya yang terletak di Khaibar (Tafsir Ibnu Katsir Juz I 381; Fiqh al-Sunnah, jilid III: 381; Subul al-salam: 87).

Menurut keterangan Ibnu Umar, shahabat Umar ibn Khaththab menyedekahkan hasil wakafnya itu kepada fakir miskin, shahabat, hamba sahaya, sabilillah, ibnu sabil, dan kepada para tamu.

Pendapat lain mengatakan, wakaf pertama kali dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap tanahnya yang digunakan untuk masjid Quba di Madinah, sebagaimana riwayat yang disebutkan oleh Umar ibn Sya’bah dari Amr ibn Sa’ad ibn Muadz, berkata: “Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam, orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedang orang-orang Anshor mengatakan wakaf Rasulullah SAW .” (Asy-Syaukani 1374 H: 129)

Dalam sejarah peradaban Islam, wakaf banyak digunakan untuk amal sosial atau kepentingan umum, sebagaimana dilakukan oleh sahabat `Umar ibn Khaththab. Beliau memberikan hasil kebunnya kepada fakir miskin, ibnu sabil, sabilillah, para tamu, dan hamba sahaya (budak) yang sedang berusaha menebus dirinya.

Wakaf ini ditujukan kepada umum, dengan tidak membatasi penggunaannya, yang mencakup semua aspek untuk kepentingan dan kesejahteraan umat manusia pada umumnya.

Kepentingan umum itu kini bisa berupa jaminan sosial, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Hal tersebut merupakan salah satu segi dari bentuk-bentuk penggunaan wakaf membelanjakan atau memanfaatkan harta di jalan Allah SWT melalui pintu wakaf.

Dengan demikian, dilihat dari segi manfaat pengelolaannya, maka wakaf sangat berjasa besar dalam membangun berbagai sarana untuk kepentingan umum demi kesejahteraan umat.

Wakaf mengalirkan pahala tiada akhir
Dalil yang menjadi dasar keutamaan ibadah wakaf dapat kita lihat dari beberapa ayat Al-Quran dan Hadits. Antara lain, pertama, surat Ali Imran ayat 92.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahui”.

Kedua, surat al-Baqarah ayat 261. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir tumbuh 100 biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki, Dan Allah Maha Kuasa (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Ketiga, hadits tentang shadaqah jariyah, sebagaimana telah disinggung di atas. Dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila anak Adam meninggal dunia maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya.” Hadits ini dikemukakan dalam bab wakaf, karena shadaqah jariyah oleh para ulama ditafsirkan sebagai wakaf.

Di antara para ulama yang menafsirkan dan mengelompokkan shadaqah jariyah sebagai wakaf adalah Asy-Syaukani, Sayyid Sabiq, Imam Taqiyuddin, dan Abu Bakr.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, para ulama sepakat bahwa yang dimaksud shadaqah jariyah dalam hadits tersebut adalah wakaf. Itulah antara lain beberapa dalil yang menjadi dasar hukum disyariatkannya wakaf dalam Islam.

Kemudian dari segi keutamaannya, Syaikh Abdullah Ali Bassam berkata, “wakaf adalah sedekah yang paling mulia. Allah SWT menganjurkannya dan menjanjikan pahala yang sangat besar bagi yang berwakaf, karena sedekah berupa wakaf tetap terus mengalirkan kebaikan dan mashlahat”?

Ada pun keutamaan wakaf ini bisa dilihat dari dua sisi yang berbeda. Bagi penerima hasil (mauquf alaih), wakaf akan menebarkan kebaikan kepada pihak yang memperoleh hasil wakaf dan orang yang membutuhkan bantuan, seperti fakir miskin, anak yatim, korban bencana, orang yang tidak punya usaha dan pekerjaan, orang yang berjihad di jalan Allah .

Wakaf juga memberi manfaat besar untuk kemajuan ilmu pengetahuan, seperti bantuan bagi para pengajar dan penuntut ilmu, serta berbagai pelayanan kemaslahatan umat yang lain.

Sementara itu, bagi pewakaf (wakif), wakaf merupakan amal kebaikan yang tak akan ada habisnya bagi orang yang berwakaf. Oleh karena itu , barang yang diwakafkan itu tetap utuh sampai kapan pun. Di samping utuh, barang tersebut juga dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan umum.

Dengan begitu, pahala yang dihasilkan terus mengalir kepada wakif, meskipun ia sudah meninggal dunia. Hal inilah yang membedakan keutamaan wakaf dibanding dengan ibadah lainnya yang sejenis, seperti zakat.

Beberapa penjelasan tersebut menunjukkan, bahwa melaksanakan wakaf bagi seorang muslim merupakan realisasi ibadah kepada Allah melalui harta benda yang dimilikinya, yaitu dengan melepas benda yang dimilikinya (private benefit) untuk kepentingan umum (social benefit).

Jadi, wakaf adalah jenis ibadah yang istimewa dan utama bagi orang yang beriman dan beramal saleh. Hanya dengan memberikan harta untuk wakaf, maka manfaat dan hasilnya dapat terus berlipat tanpa henti.

Jika disederhanakan, filosofi orientasi dan hikmah dalam wakaf itu terdapat tiga poin. Pertama, wakaf untuk sarana prasarana dan aktivitas sosial. Kedua, wakaf untuk peningkatan peradaban umat. Dan ketiga, wakaf untuk meningkatkan kesejahteraan umat.

Sarana ibadah dan aktivitas sosial
Sebenarnya wakaf sudah dikenal dalam masyarakat Arab kuno di Makkah sebelum kedatangan Muhammad SAW . Di tempat itu, terdapat bangunan ka’bah yang dijadikan sarana peribadatan bagi masyarakat setempat.

Al-Quran menyebutnya sebagai tempat ibadah pertama bagi manusia, yakni Q.S. Ali Imran ayat 96: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia adalah Baitullah (Ka’bah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”.

Oleh karena itu, bisa dikatakan, ka’bah merupakan wakaf pertama yang dikenal manusia dan dimanfaatkan untuk kepentingan agama.

Sementara itu, dalam Islam, tradisi ini dirintis oleh Rasulullah Muhammad SAW yang membangun masjid Quba di awal kedatangannya di Madinah. Peristiwa ini dijadikan sebagai penanda wakaf pertama dalam Islam untuk kepentingan peribadatan dalam agama.

Ini terjadi tak lama setelah Nabi hijrah ke Madinah. Selain itu, Nabi juga membangun Masjid Nabawi yang didirikan di atas tanah anak Yatim dari bani Najjar. Tanah itu telah dibeli Nabi dengan harga 800 dirham. Langkah ini menunjukkan, bahwa Nabi telah mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid sebagai sarana peribadatan umat Islam.

Hal tersebut kemudian ditetapkan sebagai ibadah, yang diteladani umat Islam di segala penjuru. Maka tak heran kalau kini banyak ditemukan masjid hasil wakaf. Di antara masjid-masjid masyhur di dunia yang dikelola dengan wakaf, antara lain, Masjid Al-Azhar dan Masjid Al-Husain di Mesir, Masjid Umawi di Suriah , dan Masjid al-Qairawan di Tunis. Masjid-masjid itu tak hanya digunakan sebagai sarana ibadah, tapi juga sebagai tempat dakwah dan pendidikan Islam serta pelayanan umat dalam bidang-bidang lainnya.

Peningkatan peradaban umat
Masjid sebagai harta wakaf di masa awal Islam mempunyai peran yang signifikan. Selain sebagai sarana ibadah, ia juga digunakan untuk pendidikan dan pengajaran, yang biasa disebut dengan halaqah, lingkaran studi. Kegiatan ini tak lain merupakan bagian dari upaya mencerdaskan dan membangun peradaban umat. Di tempat itu, diajarkan cara membaca al-Quran dan menulis. Di samping itu, didirikan pula katatib, sejenis sekolah dasar yang mengajarkan membaca, menulis, bahasa arab, dan ilmu matematika.

Kemudian dari masjid-masjid itu lahirlah beribu-ribu sekolah (madrasah) yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar. Itu adalah bagian dari keberhasilan umat Islam dalam mengelola harta hasil berderma. Satu misal, kerajaan Bani Abasiyah mempunyai tiga puluh diwan (kementerian) dalam pemerintahannya. Namun dari 30 diwan itu tidak ada satupun yang mengurus tentang pendidikan, karena pendidikan dikelola dengan baik dan didanai secara cukup oleh wakaf. Bahkan, hal sekecil apapun yang terkait dengan pendidikan juga disediakan, apalagi fasilitas pokok lainnya.

Abdul Qadir Anna?imy (wafat 927 H) menjelaskan dalam kitabnya, Addaaris Fittaarikh Al Madaris, bahwa wakaf pada saat itu banyak yang dikhususkan untuk membeli alat-alat gambar untuk para pelajar dari pemuda-pemuda Makkah dan Madinah. Bahkan Ibnu Ruzaik telah mewakafkan harta untuk menyediakan pulpen, kertas, dan tinta. Harta hasil wakaf umat Islam, kala itu, juga banyak digunakan untuk kegiatan ilmiah. Misalnya, Ibnu Ala Almaary setelah tamat belajar pada sekolah yang didanai wakaf di kota Halab, dia pergi ke Bagdad untuk menambah wawasan dan melakukan penelitian, serta bergabung dalam diskusi-diskusi umum dan filsafat. Walaupun ia mensosialisasikan pemikiran filsafatnya yang di antaranya bertentangan dengan opini keagamaan yang berlaku pada saat itu, ia tetap mendapatkan subsidi dari wakaf dan tidak dihentikan.

Selain Ibnu Ala Almaary, seorang ahli ilmu matematik, ilmuwan lain yang mendapatkan biaya dari harta wakaf adalah Yusup murid Imam Abu Hanifah yang menjabat sebagai qadha qudhat (hakim agung kerajaan Bani Abasiah), Muhammad Alkhawarijmy seorang ahli ilmu aljabar, Ibnu Sina seorang ahli kedokteran, Ibnu Hisyam seorang ahli optik, dan lainnya.

Satu hal yang yang perlu dicatat dari perilaku ilmuwan-ilmuwan yang hidup dan besar dari wakaf adalah semangat mereka untuk mencari kebenaran.

Lembaga wakaf yang telah mendanainya tidak mengikat dan mengharuskan mereka untuk membawa misi tertentu. Namun para ilmuwan itu siap mensosialisasikan hasil penelitiannya kepada masyarakat umum dengan motivasi semata-mata karena Allah.

Dalam sejarah, wakaf model ini termasuk di antara manfaat wakaf yang paling mendapat perhatian besar dari umat Islam. Hampir di setiap kota besar di negara-negara Islam, bisa dipastikan, terdapat sekolah, universitas, perpustakaan, dan Islamic centre dari hasil wakaf, seperti di Damaskus, Baghdad, Kairo, Asfahan, dan berbagai tempat lain.

Wakaf untuk kegiatan ilmiah tersebut kini tetap dilaksanakan, terutama dalam bentuk beasiswa, gaji pengajar, biaya penelitian (riset), penyediaan sarana dan prasarana pendidikan, seperti perpustakan dan alat-alat laboratorium, dan sebagainya. Salah satu contoh wakaf untuk kepentingan ilmiah adalah Universitas al-Azhar di Mesir yang berdiri lebih dari 1000 tahun lalu. Hingga kini pembiayaan universitas kebanggaan umat Islam itu dikelola dari harta wakaf. Hal semacam ini juga terjadi di seluruh dunia Islam pada masa kini, termasuk di Indonesia, walau pemanfaatnya belum optimal.

Peningkatan kesejahteraan umat
Kalau ditarik benang merah dari beberapa pembahasan di atas, maka akan tampak jelas, bahwa hikmah lain disyariatkannya wakaf adalah untuk menyejahterakan kehidupan manusia secara umum.

Hal ini sejalan dengan pandangan ulama Al-Azhar Mesir Ali Ahmad al-Jurjawi, penulis Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuhu. Menurut dia , wakaf seharusnya mampu mengurangi kesenjangan sosial antara si kaya dengan si miskin, serta dapat meningkatkan taraf hidup manusia.

Allah berfirman dalam al-Quran, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai”.(QS. Ali Imran: 92).

Ketika ayat itu turun, sahabat Nabi Abu Thalhah berkata, Wahai Rasul Allah, saya ingin mendermakan kebunku karena Allah. Kemudian, Nabi menasehatinya agar kebun tersebut didermakan untuk kepentingan orang-orang fakir miskin.

Kemudian Umar ibn Khattab pun melakukan hal yang sama. Sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari Ibn Umar, ia berkata “Umar mempunyai tanah di Khaibar, kemudian ia datang kepada Rasulullah SAW . meminta untuk mengolahnya, sambil berkata: Ya Rasulullah, aku memiliki sebidang tanah di Khaibar, tetapi aku belum mengambil manfaatnya, bagaimana aku harus berbuat? Rasulullah bersabda: Jika engkau menginginkannya tahanlah tanah itu dan shadaqohkan hasilnya.

Tanah tersebut tidak boleh dijual atau diperjualbelikan, dihibahkan atau diwariskan. Maka ia menshadaqahkannya kepada fakir miskin, karib kerabat, budak belian, dan ibnu sabil. Tidak berdosa bagi orang yang mengurus harta tersebut untuk menggunakan sekedar keperluannya tanpa maksud memiliki harta itu?

Wakaf untuk kesejahteraan umum ini, kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk. Pertama, wakaf untuk fasilitas umum, seperti wakaf sumur dan sumber mata air. Ini bisa dijumpai di tepi-tepi jalan yang bisa menjadi lalu lintas jamaah haji yang datang dari Irak, Syam, Mesir, dan Yaman, serta kafilah yang bepergian menuju India dan Afrika.

Di antara sumur-sumur itu, terdapat wakaf sumur Zubaidah, isteri Harun al-Rasyid, khalifah pemerintahan Abbasiyah. Yang termasuk bentuk ini adalah wakaf jalan dan jembatan.

Kedua, wakaf khusus untuk bantuan orang-orang fakir miskin. Wakaf ini seperti yang digambarkan dalam hadits di atas. Hasil pengelolaannya digunakan untuk pemberdayaan masyarakar yang masuk kategori fakir dan miskin.

Wujud dari wakaf ini kini bisa beraneka ragam, ada yang diwujudkan dalam bantuan beasiswa, pengobatan gratis, balai pendidikan dan pelatihan cuma-cuma, bantuan permodalan dan sebagainya.

Ketiga, wakaf untuk pelestarian lingkungan hidup. Wakaf ini menunjukkan bahwa kesejahteraan manusia juga harus didukung keseimbangan ekosistem dan lingkungan hidup di sekitar. Perbaikan masyarakat tanpa dibarengi pelestarian lingkungan, tentu perbaikan tersebut berjalan dengan paradoks.

Karena itu, harus seimbang, misalnya, wakaf tanah terbuka hijau di tengah perkotaan, wakaf sungai dan saluran air, serta wakaf untuk burung-burung merpati seperti di Masjidil Haram, Makkah.

Beberapa kutipan hadits dan uraian di atas mempertegas, bahwa wakaf mempunyai dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Perkebunan yang dijadikan contoh di atas dikelola dengan baik, dan hasilnya diberikan kepada orang-orang membutuhkan, terutama orang-orang miskin untuk memenuhi kebutuh dasar mereka, sehingga mereka tidak sampai kelaparan.

Wakaf bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat, dan pahalanya terus mekar sebagai bekal investasi kelak di akhirat.

[Penulis adalah Kepala Divisi Humas Badan Wakaf Indonesia].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s